Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kartu Kredit


__ADS_3

Di dalam gedung Briliant Group, ruangan pribadi Bagas yang pernah di masuki Rania ketika meminjam uang.


Bagas sedang fokus menatap layar laptop di hadapannya. Tiba-tiba dia kepikiran dengan istrinya, sang gadis bodoh. Ia mengambil ponsel di saku jas hitamnya dan seperti mengetikkan pesan kepada seseorang. Tidak lama setelah itu, datang sekretaris Frans memasuki ruangan itu.


"Ada apa tuan?" tanya Frans sedikit membungkukkan tubuhnya yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.


"Berikan salah satu kartu kredit untuk gadis bodoh!"


Sekretaris Frans tidak mengerti dengan perintah tuannya, ia tidak tahu siapa orang yang ia maksud. Gadis bodoh? Pikirnya.


"Nona Rania maksud tuan?" tanya sekretaris Frans menebak-nebak. Karena siapa lagi jika bukan dirinya.


"Ya." jawab Bagas singkat.


"Baik tuan."


Kenapa tuan memanggil nona dengan sebutan gadis bodoh? Aneh. Ada-ada saja. Gumam sekretaris Frans.


Sekretaris Frans pergi keluar dari ruangan itu setelah mendapat perintah dari tuannya. Kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat, agar setiap perintah dari tuannya itu segera selesai.


*****


Setelah Rania meminum minuman segar bersama Reyhan, ia berniat untuk kembali ke rumah yang membuatnya tersiksa itu. Ia berdiri di pinggir jalan untuk menyetop angkot. Dari kejauhan sekretaris Frans melihat sosok gadis itu, ia beberapa kali mengerjapkan matanya untuk memastikan bahwa yang sedang ia lihat itu benar-benar gadis yang akan ia temui. Sekretaris Frans memberhentikan mobilnya di bahu jalan, tepat di samping berdirinya Rania.

__ADS_1


Siapa dia? Sepertinya aku tidak asing dengan mobil ini. Apakah dia?


Benar, dia sekretaris Frans. Rania mengetahuinya setelah sekretaris Frans membuka kaca mobil.


"Nona, apa yang sedang kau lakukan di sini?"


"Sebaiknya kau antarkan saya untuk pulang!" pinta Rania yang sudah membuka pintu mobil dan duduk di sebelah sekretaris Frans.


"Baik, nona."


Sekretaris Frans segera melajukan lagi mobilnya ketika Rania sudah naik dan memintanya untuk mengantar pulang.


Di jalan, awalnya mereka berdua saling membisu. Karena sekretaris Frans takut kejadian waktu di rumah Rania ketika berduaan, waktu memberitahu aturan nikah dengan Bagas, Rania sempat menggodanya walaupun itu sebagai candaan. Akhirnya Rania membuka pembicaraan di antara keheningan.


"Sebenarnya saya mendapat perintah dari tuan Bagas, untuk memberikan kartu kredit untukmu nona." jawab dan jelas sekertaris Frans. Pandangannya tetap fokus ke depan.


"Untukku?" Rania menunjuk dirinya sendiri.


"Iya."


Untuk apa dia tiba-tiba memberikan sebuah kartu kredit untukku. Apakah ini ada jebakan betmen lain? Apa ada hal yang harus aku bayar lagi setelah ini? Ah bodoamatlah. Aku akan menanyakannya nanti tentang ini.


Tidak lama kemudian, mobil yang di kemudi sekretaris Frans sampai di depan rumah megah milik Bagas. Sekretaris Frans segera memberikan kartu kredit itu kepada Rania.

__ADS_1


"Ini nona."


Rania mengambil kartu kredit itu dari tangan sekretaris Frans, "Terima kasih." ucapnya.


"Untuk passwordnya, kau bisa memasukkan tanggal lahir tuan. Kau bisa menggunakannya sesuka hatimu nona." jelas sekertaris Frans.


"Terima kasih." ucapnya lagi. "Apa saldonya unlimitied?" tanya Rania.


"Maaf nona, itu bukan kuota indosat yang unlimitied. Maksud saya, kau bisa menggunakan sesuka hatimu, itu untuk kebutuhan yang benar-kau butuhkan saja."


Ya, ya, aku tahu. Ini bukan kuota indosat yang unlimitied.


"Sekali lagi terima kasih sekretaris Frans. Sampaikan rasa ucap terima kasihku pada tuanmu!" pesan Rania.


"Baik, nona. Akan saya sampaikan."


Rania turun dari mobil dan berdiri di samping mobil itu. Sekretaris Frans memundurkan mobilnya, kemudian melajukan mobilnya kembali ke kantor. Rania masih berdiri di sana, memegang dan memutar balik kartu kredit yang baru saja ia terima dari sekretaris Frans. Lebih tepatnya dari Bagas, suaminya. Rania memandangi rumah yang ada di hadapannya. Kemudian mengambil ponsel di dalam tas slempangnya, untuk melihat jam.


Sepertinya waktu pulang tuan Bagas masih lama, tidak ada salahnya jika aku pergi dulu menghindari rumah yang sudah jadi neraka bagiku. Apalagi jika harus berdebat lagi dan lagi dengan penghuninya yang reseh itu.


Rania pergi lagi meninggalkan rumah itu. Sepertinya ia butuh refreshing untuk menenangkan otak dan jiwanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2