Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Martabak Telur Special


__ADS_3

Inilah saatnya, waktu yang harus di mulai untuk berjuang, berjuang mendapatkan istrinya. Ia mengikuti cara yang di sarankan oleh sekretaris Frans, yaitu memotong rambutnya. Bagas memilih gaya rambut cepak, karena itu lebih terlihat rapi.


Bagas yang baru saja selesai dan keluar dari salon, terlihat lebih beda. Jauh lebih tampan dari sebelum ia potong rambut. Penampilan dengan gaya barunya membuat beberapa wanira yang melintas di depan salon langsung terpikat dengan pesonanya. Senyuman ia pasangkan di wajahnya untuk menambah ketampanannya.


Sekretaris Frans pun yang menunggu di dalam mobil ikut terhipnotis oleh penampilan tuannya ketika melihat dia telah keluar dari salon itu. Ia baru menyadari kalau tuannya itu sangat tampan walaupun usianya yang sudah mau menginjak 35 tahun. Rasanya Bagas masih terlihat abg yang baru umur sekitar 25 tahunan.


Bagas masuk ke dalam mobil, lalu menanyakan gaya rambut barunya pada sekretaris Frans.


"Frans"


"Iya, tuan"


"Bagaimana, sekarang sudah ok?"


Sekretaris Frans menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum, "anda terlihat jauh lebih tampan, tuan. Dengan demikian, nona pasti tidak akan memalingkan pandangannya ketika sudah bertemu denganmu"


Mendengar pujian sekretaris Frans barusan, dengan sombongnya Bagas bilang, "aku memang tampan, Frans! Kemana aja dari kemarin? Baru sadar, ya? Haha"


Sekretaris Frans tersenyum, huh mulai deh mulai tuan. Sifat sombongmu memang sudah melekat ke darah daging.


"Frans"


"Iya, tuan"


"Aku rasa sekarang aku adalah orang yang paling tampan. Ya, minimal se-ASIA lah. Haha"


Sekretaris Frans mengiyakan saja, seolah-olah ia menyetujui pengakuan Bagas yang katanya paling tampan se-ASIA itu. Setidaknya sekretaris Frans tidak ingin merusak kebahagian yang sedang di rasakan tuannya.


*****


Karena hari semakin gelap, Bagas meminta sekretaris Frans untuk cepat mengantarkannya pulang saja. Lagian, Bagas sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang pujaan hatinya. Lebih tepatnya, ia ingin segera melihat ekspresi istrinya ketika ia melihat penampilan dengan gaya rambut barunya itu.


Tapi di tengah perjalanan, Bagas meminta sekretaris Frans untuk meminggirkan mobilnya. Ketika ia melihat banyak sekali pedagang pinggir jalan, ia jadi ingat dengan istrinya. Istrinya yang begitu sederhana pasti akan lebih menyukai ketika di bawakan makanan yang ia beli di pinggir jalan. Yang katanya rasanya tidak kalah enak dengan makanan restaurant.


Bagas melihat ke pedagang yang di kerumuni banyak orang dan terdapat antrian panjang.


Bagas berpikir, kok bisa ya, ada antrian sepanjang itu? Memangnya itu makanan apa, seenak apa, sampai di antri oleh orang sampai 10 meter. Panjang banget juga, ya.


"Frans"


"Iya, tuan"

__ADS_1


"Kau lihat itu?!" Bagas menunjuk ke antrian panjang.


Sekretaris Frans menoleh, "tentu saja, tuan"


"Sekarang kau turun! Cari tahu sebenarnya apa yang mereka antrikan?!"


Heh?! Untuk apa? Pikir sekertaris Frans merasa terkejut.


Sekretaris Frans mau bagaimanapun menurut saja dengan tuannya, dia memang harus benar-benar mengabdikan dirinya untuk tuannya. Ia membuka sabuk pengaman lalu turun.


Sekretaris Frans kemudian mendekat ke antrian, ia berpapasan dengan orang yang baru saja mendapatkan apa yang sudah ia antrikan. Kemudian sekteratis Frans menanyakan seputar informasi dengan apa yang mereka antrikan.


Setelah mendapat informasi mengenai antrian tersebut, sekretaris Frans kembali ke mobil.


"Jadi apa yang mereka antrikan, Frans?"


"Martabak telur, tuan"


Sedetik kemudian Bagas tertawa terbahak-bahak. Padahal tidak ada lucu di balik jawaban sekretaris Frans.


"Hanya martabak telur?"


"Iya, tuan"


"Itu di buat dari telur angsa, tuan?"


"What?" Bagas sontak kaget, telur angsa? Emang bisa? Wah gila nih pedagang, dapat inspirasi dari mana bikin martabak telur dari telur angsa.


"Aku jadi penasaran. Kira-kira kalau aku ikut antri pasti aku akan mendapatkannya besok pagi. Tapi tenang saja, tuan tajir dapat melakukan apa saja. Jangankan martabak telur? Gerobaknya aja aku beli sekalian sama pedagangnya!"


Sekretaris Frans tersenyum mendengar kesombongan tuannya yang menurutnya itu hal bodoh.


Bagas nyaris turun dari mobil, tapi sekretaris Frans segera mencegahnya.


"Tunggu, tuan!"


Bagas tidak jadi membuka pintu mobil.


"Ada apa, Frans?"


"Saya tahu anda bisa melakukan apa saja, tapi saya punya saran agar anda cepat mendapatkan martabak telur itu!"

__ADS_1


"Katakan!"


Kemudian sekretaris Frans memberikan sebuah ide emas agar Bagas cepat mendapatkan martabak telur angsa itu tanpa mengantri. Bagas langsung setuju, mengangguk-anggukan kepalanya dan sangat kagum dengan sekretaris Frans yang ternyata dia benar-benar jenius.


Bagas langsung turun dari mobil, melewati sepanjang antrian yang 70% di antaranya adalah para kaum hawa. Entah telah Tuhan beri mimpi apa semalam sampai mereka harus bertemu dengan sang tuan yang terlihat tampan. Banyak juga yang mengenal diri Bagas sebagai tuan tajir melintir, dari sosial media. Bagas memang terkenal dengan ketajirannya. Mereka tidak menyangka ternyata tuan tajir itu lebih tampan di banding fotonya. Mungkin karena Bagas yang baru saja potong rambut itu.


Mereka terpesona melihat ketampanan sang tuan tajir ketika melewati mereka. Bagas juga seakan sengaja menebar pesonanya kepada mereka. Ada yang sampai ngiler karena melongo melihatnya, ada yang sampai memukul dirinya sendiri untuk memastikannyang di lihat itu mimpi atau bukan.


Bagas langsung menghampiri sang penjual martabak telur itu yang kebetulan sedang membungkusnya.


"Pak"


Pedagang itu menoleh, dari penampilanya sang penjual itu sudah dapat menebak kalau Bagas bukan orang sembarangan.


"Saya pesan satu tapi saya butuh sekarang untuk istri saya yang sedang hamil! Bisa kan di buatkan sekarang juga tanpa harus ikut mengantri?!"


Pak penjual itu menganggukan kepalanya, menggunakan bahasa tubuh untuk menyiyakan permintaan Bagas.


"Ya sudah, ini!" pak penjual martabak telur angsa itu langsung memberikan yang baru saja ia bungkus.


Bagas merasa menang karena telah berhasil mengelabui pak penjual itu dengan ide yang di berikan sekretaris Frans. Bagas kembali ke dalam mobil setelah mendapatkan lalu membayarnya.


"Kau lihat!" Bagas memperlihatkan apa yang ia bawa kepada sekretaris Frans.


"Aku berhasil mendapatkannya tanpa harus mengantri sepanjang 10 meter!"


"Bagus kalau begitu, tuan. Oh iya, kalau begitu lebih baik anda harus segera sampai rumah, karena takutnya martabaknya akan segera dingin!"


"Kau kan yang menyetir, Frans! Kenapa kau tidak langsung jalankan saja mesinnya!"


"Baik, tuan! Saya pikir anda akan membeli sesuatu lagi untuk nona"


"Tidak ada. Yang ini saja ku rasa cukup spesial. Cepat jalankan!"


"Baik, tuan"


Kemudian sekretaris Frans langsung menghidupkan mesin, lalu menjalankan mobilnya. Sekretaris Frans yang melihat ekspresi tuannya itu betul-betul senang. Karena ia tidak pernah menemukan ekpresi seperti itu di wajah tuannya.


Wajah bahagia terpancar dalam wajah Bagas. Ia pasti akan lebih bahagia apabila istrinya bahagia melihat penampilan barunya, di tambah membawakan sesuatu yang spesial. Spesial itu ternyata bukan berarti mahal ya. Itu membuat Bagas sadar juga, sesuatu itu tidak harus di ukur menggunakan uang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2