
Di gedung Briliant Group.
Nadira tampak sedang sedang lelah, dari tangannya yang sedang memegangi kepala, menunduk ke meja dan mata yang sengaja di pejamkan. Layar laptop di hadapannya masih menyala, dan sepertinya ia harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Lelah sekali rasanya" keluh Nadira.
Suara pintu yang di buka oleh seseorang membuat Nadira membuka mata dan mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang datang. Seorang pria menggunakan jas hitam berdiri tegap persis di hadapannya.
"Apa kau mau ikut makan siang denganku?" ajak sekretaris Frans kepada Nadira yang sudah berdiri dari duduknya.
Harusnya anda masuk mengetuk pintu terlebih dahulu, sekretaris Frans. Ha ha, aku melupakan kalau anda mungkin berpikir bisa melakukan seenaknya menggantikan Bagas.
"Tidak sekretaris Frans, terima kasih! Masih banyak yang harus saya selesaikan" jawab sekaligus tolaknya tanpa berani menatap wajah sekretaris Frans, menunduk adalah tanda kalau ia menghormatinya.
"Kau bisa melanjutkannya nanti setelah makan siang, ajakanku juga adalah sebuah perintah yang tidak bisa kau bantah begitu saja!" katanya lagi sedikit maksa dengan cara halus, padahal itu semua hanyalah modus.
"Benarkah?" sekilas melirik sekretaris Frans kemudian kembali menunduk.
Haha, kau bilang ini perintah? Hei sekretaris Frans, mungkin ini caramu yang ingin mendekatiku, tapi masih terhalang oleh gengsi yang terlalu besar.
"Tidak usah banyak bicara apalagi bertanya, sekarang juga kau harus ikut denganku untuk makan siang bersama!" berlalu kemudian tanpa menunggu jawaban dari Nadira, mau tidak mau Nadira harus mengikuti langkahnya.
Iya, baik. Kalau begitu aku akan diam saja. Kau menyebalkan juga sekretaris Frans. Gerutu Nadira dalam hati.
Sekretaris Frans bersama Nadira pergi ke restaurant yang jaraknya tidak jauh dari gedung Briliant Group, tempat biasa ia makan siang bersama Bagas. Restaurant yang paling ramai di kunjungi manusia, karena lokasinya yang terbilang strategis dan bangunan paling besar di bandingkan dengan yang lain. Nadira yang semula berjalan di belakang sekretaris Frans, di minta untuk berjalan sejajar di sampingnya. Nadira menurut saja karena itu mungkin sebuah perintah yang tidak dapat di bantah.
Seperti yang terlihat dari luar, ketika mereka masuk ke dalam restaurant langsung di sambut hangat oleh pelayan di sana. Nadira sampai membalas sambutan itu dengan membungkukkan tubuhnya sekilas, padahal itu tidak perlu ia lakukan seperti halnya sekertaris Frans yang nampak cuek.
Seorang pelayan datang lagi dari dalam, mendekat dan menyapa.
"Saya pesan meja di pojok belakang untuk dua orang!" pinta sekretaris pada pelayan itu.
"Kebetulan kosong, silahkan!" pelayan itu mempersilahkan dengan gaya tangannya, meminta sekretaris Frans dan Nadira untuk mengikuti langkahnya.
Setelah sampai ke meja pojok paling belakang, pelayan itu mempersilahkan lagi untuk duduk di tempat yang di minta. Kemudian menyodorkan menu makanan yang segera di terima oleh sekretaris Frans.
"Kau mau makan apa?"
__ADS_1
"Saya terserah anda saja, sekretaris Frans!"
"Aku tidak tahu apa yang kau suka, kalau aku memilih makanan untukmu lalu kau tidak suka, bagaimana? Kau pilih sendiri saja!" sambil memberikan menu pada Nadira.
Nadira melihat banyak menu makanan tertera di sana, aneka minuman juga bikin ia pusing untuk memilihnya.
Aku bingung harus memilih makanan yang mana? Banyak sekali pilihannya. Aku bahkan sampai di buat pusing karena banyak sekali pilihan menu di reataurant ini. Mengeluh dalam hati.
Setelah lama membuka beberapa halaman buku menu, akhirnya Nadira kembali memberikan menu itu pada sekretaris Frans dengan menyebutkan makanan yang ia pilih.
Sekretaris Frans memesan makanan juga minuman. Kini mereka tengah duduk berdua berhadapan, dan keheningan terjadi di antara mereka. Suasana yang ramaipun kalah dengan keheningan yang menyelinap dengan hebatnya.
Saat pesanan sudah tiba dan sampai di meja, di terima dengan baik oleh sekretaris Frans juga Nadira. Tanpa basa-basi, Nadira langsung memakannya. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya tanpa menyadari kalau sekretaris Frans sedang memperhatikannya.
"Kau terlihat begitu lapar, tapi kau sempat menolak ajakanku makan siang tadi. Kenapa?"
Nadira menyeruput ice lemon tea yang ia pilih sebagai minumannya, dan kembali menarik bibirnya dari ujung sedotan.
"Maaf, saya tidak mau merepotkan siapapun termasuk anda!" sejenak berhenti makan.
"Jangan sungkan! Lain kali kalau saya mengajakmu untuk makan siang ataupun hal lain, kau harus mau!" menatap Nadira yang terus menundukan wajahnya.
"Silahkan di lanjut!" tangannya mempersilahkan Nadira untuk melanjutkan makan.
Drrttt... Drtttt... Drttt
Suara benda bergetar di balik saku jas hitam yang sekretaris Frans kenakan, ia langsung mengambil benda itu dan menempelkannya di dekat telinga.
"Hallo tuan" kemudian diam mendengarkan. "Semuanya baik-baik saja, tuan" diam lagi. "Saya sedang makan siang bersama kakak ipar anda". Kemudian mendengarkan lama, dengan ekspresi wajah yang sama, dingin, datar. "Baik, tuan" terdengar itu adalah sebuah kalimat terakhir yang di ucapkannya sebelum mematikan sambungan.
"Apa dia Bagas? M-maksud saya tuan Bagas?" hampir lupa kalau ia harus memanggil dengan sebutan tuan jika masalah di dalam pekerjaan.
"Iya"
"Apa dia akan segera kembali?" dengan berani menatap wajah sekretaris Frans ketika tertarik bertanya setelah mengetahui sekretaris Frans usai bicara di telpon dengan Bagas.
"Tuan tidak mengatakan kapan ia akan kembali. Kau bisa tanyakan langsung kepada nona mengenai hal itu!"
__ADS_1
"Oh, baiklah!" jawabnya pasrah.
Mereka kembali melanjutkan makan sampai akhirnya mereka benar-benar selesai dan menghabiskannya.
"Terima kasih sudah mau menemaniku makan siang hari ini!"
"Iya, bukankah anda yang bilang kalau ini merupakan sebuah perintah yang tidak bisa saya bantah?" ucap dan tanya dengan polosnya.
"Benar! Kau harus menuruti perintahku." menatap Nadira yang terus saja menundukkan wajahnya.
Hei sekretaris Frans, ku mohon jangan menatapku seperti itu. Aku merasa risih jika kau terus saja menatapku tanpa henti. Ku mohon berhentilah!
"Sepertinya kita harus segera kembali" setelah sekretaris Frans melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya" menggangguk cepat.
Aku tidak mau berlama-lama di sini, berdua dengan sekretaris yang terus menatapku seperti itu.
Sekretaris Frans dan Nadira berdiri dari duduknya, dan keluar dari restaurant itu setelah membayar tagihan. Mereka akan kembali ke gedung Briliant Group.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, vote menggunakan poin atau koin. Tambahkan juga ke favorit.
Masih ada yang nanyain visual, saya tegaskan sekali lagi kalau visual Bagas dan Rania bisa di lihat di channel youtube saya. Windy Rahmawati.
-Visual Bagas (TUAN TAJIR)
-Visual Rania (TUAN TAJIR)
__ADS_1
-Visual Bagas dan Rania (TUAN TAJIR)
Jangan lupa SUBSCRIBE, ya! Biar dapet notifikasi video adegan nyata visualnya. Yang akan membuat kalian hanyut dalam kebaperan yang amat mendalam, wk wk.