
Rania membaringkan tubuhnya di atas sofa besar di kamar. Ia merasa lelah setelah tadi menemui pemilik ruko yang akan ia sewa, ia harus melakukan tawar menawar yang pas dan sesuai. Sudah seperti ibu-ibu di pasar saja tadi ia ketika melakukannya. Dan untungnya, pemilik ruko itu tidak keberatan dengan negoisiasi yang di ajukan Rania.
Ah, lelah sekali.
Rania menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Kemudian ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya masih ada bayangan Reyhan yang tadi sempat mengatakan 'Aku pikir kamu kangen sama aku'. Ucapan itu masih terngiang di telinganya. Ia beberapa kali memukul-mukul kepalanya untuk menghilangkan suara yang terus mengganggu pikirannya.
Sial! Kenapa kata-kata itu terus mengiang di telingaku. Jangan sampai. Jangan sampai itu menambah beban pikiranku.
"Berhentilah! Berhenti main di dalam pikiranku. Aku mohon berhentiiiii!"
"Maaf nona, saya cuma mau mengambil pakaian kotor tuan dan nona" ucap seseorang.
Rania seketika terkejut, dan bangun melihat ke arah pintu sudah ada seorang pelayan yang berdiri di sana.
"Maaf, nona, tadi saya mengetuk pintu beberapa kali untuk izin masuk tapi tidak ada jawaban. Saya memberanikan diri dan lancang untuk masuk. Dan nona menyuruh saya untuk berhenti. Sekali lagi, maafkan saya nona!" jelas pelayan itu di sertai permohonan maafnya.
Apa benar dia beberapa kali mengetuk pintu? Kok aku bisa sampai tidak mendengar ya. Ah, ini pasti gara-gara aku terlalu memikirkan kejadian tadi bersama Rey.
Rania tersenyum, "Tidak apa-apa, silahkan masuk!"
"Baik, nona" ucap pelayan sedikit menundukkan kepala sebagai rasa hormat terhadap majikan.
Kemudian pelayan itu masuk setelah di persilahkan, melewati Rania untuk mengambil keranjang baju kotor di pojok kamar dekat kamar mandi. Sesudah itu kembali untuk keluar.
__ADS_1
"Saya permisi, nona." pamit pelayan yang sudah berdiri di pintu bersiap menutup pintu kamar.
Rania menanggapinya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Setelah pintu kamar di tutup rapat oleh sang pelayan. Ia kembali membaringkan tubuh lelahnya.
Semoga saja kali ini tidak ada pelayan masuk untuk alasan hal lain.
Rania menutup mulutnya ketika menguap, rasa kantuknya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Akhirnya ia tertidur dan tenggelam dalam dunia impian.
******
Sementara di dalam mobil, Bagas, sekretaris Frans dan pak sopir tentunya, sudah berada di perjalanan untuk pulang. Jalanan lumayan macet, kali ini mobil yang di tumpangi mereka sedang berada di dekat minimarket. Bagas meminta pak sopir untuk menepikan mobilnya dan parkir di depan minimarket itu.
Pak sopir segera turun dan berlari mengelilingi setengah body mobil untuk membukakan pintu untuk sang majikan. Bagas pun langsung menuruni mobilnya dan menarik kacamata yang ia kaitkan di depan dadanya, kemudian ia pakai. Bagas melihat sekretaris Frans turun juga dari mobil dan berdiri di sampingnya.
"Baik, tuan" sekretaris Frans selalu menurut dengan ucapan majikannya.
Bagas bergegas memasuki minimarket. Sekretaris Frans melihat tuannya dari dalam mobil. Memperhatikan gerak-geriknya. Sebelumnya Bagas tidak pernah meminta untuk berhenti di minamarket, apalagi memasukinya. Sendirian pula.
Kira-kira apa yang di lakukan tuan di dalam sana. Gumam sekretaris Frans.
Tidak lama, Bagas keluar dari minimarket itu. Sekretaris Frans melihat ke kedua buah tangannya. Tidak ada apapun yang ia bawa. Pak sopir kembali membukakan pintu mobil untuk masuk majikannya. Sekretaris Frans melihat ke arah spion, melihat ke arah jok belakang. Ekpresi wajah Bagas masih begitu-begitu saja. Tidak ada yang berubah. Masih tetap sama. Dingin.
__ADS_1
Setelah itu, pak sopir kembali menghidupkan mesin. Memundurkan mobil dengan sangat hati-hati untuk kembali memasuki area jalan raya yang sudah lumayan lenggang.
*****
Mobil berhenti tepat di depan rumah tujuan. Seperti biasa, pak sopir selalu setia membukakan pintu mobil untuk majikannya. Dan sekretaris Frans yang selalu setia berjalan di belakang untuk mengantarnya sampai depan pintu utama. Para pelayan yang selalu setia menyambut kedatangannya dengan penuh rasa hormat tanpa di kurangi sedikitpun.
Bagas melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar. Membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Ia membuka jas hitam yang ia kenakan dan melemparkannya ke atas tempat tidur.
Bagas mendapati seorang gadis yang sedang tidur dengan tubuh terlentang di atas sofa. Ia mendekati tubuh gadis itu. Menatapnya lekat, dan terseyum remeh.
Menyedihkan sekali hidup gadis remeja ini. Tapi aku suka. Suka melihatnya menderita. Haha.
Bagas terus memandangi tubuh pemilik gadis itu. Melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tapi pandangannya berhenti ketika pandangannya bertemu dengan dua buah kholdi yang sangat segar. Yang mampu membuat milik laki-laki mana saja akan bangun dari tidurnya ketika melihat pemandangan itu.
Bagas berusaha meneguk ludahnya.
Lain kali aku makan mencoba memainkannya.
Bagas menjulurkan lidahnya dan mengitari area bibirnya. Seperti melihat santapan lezat sedang berada di depan mata.
Bersambung...
#CUAP-CUAP AUTHOR
__ADS_1
Hay readers setia TUAN TAJIR. Maaf ya selalu membuat kalian menunggu up episode selanjutnya. Kemarin saya ada halangan untuk membuat naskah, ada kesibukan di dunia nyata saya yang membuat saya menunda membuat naskah. Saya lagi usahain buat bisa up setiap hari. Tapi paling lama saya lambat up itu cuma telat sehari. Gak sampai telat dua sampai tiga harian. Kalian juga harus tahu, saya juga selalu memikirkan kalian para readers yang selalu setia dengan karya saya. Tidak mau membuat kalian kecewa. Kalian harus tahu itu. Tapi, kalian juga harus bisa memahami saya jika ada keterlambatan up.
Like, vote, dan komennya jika berkenan😊