Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Silaturahmi


__ADS_3

Pemilik rumah sangat terkejut mendapati 2 orang pria yang bertamu di rumahnya, sehingga reflek membangunkan tubuhnya yang duduk dari kursi. Tubuhnya gemetar, karena ia takut dia akan melakukan apapun walaupun yang statusnya sudah jadi menantu.


"Silahkan duduk, nak Bagas!" ucap bu Sari dengan hati-hati mempersilahkan tamu untuk segera duduk. Bu Sari sebenarnya tidak tahu harus memanggilnya dengan sebutan apa, tapi sepertinya yang baru saja ia sebutkan sudah yang paling terbaik.


"Terima kasih" jawab Bagas kemudian segera duduk, di susul oleh sekretaris Frans yang duduk di sampingnya.


"Nadira, buatkan minum untuk adik iparmu!" suruh bu Sari pada Nadira yang tidak bereaksi ketika mendapat tamu langka.


"Biar Rania saja, bu" pinta Rania yang masih berdiri.


"Sudah, biar kakak saja. Kamu temani suami kamu saja!" kata Nadira kemudian beranjak pergi ke dapur.


Rania duduk di dekat Bagas, bu Sari di sebelah Rania.


Mau apa dia datang ke sini? Ah, aku jadi takut mereka akan mengancam keluargaku.


"Maaf ya, nak Bagas. Rumah ibu berantakan, memang begini keadaannya. Kursinya pun terbuat dari rotan"


"Kenapa kau tidak bilang, istriku?! Kalau tahu begini aku akan membelikan ibu kursi yang sangat bagus?"


Aku? Istrimu? Kau barusan bilang aku istrimu? Mengaikunya? Apa pendengarannku sedang tidak baik atau apa ini? Kenapa dia mendadak baik di depan ibu?


"Em maaf, saya tidak mau merepotkan!"


"Jangan sungan, istriku! Aku ini kan suamimu" ucap Bagas dengan tenangnya.


Apa dia benar-benar sudah berubah haluan menjadi baik. Ah, rasanya tidak mungkin. Pasti ini salah satu bagian dari rencana jahatnya.


Tuan kenapa, ya? Semakin hari tingkahnya semakin aneh. Bahkan aku pun tidak dapat menebaknya. Gumam sekretaris Frans.


"Iya, baik" jawab Rania mengiyakan saja.


Bu Sari tersenyum senang karena, ternyata menantunya ini baik seperti rumor yang telah beredar di kalangan publik. Pikirnya.


Bagas menggibas-gibaskan tanganya, keningnya mengalirkan air hingga ke leher. Sepertinya ia sedang merasa kegerahan, orang yang biasa berada di ruangan ber-AC belum bisa beradaptasi di tempat seperti ini.


"Apa di sini tidak ada pendingin ruangan?" tanya Bagas tidak melihat kondisi keuangan mereka yang bagaimana.


Bu Sari dan Rania hanya saling beradu tatap mendengar pertanyaan barusan.


"Kau jangan aneh-aneh, sebenarnya tujuanmu ke sini untuk apa? Bertamu atau menghina?" Rania mulai kesal dengan Bagas yang selalu bertanya yang menyinggung keadaan keluarganya. Tapi bu Sari segera menghentikan Rania agar tidak berbicara tidak sopan terlalu panjang pada suaminya.


"Sudah, Rania. Tidak apa-apa"


"Nak, Bagas. Kita ini memang orang yang serba tidak punya. Makanya dulu ibu sangat terkejut ketika mendengar nak Bagas ingin menikahi Rania, puteri ibu. Ibu siap sempat berfikir apa nak Bagas itu betul-betul menginginkan Rania jadi istri nak Bagas atau ada perihal lain. Tapi, semoga saja tidak ada perihal lain yang harus menyangkut pautkan puteri ibu. Keluarga kami memang sederhana, tapi kesederhanaan inilah yang mampu membuat kita bahagia" bicara bu Sari panjang lebar, membuat semua orang yang ada di sana diam seketika, seperti mencerna perkataannya barusan.

__ADS_1


Apa dia akan mengerti dengan ucapan ibu barusan? Aku rasa ia tidak akan pernah perduli dengan kata-kata ibu, dia kan makhluk yang tidak pernah punya hati dan perasaan.


Nadira kembali ke ruang tamu membawa 2 gelas air putih di nampan, melewati kamar yang di dalamnya ada pak Burhan yang sedang sibuk dengan uang yang di beri oleh puterinya tadi, dan pak Burhan melihat Nadira.


Nadira menyuguhkan 2 gelas air putih itu pada sang tamu. Hanya air putih saja, karena itu yang bisa mereka suguhkan. Bukannya pelit atau apa ya, memang begitu keadaannya.


"Maaf ya, cuma ada air putih saja" ucap Nadira yang menaruh nampan berisi air putih ke meja.


Tiba-tiba pak Burhan keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka, seolah-olah sudah akrab sejak lama.


"Eh, ada menantu kesayangan" katanya, kemudian memberi uluran tangan agar Bagas menyalaminya.


Bagas belum menerima jabatan tangan dari sang mertua. Ia memperhatikan pria di hadapannya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Ya ampun, ayah. Kenapa kau lakukan itu, dia itu bukan manusia seperti pada umumnya, yang memberi hormat pada orang lain. Justru dialah yang gila hormat.


Tapi, Bagas akhirnya menerima jabat tangan sang mertua sebagai menantu. Entah apa sebenarnya ia datang ke rumah ini. Pak Burhan pun melakukan hal yang sama terhadap sekretaris Frans.


"Silahkan di minum!" pak Burhan mempersilahkan mereka agar meminum suguhan yang apa adanya itu.


Apa mereka akan meminumnya?


Bagas meraih gelas yang berisi air putih dan meminumya sedikit, sekretaris Frans pun mengikutinya. Tapi, sekretaris Frans meminumnya sampai habis setengah.


"Segarrrr!" ucap sekretaris Frans yang langsung membuat semua pasang mata tertuju padanya.


Apa aku tidak salah mendengar? Kenapa pendengaranku hari ini bermasalah. Seorang sekretaris Frans yang saat itu menghina ketika datang pertama kali akan aku suguhi, ia hanya bilang di sini cuma ada air putih saja. Justru sekarang ia jadi orang yang paling menikmatinya.


"Aku menyesal!" ucap Bagas memecah keheningan.


Kenapa dia? Apa dia akan mengatakan penyesalannya karena telah membuatku menderita. Atau dia menyesal sudah datang ke sini.


"Kenapa, nak Bagas?" tanya bu Sari.


"Aku menyesal karena tadi tidak sempat membeli sirup, jus, atau semacam apalah yang bisa aku bawa ke sini"


Heh, ternyata dia menghina suguhan kami dengan cara halus. Yang hanya bisa memberinya air putih saja.


"Maaf ya, nak Bagas kalau di sini hanya bisa menyuguhkan air putih" ucap bu Sari meminta maaf untuk ke sekian kali, "Air putih memang tidak mewah, tapi sangat berarti" tambah bu Sari.


Tanpa basa-basi lagi, dan rasanya Bagas sudah tidak tahan lagi berada di sana, Bagas memutuskan untuk pergi saja.


"Aku ke sini hanya untuk menjemput istriku" ucapnya.


Menjemput? Memang dari mana ia tahu kalau aku ada di sini. Oh, apa itu cuma alasannya belaka.

__ADS_1


Gadis bodoh pasti sedang berfikir dari mana aku tahu dia ada di sini. Aku memiliki banyak prajurit yang bisa aku kerahkan untuk mengetahui informasi tentangmu.


Kemudian Bagas dan sekretaris Frans berdiri dari duduknya. Bagas menyalami bu Sari ketika berpamitan. Bu Sari mengelus pangkal rambut rambut punggunnya seraya berkata, "Jaga Rania baik-baik ya, nak Bagas" ketika Bagas masih mencium punggung tangannya. Bagas dia, mendongakkan kepala sehingga wajahnya sangat dekat dengan bu Sari. Bagas tersenyum dan menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Di susul oleh sekretaris Frans dan yang terakhir Rania.


"Rania balik lagi ya, bu. Tenang aja, Rania pasti bakalan sering-sering nemuin ibu" ucap Rania menahan kesedihannya, ia harus berpisah lagi dengan ibunya.


"Iya"


Rania pun menyalami kakak dan ayahnya, dan berpamitan juga. Rania melangkahkan kaki keluar, Bagas dan sekretaris Frans sudah menaiki mobil terlebih dahulu, hanya ada pak sopir yang sudah membukakan pintu untuk Rania. Rania masuk ke mobil, dan melambaikan tangan sebelum pintu kembali di tutup.


Pak sopir menghidupkan mesin dan menjalankannya, melewati para ibu-ibu rempong si biang gosip yang melihat Rania ikut masuk ke dalam mobil bersama orang yang menjadi tamu di rumahnya.


*****


Mobil sudah memasuki jalan raya, tidak ada pembicaraan di dalam mobil selain Bagas yang sesekali melirik ke arah Rania yang duduk di sampingnya.


"Apa?" tanya Rania dengan judes ketika mengetahui Bagas lagi-lagi meliriknya.


"Kapan kau melepas behelmu? Bukannya tadi pagi masih terpasang rapi"


"Memangnya apa perduli anda terhadap saya?" nada bicara Rania masih judes.


"Jawab saja pertanyaanku!"


Dasar aneh. gumam Rania yang melihat Bagas sedang memandang lurus ke depan.


"Sebelum saya pulang ke rumah. Karena saya tidak mau ibu tahu saya melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak saya lakukan. Ibu pasti akan marah jika saya menampakan diri dalam keadaan gigi yang di macam-macam. Lagian ibu pernah bilang, 'selain mempunyai senyum manis, orang yang memiliki gigi gingsul juga akan mendapat keberuntungan'"


"Mitos!" ucap Bagas ketika Rania mengatakan hal barusan.


"Mungkin, karena pada kenyataannya saya harus masuk ke dalam kehidupan orang-orang seperti anda. Itu tidaklah menguntungkan!" ucap Rania dengan berani.


"Jaga ucapanmu. Kau harus menanamkan sikap sopan santun terhadapku!"


"Kau yang seharusnya melakukannya. Karena sikap saya tergantung bagaimana cara anda memperlakukan saya. Anda baik saya bisa lebih baik. Anda jahat, saya tidak pernah membalas kejahatan anda. Karena saya sadar, itupun sama sekali tidak ada untungnya."


Bagas di buat bungkam oleh kata-kata Rania barusan. Sang sopir dan sekretaris Frans yang menyaksikan perdebatan mereka merasa kagum atas apa yang di katakan nonanya terhadap tuannya. Sebelumnya ia tidak pernah menemukan orang yang berani melawan tuannya yang kejam dan keras kepala ini. Mereka berharap, Rania-lah yang dapat mengubah tuannya menjadi manusia pada umumnya.


Seketika mobil kembali hening, hanya suara mesin yang kali ini mereka dengar. Tidak ada yang berani membuka suara.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Saya akan segera membuat Bagas luluh terhadap Rania. Tapi semuanya juga kan butuh waktu dan proses. Untuk kalian yang semakin tidak sabar melihat Bagas akan di buat bucin sebucin-bucinnya, ikuti terus kelanjutannya. Jangan sampai tertinggal satu episode pun ya.


Like, komen, vote, tambahkan jug ke favorit😊


__ADS_2