Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Calon menantu baru (Part 2)


__ADS_3

Setelah menghidangkan hasil masakannya di meja makan, Nadira langsung siap-siap untuk mandi. Jika ia tidak dapat tampil secantik ratu, setidaknya ia harus tampil bersih nan harum.


Di ruang tamu, masih ada Bagas, Rania, sekretaris Frans, dan tentunya bu Sari. Mereka sedang membahas tentang bulan madu Rania selama di Bali. Hampir seluruhnya Rania ceritakan pada ibunya, maklum, karena itu pertama kali ia pergi jauh. Jadi ia ceritakan sedetail mungkin, kecuali waktu ia tenggelam, ia pingsan di pesawat, dan malam pertamanya.


"Lain kali aku akan mengajak ibu sekeluarga pergi ke sana, atau luar negri sekalipun" ucap Bagas tiba-tiba di jawab cepat oleh seseorang.


"Beneran?" seru seseorang yang berdiri di depan pintu, yang tak lain adalah pak Burhan.


Semua pasang mata tertuju pada pak Burhan yang tiba-tiba ikut nimbrung tanpa di ketahui kedatangannya. Pak Burhan dengan cepatnya masuk dan duduk di samping bu Sari. Wajahnya begitu semangat ketika melihat kedatangan menantunya yang tajir ini, apalagi ketika ia mungkin baru saja akan memasuki rumah sudah mendengar kalau ia akan di ajak ke luar negri. Rasa lelah setelah kerjanya memudar seketika.


"Katakan sekali lagi, nak Bagas akan membawa kami ke luar negri!" pinta pak Burhan memaksa.


"I-iya, lain kali aku akan membawa ayah, ibu, sekeluarga ke luar negri" jawab Bagas


"Kenapa lain kali? Kenapa tidak secepatnya saja? Kami siap untuk pergi, nak Bagas" protes pak Burhan bertubi-tubi.


"Tapi kami baru saja pulang dari Bali, kemarin. Aku juga ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan, nanti kalau ada waktu senggang aku pasti akan segera atur waktu keberangkatan!" jelas Bagas namun segera di tangkas oleh pak Burhan.


"Ayah tidak mau tahu, segera selesaikan pekerjaanmu dan kita pergi berlibur ke sana!" dengan seenaknya pak Burhan membuat keputusan sendiri.


"Sudah, ayah! Tidak boleh memaksa nak Bagas seperti itu!" bu Sari selalu merasa malu jika sifat asli suaminya di tunjukan langsung di depan menantuya, apalagi ada sekretaris Frans juga di sana.


"Ayah tidak memaksa, bu! Nak Bagas sendiri yang berjanji akan membawa kita ke sana, ayah cuma minta agar secepatnya ia membawa kita ke sana" seru pak Burhan tanpa merasa bersalah.


"Maafkan ayahku!" bisik Rania di telinga Bagas.


"Tidak apa-apa!" jawab bagas datar.


Ayah, aku mohon bersikap lebih baik di depan suamiku. Jangan membuat aku dan ibu malu atas sifatmu itu! Aku mohon! Batin Rania dalam hati.


Sekretaris Frans yang melihat sikap pak Burhan yang seperti itu seketika mengerutkan keningnya. Mungkin ini pertama kalinya ia tahu sifat seseorang yang akan ia jadikan sebagai calon mertuanya. Pertama kalinya juga untuk Bagas mengetahui ternyata seperti ini sifat asli mertuanya itu.


"Hei, kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya pak Burhan ketika mengetahui sekretaris Frans sedang menatapnya dengan aneh.


Seketika sekretaris Frans gugup ketika pak Burhan balik menatapnya dengan memelototi, ia tidak tahu akan bicara apa. Bibirnya tiba-tiba gemetar untuk mengatakan apapun itu.

__ADS_1


"Ti-tidak, tidak, ma-maafkan aku!" jawabnya terbata-bata sambil menundukkan wajahnya.


Sementara Rania dan Bagas, bu Sari juga yang melihatnya menyembunyikan tawanya di balik telapak tangannya ketika melihat ekspresi sekretaris Frans.


Setelah itu pak Burhan pergi ke dari sana, mungkin ke kamarnya.


"Maafkan ayah ya, nak Bagas! Dia memang suka begitu" bu Sari meminta maaf untuk mewakili sifat suaminya yang membuatnya malu itu, setelah pak Burhan sudah pergi dari sana.


"Tidak masalah, bu" balas Bagas.


"Nak Frans, maafkan juga ya!" juga mewakili meminta maaf pada sekretaris Frans.


"I-iya, ti-tidak apa-apa, bu!" sekretaris Frans masih gugup dan masih setia menundukkan wajahnya.


Bu Sari merasa bersalah juga, ulah suaminya membuat anak orang jadi ketakutan seperti itu. Namun ketakutan yang di tunjukan sekretaris Frans malah mengundang tawa bu Sari karena merasa lucu melihatnya.


***


Malam haripun tiba, sekitar pukul tujuh. Pak Burhan, bu Sari, Nadira, Rania, Bagas, dan sekretaris Frans tengah berada di meja makan. Meja makan yang sederhana, dan masih menggunakan kursi plastik berwarna hijau. Namun meja sederhana itu mampu membuat kehangatan malam ini. Nadira yang duduk berhadapan dengan sekretaris Frans menundukkan wajahnya karena merasa sedikit malu. Sekretaris juga ikut menundukkan kepalanya karena ia takut dengan calon ayah mertua, itupun kalau jadi. Ketakutannya lebih besar daripada takutnya pada tuannya. Tapi rasa takut pada Tuhan tentulah yang utama.


"Tidak apa-apa, bu!" balas Bagas sambil tersenyum, walaupun ia tidak tahu rasa dari makanan yang ada di meja makan itu akan ia sukai atau tidak.


Di meja makan terdapat sayur lodeh, tempe dan tahu goreng.


"Mungkin nak Bagas dan nak Frans baru akan mencicipi makanan seperti ini, ya? Maaf ya tempatnya juga tidak semewah yang sering nak Bagas dan nak Frans temui" meminta maaf untuk yang ke sekian kali.


"Itu tuh, nak Bagas, ibu tuh lagi beri kode keras nak Bagas agar di belikan meja makan mewah, makanan ala restoran, tuh. Tapi gak berani bilang!" timpal pak Burhan sambil mengangkat gelas berisi air putih ke udara yang siap untuk di minum.


"Ibu tidak ada maksud seperti itu, ayah!" tentunya bu Sari membantah karena tidak merasa seperti apa yang di katakan suaminya, itu hanya akal-akalan pak Burhan saja dengan cara menjual nama istrinya. Seolah-olah bu Sari sedang menyindir menantunya untuk hal itu.


"Sudah bu, ayah! Malu sama mereka" Nadira menengahi orang tuanya yang terus berdebat.


"Iya, lebih baik kita mulai saja makan malamnya. Kasihan Frans, sepertinya dia sudah sangat kelaparan. Lihatlah! Dari tadi ia menunduk, mungkin ia sedang melihat dan mendengarkan perutnya yang sudah di berontak oleh cacing" sahut Rania membuat semua orang yang ada di meja makan tertawa, sementara Nadira hanya tersenyum.


"Tidak nona!" dengan cepat sekretaris Frans menggeleng.

__ADS_1


"Haha, aku bercanda, Frans!" ucap Rania masih menyisakan tawa di bibirnya.


"Ya sudah, ayo makan! Ayah yang sudah lapar, nih!" pak Burhan mempersilahkan semuanya untuk segera makan, dan dirinya yang lebih dulu mengambil nasinya.


Kini meraka semua tengah makan, Bagas dan sekretaris Frans yang awalnya ragu untuk memakan makanannya, kini lebih menikmati daripada yang lain.


Waw, ternyata makanan ini enak sekali. Mengapa makanan seenak ini tidak pernah aku temui di restaurant, ya? Aku ingin memakannya lebih banyak lagi, aku ingin nambah. Gumam Bagas.


Emmm, yummi.. Makanan hasil masakan calon istriku, begitu enak. Aku akan memintanya memasakan masakan seperti ini jika ia sudah menjadi istriku. Itupun kalau dia mau, maksudnya mau menjadi istriku. Ini gumam sekretaris Frans.


Bu Sari, Rania dan Nadira yang awalnya sempat meragukan Bagas dan sekretaris akan memakannya atau tidak, kini di buat menggelengkan kepala karena mereka berdua kini tengah berebut sayur lodeh dan tempe goreng yang tinggal satu potong saja. Bagas memberi tatapan sengit pada sekretaris Frans mentang-mentang bawahannya untuk mengalah dan memberikan saja tempe goreng itu untuknya. Tapi sekretaris Frans justru lebih tidak mau kalah dari tuannya. Ia terus mempertahankan tangannya dari tempe goreng itu.


Bu Sari, Rania, dan Nadira tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Ternyata makanan sederhana ini lebih enak daripada makanan yang sering ia temui di rumah dan restoran. Bagas juga tadi sempat menghubungi orang rumah agar mereka makan saja dan tidak usah menunggunya pulang.


Bagas dan sekretaris Frans makan dengan lahap, tidak ada satu butir nasi yang tersisa di piring mereka. Benar-benar bersih dan kalau perlu tidak usah di cuci sekalian.


Ketika semuanya baru saja selesai makan, tiba-tiba Radit datang. Ia melihat semua orang yang baru saja selesai makan itu dan sedang bercanda tawa di sana.


"Ibu tidak menungguku dulu?" tanyanya dan menatap semua orang bergantian, tiba-tiba tawa mereka memudar ketika Radit datang dan berdiri tidak jauh dari sana.


"Ibu pikir kamu pulang satu jam lagi, nak!" bu Sari tidak tahu kalau Radit akan pulang lebih awal dari biasanya.


Radit tampak marah, ia langsung pergi ke kamarnya begitu saja tanpa memandang ada bosnya di sana. Walapun Bagas sudah menajadi adik iparnya juga, tapi tetap saja etika pada seorang bos itu harus tetap ada.


.


.


.


.


.


VOTE ya VOTE! Tinggalkan like, tambahkan ke favorit!

__ADS_1


__ADS_2