Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kejadian langka


__ADS_3

"Ayo, masuk!" Ajak Arsilla yang sudah berdiri di ambang pintu masuk.


Rania tampak ragu untuk memasuki kamar Arsilla, entah kenapa pikiran buruk terus menyelinap masuk dalam pikirannya.


"Rania, ayo masuk!" Arsilla mengulang kalimatnya, mengajak Rania untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


"I-iya" jawab Rania gugup.


Dengan langkah pelan dan hati-hati, Rania mulai masuk dan melewati pintu kamar Arsilla. Setelah beberapa langkah ia masuk ke kamar itu, dengan cepat Arsilla menutup pintu kamarnya dan..


Clekkk..


Arsilla tidak hanya menutup pintunya, tapi ia juga mengunci pintu kamarnya.


Dengan wajah yang penuh misteri, dengan rambutnya yang berantakan, dan raut wajah datar dan sedikit pucat, Arsilla berjalan mendekati Rania yang sudah duduk di sofa. Ia berdiri persis di hadapan Rania. Arsilla menatap Rania dengan tajam, dan Rania di buat bingung oleh kakak iparnya itu.


"Kakak ipar mau bicara apa?" tanya Rania penasaran, ia juga tidak lupa menyelipkan seulas senyuman di bibirnya.


"Jangan banyak bicara! Sekarang kamu jawab pertanyaanku, kenapa kamu dengan beraninya mengadu sama papah atas semua yang aku lakukan padamu, Rania. Kenapa?" bentak Arsilla, membuat tubuh Rania terpelonjat karena terkejut.


"Ma-maksud kakak ipar apa, ya? Aku tidak mengerti!"


"Berhentilah berpura-pura gadis gembel!" pekik Arsilla membuat jantung Rania berdetak tidak beraturan, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kakak iparnya bicarakan.


"Tapi.."


"Bangun!" Arsilla memotong kalimat yang akan Rania katakan, tidak lupa ia juga mencekeram pipi Rania kuat-kuat sehingga menjunjung paksa tubuh Rania berdiri.


Rania merasa kesakitan akibat cengkraman Arsilla yang begitu kuat, Rania sudah berusaha melepaskannya namun ia tak mampu juga.


Arsilla mendekatkan bibirnya ke telinga Rania, hampir menempelkannya di sana, "Rania, dengarkan aku baik-baik! Jangan pernah bermain-main denganku. Kau dengar itu?" Seru Arsilla, kali ia ia tidak hanya mencekeram pipi Rania, ia juga menarik rambut Rania sampai tertarik ke belakang.


"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, kakak ipar. Aku sama sekali tidak pernah mengadu soal ini pada siapapun termasuk suamiku sendiri" jawab Rania dengan susah payah, karena mulutnya ikut terhimpit oleh kedua pipinya.

__ADS_1


"Ra-ni-a" Arsilla mengeja nama yang begitu indah itu dengan lirih namun terdengar jelas.


"Herrgghhh.. Kenapa kau selalu membuatku marah gadis gembel, aku membencimu!" geram Arsilla dan ia semakin memperkuat cengkraman pipi Rania, sehingga membuat Rania semakin kesakitan.


"Aku mohon lepaskan aku, kakak ipar! Aku bisa jelaskan, dan kita bisa bicara baik-baik" pinta Rania dengan memohon, namun Arsilla tetaplah Arsilla yang hatinya terbuat dari lebih ketad dari kata baja.


"Apa? Melepaskanmu yang jelas-jelas sudah ada dalam cengkramanku? Haha.. aku tidak akan melepaskanmu sampai aku benar-benar bisa melenyapkanmu dari muka bumi. Hahaha.." Arsilla semakin menjadi, bahkan ia seperti tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.


"Kakak ipar, aku mohon untuk yang terakhir kalinya, lepaskan aku! Karena aku juga bisa nekad menyakitimu. Aku sudah bilang padamu jangan pernah sekali-kali membangunkan seekor singa yang sedang tidur. Bahkan seekor kucing sekalipun kalau terlalu di injak ekornya, ia akan balik menggigit si pelaku" ucap Rania dengan tegas, ia terus berusaha melepaskan tangan Arsilla yang semakin kuat saja mencekaram rahang pipinya.


"Hahaha.. Silahkan saja kalau bisa, Rania si gadis gembel! Bahkan kau melupakan bayi yang ada di dalam rahim-mu itu. Aku bisa lebih nekad dari pada kamu, aku bukan saja akan mencelakakan kamu, tapi juga calon bayimu itu. Hahaha.. Malang sekali hidupmu, gadis gembel!" tantang Arsilla dan ia terus tertawa karena Rania pasti tidak akan pernah menyerangnya balik.


Tapi itu semua di luar dugaan Arsilla, Rania melepaskan tangan Arsilla sekuat tenaga yang ia miliki. Ia juga membalikan tangan Arsilla dan menguncinya ke belakang. Itu membuat Arsilla mengerang kesakitan, ini lebih sakit dari pada serangan Rania pada waktu itu.


Rania menyeret tubuh Arsilla dan mendorongnya jauh dari sana. Rania menjatuhkan bagian atas tubuh kakak iparnya itu ke meja tempat kecantikan Arsilla. Sehingga membuat kepala Arsilla terbenam ke meja, dan menoleh ke arah kanan.


"Lepaskan aku, gadis tidak tahu diri! Lepaskan aku!" bentak Arsilla dengan terus memaki Rania.


Rania sedikit kewalahan melawan kakak ipanya, karena Arsilla terus berontak berusaha melepaskan tangannya dari Rania.


"Aku peringatkan sekali lagi padamu, lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Arsilla dengan sebelah tangannya yang memukul keras meja itu.


"Aku akan jelaskan sekarang kakak ipar. Pertama-tama..." Rania menjelaskan kesalahpahaman di anataranya dengan Arsilla. Karena ia sama sekali tidak pernah mengadu atas perbuatan Arsilla ataupun Bagas sekalipun. Justru pak Brahma yang melihat dengan mata kepalanya sendiri di layar monitor cctv.


Di saat Rania sedang menjelaskan kesalahpahaman itu, mata Arsilla tertuju pada sebuah gunting kecil. Bibirnya menyeringai, dan tangannya perlahan berjalan merayap untuk mengambil gunting kecil itu. Walaupun susah karena tangannya yang tidak sampai untuk mengambil gunting kecil itu, Arsilla tidak menyerah sampai di situ. Ia terus berusaha mengambil gunting kecil itu sampak akhirnya gunting itu berhasil ia ambil.


Arsilla menatap betapa tajamnya ujung gunting kecil miliknya. Dan kali ini bibirnya kembali menyeringai. Ia melirik Rania menggunakan ekor matanya, Rania tampak sedang fokus meluruskan kesalahpahamn itu.


Sampai akhirnya, Arsilla-pun tersadar. Kalau ia masih berdiri di dekat pintu dan lupa untuk menyalakan lampunya. Ia pun segera berjalan menuju stop kontak lampu setelah tersadar dari lamunannya. Dan begitu lampu sudah nyala, ternyata Rania masih berdiri di dekat pintu juga. Rania takut gelap, makanya ia menunggu kakak iparnya menyalakan lampu terlebih dahulu.


"Duduk Rania!" Arsilla mempersilahkan Rania untuk duduk di sofa panjang di sana.


"Iya, kakak ipar" balas Rania mengangguk. Ia pun duduk di sebelah Arsilla yang kebetulan sudah duduk lebih dahulu.

__ADS_1


Arsilla menatap Rania, ia jadi ingat ucapan papahnya yang mengatakan:


"Silla, kamu tahu apa kalau kamu sampai mengulangi perbuatan kamu? Papah akan mengambil seluruh fasilitas yang telah papah berikan sama kamu, agar kamu tahu rasanya hidup sederhana seperti Rania."


Kalimat papahnya itu semakin meyakinkan Arsilla untuk meminta maaf pada Rania. Ia pun meraih tangan Rania dan menggenggamnya.


"Rania, kakak sadar selama ini kakak selalu membuatmu menderita. Jadi, kakak memintamu dengan begitu lapang dada untuk memaafkan kakak. Itupun jika kakak pantas mendapatkan maaf darimu," ucap Arsilla seraya memohon, membuat Rania tercengang seketika.


Rania masih terdiam, bahkan mulutnya sampai terbuka lebar karena tidak percaya akan kata-kata dari kakak iparnya itu. Arsilla juga tidak lupa menyebut dirinya dengan sebut 'kakak' pada Rania. Seakan-akan ia sudah merelakan kalau Rania menjadi bagian dari keluarganya. Rania tidak dapat berkata-kata lagi, ia tidak tahu harus menjawabnya dengan kalimat apa. Namun air mata yang melewati batas bendungannya sudah lebih dulu mengalir untuk menjawab isi hatinya yang terharu mendengar kakak iparnya sedang meminta maaf padanya.


Rania menepok-nepokan telapak tangannya pelan ke pipinya, untum memastikan apakah ini mimpi atau bukan? Ternyata bukan. Ini benar-benar sungguhan. Akhirnya Rania memilih memeluk kakak iparnya, dan Arsilla juga membalas pelukan Rania dengan hangat.


Ini momen yang begitu langka dan jarang terjadi, bahkan ini adalah untuk yang pertama kalinya untuk mereka saling berpelukan satu sama lain. Rania menangis bahagia di pelukan Arsilla, ia betul-betul terharu dengan kejadian hari ini, detik ini. Entah mimpi apa dia semalam, sampai mendapatkan hadiah sebaik ini. Iya, ini bisa di bilang hadiah bagi Rania.


Dengan lapang dada dan hati yang ikhlas, Rania mau memaafkan semua kesalahan Arsilla yang telah di perbuatnya selama ini.


"Aku minta, kakak ipar tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama!" pinta Rania setelah melepaskan pelukannya. Arsilla-pun mengangguk setuju.


"Iya, kakak janji tidak akan mengulangi hal yang sama, Rania" Arsilla kembali memeluk erat tubuh Rania, sehingga membuat Rania tenggelam dalam kebahagiaan yang tidak dapat di ukur oleh apapun.


Setelah momen yang mengharukan itu, Rania pamit untuk kembali ke kamarnya. Karena sebentar lagi Bagas juga akan kembali. Arsilla mengangguk, ia membuka kunci pintu kamarnya.


Ketika Rania keluar dari kamar Arsilla, ia berpapasan dengan Hera yang sepertinya akan pergi menemui Arsilla di kamarnya. Namun, Rania tidak memperdulikan hal itu. Kebahagiaan hari ini sudahlah cukup baginya. Semoga Arsilla benar-benar berubah menjadi orang baik. Mudah-mudahan.


.


.


.


Coretan Author:


Gimana nih? Udah pada tegang belum, ya? Hehe. Jangan lupa komen, like, vote dan tambahkan ke favorit, ya!

__ADS_1


__ADS_2