Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Sakitnya di Bentak Anak


__ADS_3

Pagi harinya, setelah selesai sarapan, Rania dan Bagas sudah tampak rapih memakai pakaian kerja. Sekretaris Frans dan pak sopir sudah menunggunya di halaman rumah.


"Kau pergi ke ruko naik apa?" tanya Bagas menghentikan langkahnya ketika jarak berdiri mereka dengan mobil kira-kira 3 meter.


"Naik angkot"


"What? Kau naik angkot?" Bagas tidak percaya kalau istrinya suka naik angkutan umum, padahal sopir di sana banyak dan mengantar tuan dan nonanya kemanapun ia pergi.


"Iya" angguk Rania tanpa beban.


"Kenapa harus naik angkot? Aku kan punya mobil yang jumlahnya bahkan tidak terhitung. Sopir juga banyak yang bisa mengantarmu kemanapun dan kapanpun kau akan pergi"


"Aku sudah terbiasa naik angkot kemana-mana"


Bagas berdiri berhadapan dengan Rania dan memegang kedua bahu istrinya.


"Mulai sekarang, mulai hari ini, detik ini, aku tidak mau dengar kau naik angkot lagi! Kalau sampai ada yang tahu kau itu istriku, istri seorang tuan tajir yang tajirnya minta ampun, apa kata mereka? Di sangkanya nanti aku yang pelit tidak bertanggung jawab"


Rania hanya diam mendengar ucapan suaminya, dengan mencerna kata-katanya tersebut. Sebenarnya Bagas memperdulikan istrinya atau kehormatannya. Delapan puluh persen Rania berpikir kalau Bagas hanya mementingkan dirinya yang tidak mau image-nya rusak jika ada orang lain melihat ia naik angkot dan tahu ia istrinya tuan tajir. Dua puluh persen lagi Bagas memang memperdulikannya. Mungkin.


"Sekarang kau ikut saja denganku, nanti kau akan di antar duluan. Besoknya kau bisa pakai sopir untuk mengantar dan juga menjemputmu. Kau mengerti?"


"Hem"


Sekretaris Frans dan pak sopir yang berdiri di sana bersiap membukakan pintu untuk tuannya, mendadak seolah-olah mereka seperti figuran dalam sebuah adegan film, karena melihat tuan dan nonanya begitu sweet. Selang beberapa detik, Bagas merangkulkan tangannya ku bahu Rania untuk masuk ke dalam mobil. Pak sopirpun langsung membukakan pintu mobilnya. Di susul oleh sekretaris Frans masuk ketika tuan dan nonanya sudah berada di dalam mobil. Mesin mobil di hidupkan kemudian di jalankan.


*****


Di ruko tempat usaha Rania, di sana para pekerjanya sudah datang, ada yang masih sarapan di sana, ada juga yang sudah mulai mengemas barang begitu mereka mendapat orderan.


Dua orang pekerja perempuan yang sedang sarapan duduk di kursi depan ruko, ada Reyhan juga ikut duduk bersama mereka. Sebelumnya tidak ada pembicaraan di antara mereka, tapi salah satu pekerja yang bernama Iren membuka percakapan.


"Pak Reyhan.." panggilnya dengan ragu, Reyhan yang semula memandang layar ponsel melirik ke pekerja yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Iya, ada apa?" jawab Reyhan dengan tangan berusaha memasukan ponsel ke dalam saku celana.


"Em.. Saya boleh tanya sesuatu gak?"


"Apa? Katakan saja!" pinta Reyhan.


"Menurut pak Reyhan, em... Bu Rania cantik gak?" tanyanya membuat Reyhan seketika terdiam dan tersenyum.


"Memangnya kenapa?"


"Saya cuma nanya pak, maaf jika pertanyaan saya lancang" Iren menundukkan kepalanya.


Reyhan terlihat berpikir, kemudian mengatakan, "cantik!" membuat Iren dan temannya semakin semangat untuk menanyakan pertanyaan lain.


"Pak Reyhan suka, ya, sama bu Rania?" tuduhnya dengan di tambahin kata cie..cie.. Biasalah remaja +62 memang suka begitu.


"Hus.. Kalian ini! Lebih baik kalian cepat habiskan sarapannya, lalu cepat gabung sama mereka yang sudah mengemas barang!"


"Baik, pa" jawab mereka kompak, dengan cepat mereka menghabiskan sarapannya dan segera masuk ke dalam.


Di dalam mobil silver tersebut, adalah Bagas dan Rania. Bagas melihat Reyhan ada di sana, sebetulnya ia begitu cemburu jika istrinya dekat dengan pria lain, tapi dia sudah berjanji mengizinkan Rania masih bekerja sama dengan Reyhan. Hanya sebatas partner kerja, tidak lebih, dan di usahakan gak usah berlebihan.


"Tunggu!" Bagas menghentikan Rania yang nyaris membuka pintu mobil akan turun.


"Apa?"Rania menoleh.


"Jangan terlalu dekat dengan dia!" Bagas menunjuk pada Reyhan, "kau harus ingat! Kau sudah mempunyai suami yang begitu tajir, dan juga tampan se-ASIA ini. Harusnya kau bersyukur, jangan dekat-dekat lagi dengan pria lain!"


"Iya... Tuan sombong" makinya sambil membuka pintu.


"Hey, kau bilang apa?" teriak Bagas karena Rania sudah turun dari mobil.


*****

__ADS_1


Di tempat kediaman bu Sari, Radit dan bu Sari sedang duduk di ruang tengah. Bu Sari terus memperhatikan putra sulungnya yang sedari tadi asik tertawa terbahak dan heboh sendiri memainkan game online.


"Radit, kamu gak bekerja, nak?" pertanyaan sang ibu tidak membuat putranya menoleh, Radit terpaku pada ponsel yang sedang ia mainkan.


"Radit tukeran shift sama yang lain, bu. Males bangun pagi cuma buat kerja jadi OB dari dulu, gak ada perubahan" katanya menggerutu tanpa memalingkan pandangan dari layar ponsel, jarinya semakin lincah ia mainkan.


"Radit, dengarkan ibu, nak! Kamu tidak boleh seperti itu, kamu harus bersyukur masih punya pekerjaan. Lihat banyak orang di luaran sana yang masih pengangguran menginginkan pekerjaan! Sudah berapa kali ibu bilang, kamu tuh harus bersyukur!" tutur bu Sari terus menasihati putranya.


"Bu, Nadira aja yang baru masuk langsung di jadikan staf di sana. Masa, Radit yang sudah bekerja bertahun-tahun masih aja jadi OB, kalau begitu mau kapan majunya?"


"Kamu harus bersyukur, nak!"


Merasa seperti di ceramahi, Radit mematikan ponselnya.


"Bu, sudah ibu diam saja! Ibu itu tidak usah so'soan ngatur hidup aku, aku sudah dewasa dan aku berhak atas hidupku! Ibu tuh taunya cuma makan, gak tahu bagaimana susahnya cari duit. Gak usah so'soan merasa cukup!" bentak Radit kemudian ia beranjak dari kursi masuk ke kamar.


Kata-kata Radit barusan membuat hati bu Sari seketika sakit, dadanya sesak. Rasanya seperti di sayat-sayat. Kata-kata yang tidak seberapa tapi tidak akan pernah bisa di lupakan. Air mata bu Sari kembali menetes. Walaupun demikian, bu Sari tetap mendo'akan putranya agar cepat di naikan jabatan. Setidaknya Radit pasti akan bahagia. Seorang ibu memang tidak pernah dendam dengan apa yang anaknya lakukan. Bagaimanapun, seorang ibu berpikir, seburuk-buruknya dia, tetap anakku. Darah dagingku.


Seharusnya seorang anak tidak boleh mengatakan kata-kata seperti itu kepada sang ibu. Kata-kata yang begitu menyakitkan yang pernah di dengar, pantas saja jika Radit susah mendapat kebahagiaan dalam pekerjaan jika ia menyakiti hati seorang ibu.


.


.


.


.


.


.


Pelajaran apa yang dapat kalian ambil dari chapter ini? Tulis di kolom komentar, ya!

__ADS_1


Like, vote poin/koin. Tambahkan juga ke favorit.


__ADS_2