
Saat ini, Bagas dan Rania sedang berada di dalam mobil. Saling berdiam diri, membiarkan keheningan ikut menyelinap di antara mereka. Sesekali mata mereka bertemu, ketika saling melirik. Hanya senyum yang menghiasi bibir mereka berdua, seolah-olah mereka sedang tenggelam dalam lautan asmara.
Rania melirik ke kaca spion, ia melihat mobil di belakangnya seperti sedang mengikuti mobilnya. Entah kenapa ia mempunyai fikiran buruk seperti itu, tapi memang firasatnya mengatakan kalau mobil di belakang sedang mengikutinya. Kemudian Rania menoleh ke belakang, mobil itu tetap berada di belakang mobilnya walaupun mobil yang di kemudi Bagas sudah berbelok arah.
Hanya ada dua pilihan, kalau tidak searah, mobil itu benar sedang mengikuti Rania. Batin Rania dalam hati.
Bagas memperhatikan wajah istrinya yang nampak gelisah, yang terus melirik ke arah spion dan menoleh ke belakang.
"Kau kenapa? Aku perhatikan kau gelisah seperti itu!" pertanyaan Bagas memecah keheningan.
"Tidak apa-apa. Aku merasa gerah saja!" jawabnya bohong, ia tidak mau kalau kerucigaannya dengan mobil itu salah. Mungkin itu perasaannya saja yang berpikir buruk terlalu jauh.
"Gerah?" Bagas tersenyum kemudian, mengetahui kalau istrinya itu sedang membohonginya.
Aaaa, aku mengatakan apa barusan? Gerah? Bodoh sekali aku ini, dia pasti akan tahu kalau aku berbohong. Mana mungkin gerah, pendingin di mobil ini sudah membuatku merasa kedinginan. Bahkan tidak ada setitik keringat yang keluar dari pori-pori tubuhku.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Rania, padahal itu tidak harus ia tanyakan, Bagas betul-betul mengetahui kalau dirinya sedang berbohong.
"Kau terlihat lucu!" mencubit pipi istrinya kemudian dengan gemasnya. Sedangkan Rania menundukkan wajahnya karena malu.
Bagas mematikan pendingin udaranya, lalu membuka sedikit jendela mobil. Membiarkan udara masuk ke dalam mobil dan membuat mereka merasakan kesegaran alami. Kebetulan jalanan sedang lenggang, jadi tidak ada polusi, hanya ada udara segar.
"Bagaimana, apa kau masih merasa gerah?"
Dengan cepat Rania menggeleng, "tidak!"
"Baguslah. Lain kali aku tidak perlu menyalakan pendinginnya, biar jendela mobilnya saja yang di buka, agar kau tidak merasa gerah" ucapnya, membuat Rania ingin menyubit saja perutnya itu, karena Bagas pasti sedang meledek dirinya. Tapi itu segera ia urungkan, Bagas sedang menyetir, tidak baik jika bercanda lalu kehilangan kendali.
*****
"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rania, kini mereka berjalan kaki setelah Bagas memarkirkan mobil di tempat parkiran.
"Kau tidak perlu tahu, kau cukup tahu kalau kita sedang menghabiskan waktu berdua, di pulau Dewata" menoleh Rania yang terlihat bingung, sambil menatap ke beberapa tempat kuliner, tempat penjual oleh-oleh khas Bali mulai dari pakaian dan macam-macam manik-manik.
"Aku haus" Rania mengusap tenggorokannya, cuaca kali ini memang sedang panas, matahari begitu terik sehingga Bagas dan Rania harus mengenakan kacamata.
"Bagaimana kalau kita minum air kelapa muda saja" tawar Bagas kemudian menunjuk ke tukang penjual es kelapa muda, Rania mengangguk setuju.
Kemudian mereka berjalan menuju tempat penjual es kelapa muda yang tidak jauh dari sana, hanya berjarak beberapa meter saja dari sana.
Melihat calon pembelinya itu bukan orang sembarangan, dan seperti tidak asing baginya. Pedagang itu langsung membungkukan tubuhnya sekilas, seperti memberi hormat kepada Bagas.
__ADS_1
"Rupanya dia mengenalimu" bisik Rania di telinga Bagas.
"Seterkenal itukah aku?"
"Tidak perlu berpura-pura, kau memang terkenal dan kau bangga, kan?"
"Sekarang aku katakan tidak, repot juga ternyata di kenal banyak orang. Hidup tidak tentram jika ada awak media dan para penggemar!"
"Ini lebih baik dari perkiraan yang aku duga" kemudian menyubit ujung hidung Bagas pelan.
"Pak kelapa muda dua, ya!" pesannya segera di iyakan dan di buatkan.
Bagas dan Rania duduk berhadapan di bawah tenda payung, meskipun agak jauh dari pantai, namun mereka masih bisa menikmati keindahannya. Bagas masih trauma dengan kejadian kemarin yang membuat sang istri hampir kehilangan nyawa. Sedangkan Rania sendiri terlihat lebih santai daripada Bagas.
Saat pesanan sudah tiba di meja, langsung di terima dengan wajah bahagia oleh Rania. Ia langsung menghabiskan hampir separuh dari kelapanya langsung.
"Aku haus sekali, cuaca terik ini membuatku banyak kehilangan cairan" menyedot kembali air kelapanya sampai terdengar seruputan dari sedotan, menandakan benar-benar sudah habis.
"Mau tambah lagi?" tawar Bagas karena istrinya terlalu bersemangat ketika minum.
Ya aku memang haus, tapi aku bukan ember bocor juga yang gak cukup kelapa satu kepala.
Mata Rania kini tertuju pada deretan penjual manik-manik yang terlihat indah. Beragam manik-manik ada di sana. Rasanya ia ingin sekali melihat-lihat, bukan hanya sekedar melihat, ingin membelinya juga.
"Kau sudah menghabiskannya?" tanya Rania ketika melihat Bagas yang masih menyedot air kelapanya. Namun Bagas menggeleng, itu artinya dia belum juga menghabiskan air kelapa itu. Payah.
"Memangnya kenapa?" Bagas menarik bibirnya dari sedotan, menoleh ke arah yang Rania tunjuk.
"Kau mau itu?" sebuah pertanyaan yang mendapat anggukan cepat oleh Rania.
"Boleh?"
"Tentu saja. Ayo!"
Mereka berdiri dari kursi, meninggalakn tenda payung dan pergi ke tempat deretan penjual manik-manik setelah membayar tagihan.
Rania berjalan, terus melihat aneka macam barang yang terbuat dari manik-manik. Mulai dari set perhiasan sampai gantungan kunci. Ada juga gantungan mimpi indah, sebuah benda berbentuk lingkaran dengan jaring-jaring di tengahnya di sebut sebagai penangkap mimpi atau dream catcher.
Rania mengambil yang berwarna biru, lalu menggantungkannya di depan wajah wajah.
"Ini di percaya oleh sebagaian manusia, agar kita bisa tidur dengan mimpi yang indah" sambil menggoyangkan-goyangkan gantungan itu.
__ADS_1
"Oh, ya?"
"Heem" Rania mengangguk.
"Percuma, aku lebih suka mimpi basah" bisik Bagas supaya tidak ada orang yang mendengarnya, bahaya.
"Itu tidak perlu, ada aku yang siap melayanimu kapanpun kau mau" bisik Rania tidak mau kalah, membuat Bagas tertawa geli mendengarnya.
Awas saja kalau nanti kau lebih agresif daripada aku. Dalam pikiran Bagas.
"Kalau aku pakai ini, bagus gak?" Rania mengambil gelang manik-manik lalu memakaikan di pergelangan tangannya.
"Cantik!" puji Bagas.
"Terima kasih. Aku memang sudah cantik tanpa kau puji" ucapnya sok imut.
"Gelangnya" timpal Bagas
"Aku juga!" Rania terkekeh.
Bagas kembali menyubit kedua pipi Rania dengan gemas, tidak perduli dengan orang sekitar yang melihatnya. Lihat saja kalau mau, kalau tidak ya tidak usah, tidak maksa juga. Tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Bagas di buat gemas oleh istrinya yang akhir-akhir ini juga berubah menjadi menggemaskan.
.
.
.
.
.
Sudah lihat Visual Bagas dan Rania yang menggemaskan? Belum juga? Yuk, tonton sekarang juga di channel youtube saya. Windy Rahmawati.
-Visual Bagas(TUAN TAJIR)
-Visual Rania (TUAN TAJIR)
-Visual Bagas dan Rania (TUAN TAJIR)
Sweet dan menggemaskan sekali mereka. Gak percaya? Lihat sendiri saja!
__ADS_1