Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Bangkitnya Asmara Brahma


__ADS_3

"Oek..oek..oek..oek.." Khanza terus menangis, suara tangisannya sampai terdengar ke luar kamar.


Bagas yang sedang berada di ruang tamu untuk menyelesaikan pekerjaannya di laptop segera menghampiri. Begitu masuk ke kamar, Rania tidak ada. Mungkin Rania sedang di kamar mandi.


"Putri papa kenapa, kok nangis, sayang?" Bagas mengangkat Khanza kemudian dia gendong. Namun ketika dia memegang bagian popoknya sudah basah. Mungkin itu yang membuat Khanza jadi rewel.


Bagas kembali menidurkan Khanza, tidak lama kemudian Rania datang dengan langkah yang terburu-buru.


"Aduh... Maaf, ya! Tadi aku kebelet sebentar!" ucap Rania panik, takutnya Bagas akan marah karena meninggalkan Khanza sendirian.


"Khanza minta ganti popok, sudah basah," balas Bagas.


"Sebentar!" Rania pergi lagi, tidak lama kemudian Rania kembali lagi dengan menyodorkan pempers pada Bagas.



"Aku yang harus gantiin popok Khanza?"


Rania mengangguk. "Iya, kau juga harus bisa menggantikan popok Khanza. Takutnya kejadiannya seperti ini lagi. Aku sedang di kamar mandi dan Khanza minta ganti popok. Tidak apa-apa, kan? Kau tidak keberatan, kan?"


Bagas menghela napas. Dulu dirinya di kenal dengan pria yang di takuti oleh semua orang. Dan waktu telah merubahnya menjadi pria penyayang. Termasuk untuk menggantikan popok putrinya karena rasa sayang.


"Iya, aku tidak keberatan sama sekali. Lagi pula aku ini kan papa-nya," Bagas mengambil pempers tersebut dari tangan Rania, kemudian menaruhnya di samping Khanza.



"Pelan-pelan angkatnya!" ucap Rania ketakutan, ini adalah pertama kalinya Bagas menggantikan popok baby Khanza.


"Iyaaa... Sayang..." Bagas menggantikan popok Khanza seperti halnya sering dia lihat ketika Rania menggantikan popok putrinya.


Rania terus mengawasi, takutnya ada yang Bagas tidak ketahui cara-caranya. Tapi ternyata, tidak pernah Rania sangka, Bagas mengganti popok Khanza dengan baik dan benar. Bahkan Khanza tidak nangis, jutru dia malah tersenyum.


"Senang ya, sayang, di gantiin popoknya sama papa?" Bagas mencium kening baby Khanza.


Atas keberhasilan menggantikan popok Khanza, Bagas minta Rania untuk lagi-lagi mengambilkan gambarnya.


"Sayang, ambil gambar aku lagi bersama Khanza. Kameranya aku taruh di sana, kamu ambil, ya!" pinta Bagas, dia menunjuk ke arah tempat dia menyimpan kamera.


"Iya," jawab Rania menurut.


Bagas mengajak Khanza bermain dengan cilukba, agar Khanza tidak tertidur sebelum Rania mengambil gambarnya.


"Sudah siap?" Rania bertanya ketika dia sudah kembali dengan kamera di tangannya.


"Sudah, kau hitung mundur, ya!"


"Iya. Tiga, dua, satu, ckrek.." Gambar pun kembali di ambil, dan hasilnya sangat bagus.



"Bagus, tidak?" Bagas bertanya kemudian Rania menunjukkan gambarnya.


"Bagus. Sekarang kita siap-siap, katanya ayah Brahma mengundang kita makan siang di rumahnya!"

__ADS_1


"Oh, iya aku lupa. Aku ganti baju dulu sebentar!" Bagas memberikan baby Khanza pada Rania.


Setelah Bagas pergi, Rania menyanyikan lagu nina bobo untuk Khanza supaya dia tidur lagi.


***


Ketika Rania dan Bagas sedang siap-siap, tiba-tiba pintu rumahnya di ketuk oleh seseorang. Pelayan di sana pun membukakan pintunya. Dan nampak Brahma di balik pintu.


"Bagasnya ada?" Brahma bertanya pada pelayan yang membukakan pintu barusan.


"Ada, tuan. Sebentar, saya panggilkan! Silahkan duduk dulu, tuan!" pelayan tersebut mempersilahkan Brahma untuk duduk di kursi ruang tamu.


Belum sempat pelayan mengetuk pintu, seorang dari dalam kamar sudah membukakan pintunya.


"Ada apa?" tanya Bagas ketika melihat ada seorang pelayan di depan pintu kamarnya.


"Ada tuan besar di ruang tamu, tuan?" jawabnya.


Bagas mengerutkan kening dalam. "Papa saya?"


"Iya, tuan."


"Ya sudah, kalau begitu kau kembali ke dapur. Buatkan minuman!" titah sang tuan rumah, pelayan tersebut mengangguk sebelum akhirnya dia pergi dari hadapan Bagas.


"Siapa?" tanya Rania yang baru saja selesai mengganti pakaian.


"Katanya ada papa di ruang tamu."


"Ayah ke sini? Bukannya kita yang suruh ke sana?" Rania juga ikut bingung.


Sedangkan Rania masih mematung di ambang pintu. "Ayah kira-kira mau apa, ya? Apa ada hal penting yang mau dia bicarakan? Kemarin dia meminta kami untuk pergi ke rumahnya, sekarang ayah sendiri yang datang ke sini."


Setelah beberapa menit Rania berdiri di sana, ia kembali untuk memberikan ASI pada Khanza.


Di ruang tamu, Bagas duduk di samping papa-nya setelah bersalaman. Ia melihat kesedihan di wajah papanya. Maka dari itu, ia segera menanyakan penyebab kesedihan tersebut.


"Papa kenapa? Papa ada masalah?" Bagas menatap papanya cemas.


Brahma menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak, tidak ada masalah!"


"Tapi wajah papa memberi tahu kalau papa sedang sedih. Papa cerita sama aku!" pinta Bagas, sedikit memaksa.


Brahma menghela napas panjang, lalu menghembuskannya sedikit kasar. Ia mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Iya, Bagas. Papa mengundang kalian untuk makan siang di rumah papa itu sebenarnya ada hal yang mau papa bicarakan sama kamu. Tapi karena papa tahu kalau kondisi Rania belum sepenuhnya sehat, dan seorang perempuan yang masih dalam keadaan nifas memang tidak boleh untuk bepergian. Makanya papa datang ke sini."


"Papa mau bicarakan soal kakak kamu. Kemarin papa pergi ke kantor polisi, papa kasihan sekali melihat kondisi kakak kamu. Mudah untuk papa bebaskan dia kalau papa mau. Tapi, papa ingin semua anak papa bisa belajar bertanggung jawab atas perbuatannya," sambung pria parubaya dengan wajah yang mulai berkaca-kaca.


"Papa tidak mau, kakak kamu itu lepas dari tanggung jawabnya. Sebelum papa pulang, papa sempat bicara pada pihak kepolisian tanpa sepengetahuan kakak dan tante kamu. Katanya masa hukumannya akan habis dalam waktu satu tahun lagi. Katanya itu sudah termasuk hukuman paling ringan. Karena hukuman yang paling berat di jatuhkan pada pria yang bersama kakak kamu dan Hera, yang papa lupa itu siapa namanya. Karena pria itu otak dari semua kejahatan yang membawa nama kakak dan tante kamu," tambah pria itu lagi.


Bagas terdiam, sebenarnya dia tidak tega melihat papanya itu sedih. Tapi apa yang telah kakaknya lakukan pada istrinya itu sudah benar-benar keterlaluan.


"Papa benar, aku bisa saja cabut laporan itu dengan mudah. Tapi kita tidak bisa melepaskan tanggung jawab kakak, biarkan kakak menanggung semua konsekuensinya. Biar kakak dan tante Hera itu jera, supaya mereka tidak akan lagi mengulangi kesalahan serupa," tutur Bagas.

__ADS_1


"Sebenarnya yang membuat papa sedih bukan itu," Brahma kembali bicara setelah beberapa saat terdiam.


"Lalu, ada masalah lain, pa?" Bagas bertanya dengan tidak sabar menunggu jawaban papanya.


"Kesepian. Semenjak kamu dan Rania memutuskan untuk tinggal di rumah baru kalian ini, papa merasa kesepian. Dan saat itu, kakak kamu yang menjadi harapan papa satu-satunya. Tapi kakak kamu ikut keluar dari rumah gara-gara harus menjalani masa hukumannya. Papa sangat kesepian, Bagas. Papa butuh teman untuk di ajak bicara setiap saat. Papa harap kamu sering-sering main ke rumah papa, ya?!" Brahma meminta dengan sedikit memohon, masa tuanya tidak seindah yang dia bayangkan. Dan lebih kesepian dari yang pernah ia pikirkan.


Bagas mengangguk, ia akan coba menuruti keinginan papanya. Tidak lama kemudian, Rania datang menghampiri mereka.


"Ada ayah," Rania mencium punggung tangan Brahma, kemudian duduk di sampinh suaminya.


Brahma mencari sosok seseorang. "Cucu papa mana?"


"Khanza baru saja tidur, pa. Barusan aku beri dia ASI," ujar Rania, menampakkan sedikit kekecewaan di wajah Brahma.


"Papa rindu sekali dengan dia, papa akan tunggu dia sampai bangun."


"Iya, pa." balas Rania dengan seulas senyum di bibirnya.


Keheningan mulai menyelinap di antara mereka bertiga, namun tiba-tiba saja Brahma mengingat sesuatu.


"Bagas... Rania..." panggilnya lirih.


"Iya, pa. Ada apa?"


"Ada apa, ayah?"


"Kemarinnya, papa tidak sengaja hampir menabrak seorang wanita di dekat Kafe sebrang kantor kita. Waktu papa mau minta maaf sama dia, dia mendongakkan kepalanya. Pada saat papa lihat wajahnya, itu mengingatkan papa dengan mama kamu," Brahma bercerita sambil membayangkan kejadian hari kemarin.


"Serius, pa?"


"Iya. Papa sempat tukeran nomer handphone dengannya, papa akan tanggung jawab karena papa telah membuat dia terjatuh dan kakinya terluka," seketika senyuman terpancar di wajah Brahma.


"Papa sampai tukeran nomer handphone?" tanya Bagas tidak percaya, karena sebelumnya papanya ini tidak gampang memberikan nomer handphone kepada orang lain, apalagi yang tidak di kenal.


"Iya. Karena wajah wanita itu mengingatkan papa dengan mama kamu, itu yang membuat papa mudah memberikan nomer handphone papa sama wanita itu. Papa jadi berpikir, untuk mencari tahu siapa wanita itu! Apa kalian mengizinkan niat papa ini?"


Bagas dan Rania saling menatap, mungkin ini saatnya Brahma menemukan kebahagiaanya kembali. Agar Brahma tidak lagi kesepian, jika wanita itu masih berstatus lajang. Rania memberikan kode pada Bagas, dengan menganggukkan kepalanya.


"Apapun yang menurut papa baik, aku dan Rania akan selalu dukung papa!" tutur Bagas, memberikan semangat baru untuk Brahma lebih giat lagi menjalankan aksinya mencari tahu siapa wanita yang nyaris dia tabrak hari kemarin.


"Iya, Bagas. Terima kasih, ya! Terima kasih juga untuk menantu kesayangan papa. Papa sayang kalian semua!" Brahma memeluk putra dan menantunya. Kesedihan atas kesepiannya kini memudar, ketika dia mengingat wanita yang telah berhasil membangkitkan kembali asmaranya.


Semoga bahagia, Brahma. Jangan lupa kasih tahu siapa wanita itu, ya!


.


.


.


Coretan Author:


Jangan lupa like, Vote yang banyak! Komen di kolom komentar.

__ADS_1


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2