
Malam kini telah berganti menjadi pagi, sinar bulan yang menyinari gelapnya bumi akan di ambil oleh sang surya seperti biasanya. Di kediaman pak Burhan, Nadira tengah sibuk merapikan pakaian untuk berangkat kerja, meskipun ini masih pagi sekali, semangat Nadira untuk bekerja mencari nafkah menghidupi keluarga tidak pernah berkurang sedikitpun. Ia tidak mau menyianyiakan pekerjaannya. Ia akan selalu bersyukur atas pekerjaannya, pesan sang ibu selalu ia ingat, segala sesuatu harus di syukuri, apapun itu.
Berbeda dengan Radit yang nampak bermalas-malasan, manusia yang satu ini memang harus di lenyapkan dari muka bumi. Selain dia tidak pernah bersyukur, ia juga dengan beraninya selalu melawan sang ibu.
Pak Burhan juga nampak sudah siap untuk bekerja alakadarnya. Walaupun ia memiliki watak yang amat keras, yang menurun ke anak sulungnya, tapi ia tetap menyayangi keluarganya dengan mencari nafkah agar tetap bertahan hidup. Karena hidup itu keras, gak kerja ya gak makan.
Bu Sari sedang menyiapkan sarapan untuk pagi ini, sarapan sederhana tapi juga banyak di sukai oleh manusia kalangan petinggi yaitu pisang goreng. Ya meskipun Bagas selalu menawarkan kemewahan untuk keluarga Rania, bu Sari tetap rendah hati untuk memilih hidup sederhana saja. Karena berlebih-lebihan juga tidaklah baik.
Setelah merasa sudah rapi dari segi pakaian, Nadira pergi ke dapur untuk menghampiri sang ibu. Bu Sari nampak sedang menata pisang goreng yang masih panas di piring.
"Selamat pagi, bu!" sapa Nadira dengan wajah ceria, mengejutkan bu Sari saja.
"Hei, Nad. Sepagi ini kamu sudah rapi sekali" rasanya bu Sari ingin mencubit pipi putrinya, tapi tangannya di berlumuran minyak membuat ia mengurungkan niatnya.
"Memangnya Nad tidak pernah rapi, ya, bu?"
"Bukan begitu, nak. Tumben sepagi ini sudah rapi, nyapa ibu dengan wajah bahagia. Ada apa sebenarnya?" merasa tidak biasa, dan ada yang aneh dengan anaknya.
"Tidak ada apa-apa, bu. Memangnya Nad tidak boleh ya nyapa ibu?"
"Boleh, boleh sekali! Justru ibu senang mendapat sapaan dari putri ibu, apalagi jika setiap hari"
"Nadira akan melakukannya untuk ibu" mengecup pipi sebelah kanan bu Sari, Nadira begitu menyayangi ibunya, sama halnya seperti Rania. Berbeda dengan Radit, jauh berbeda.
"Terima kasih, Nad! Kalau begitu ibu akan suruh Nadira untuk menaruh ini ke meja depan, Nad mau melakukannya?" bu Sari menyodorkan piring berisi pisang goreng yang sudah di tata olehnya.
"Tentu saja, bu" dengan cepat mengambil piring itu dan beranjak dari sana.
Di ruang tengah sudah ada pak Burhan dan juga Radit yang baru saja bangun dan duduk dengan posisi kaki di angkat, dan di tumpangkan ke kaki sebelahnya. Terlihat dari wajahnya yang masih kusut, dan kotoran mata yang masih menempel berserakan di sekitar matanya. Begitu Nadira menaruh piring berisi pisang goreng itu di meja di hadapan mereka, langsung di ambil begitu saja oleh Radit dua potong sekaligus.
Nadira ikut duduk bersama mereka, mengambil sepotong pisang goreng perlahan karena masih panas. Nadira memperhatikan abangnya yang mengunyah nampak kepanasan. Merinding sendiri melihat abangnya yang super rakus itu.
Dasar bang Radit, kelakuannya dari dulu memang tidak pernah berubah!
Nadira menggeleng-gelengkan kepala melihat abangnya. Sambil menyantap pisang goreng, Nadira mencoba memecah keheningan yang sedari tadi saling berdiam diri, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibir mereka.
"Yah, hari ini ke pasar lagi?" tanyanya sambil mengunyah pisang goreng tersebut.
"Iya" jawab Burhan singkat, ia juga sedang sibuk menyantap pisang goreng.
"Oh" Nadira mengangguk, entah harus bicara apalagi, takutnya salah.
Nadira melirik ke abangnya, sebenarnya malas juga bertanya padanya. Tapi ia tidak mau berkumpul tapi saling diam.
"Bang, kok belum siap-siap? Memangnya bagian sift siang?" bertanya dengan hati-hati, karena abangnya ini mudah tersinggung urusan pekerjaan, apalagi dirinya yang di tempatkan di bagian tertentu, sedangkan abangnya hanya OB.
"Gak usah ngehina kamu, mentang-mentang suami Rania menempatkan kamu di bagian XX, kamu bisa seenaknya nginjek abang!" benar saja, dari nada bicara Radit tersinggung dengan pertanyaan Nadira.
Nadira tidak mau lagi mengeluarkan kata sepatahpun, meskipun ia harus membantah ucapan abangnya yang tidak benar, tapi Nadira lebih memilih diam, sepertinya itu lebih baik. Dan kini, di ruang tengah, mereka bertiga saling diam, hanya ada suara pisang goreng crispy yang di gigit oleh pelaku.
Bu Sari datang dari dapur membawa dua gelas kopi dan teh manis di nampan, kemudian di letakkan di atas meja, juga segera di ambil dan di seruput oleh Radit. Lagi-lagi harus Radit, manusia menyebalkan.
__ADS_1
Pak Burhan merasa sudah cukup memakan tiga potong pisang goreng, dan segera berdiri dari duduknya untuk berangkat bekerja.
"Di minum dulu kopinya, yah!" suruh bu Sari ketika suaminya sudah berdiri bersiap akan pergi.
Pak Burhan hanya menyeruput satu seruputan saja, kemudian pergi setelah bu Sari menyalimi tangannya.
Bu Sari ikut duduk di tengah-tengah kedua anaknya. Melihat putra sulungnya yang nampak cuek, dan putrinya yang memberi senyum ketika ia meliriknya. Tentu saja bu Sari tahu betul apa yang terjadi di antara kedua anaknya, tentunya masalah jabatan di perusahaan milik menantunya.
Bu Sari menghela nafas panjang, bagaimana lagi caranya untuk mendamaikan kedua anaknya ini. Tidak ada cara lain selain dirinya meminta Bagas untuk menaikan jabatan Radit, setidaknya lebih baik dari jabatan pekerjaannya saat ini, tapi itu mungkin tidak sembarangan. Karena perusahaan Bagas yang ternama, tidak akan mungkin memasukan atau menaikan jabatan karyawan, apalagi yang semula hanya OB.
Daripada harus membahas masalah pekerjaan kedua anaknya ini, bu Sari lebih baik menanyakan keadaan putri bungsunya.
"Nad, kamu sudah menghubungi Rania? Bagaimana keadaannya?"
Nadira mengingat-ingat, sepertinya terakhir kali menghubungi Rania dua hari yang lalu.
"Ibu mau bicara dengan Rania?" tawarnya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Boleh" bu Sari nampak senang akan bicara dengan putri bungsunya.
"Sebentar, Nadira video call Rania!" Nadira menyentuh layar ponselnya beberapa kali untuk menghubungi adiknya. Kemudian mempoisikan ponselnya di antara bu Sari dengan dirinya. Di tatapnya layar ponsel yang di sana tertera nama Rania.
"Hallo Ibuuuu.." teriakan heboh dari layar hp membuat bu Sari seketika bahagia ketika melihat wajah putri bungsunya yang muncul.
"Rania, ibu kangen sama kamu, nak" ucap bu Sari di barengi dengan air mata yang mulai membentuk kristal.
"Rania juga, bu. Rindu ibu.." seru Rania tidak mau kalah.
"Rania baik-baik saja, bu. Ibu sendiri baik kan, bu? Ka Nad juga?"
"Ibu baik-baik saja, nak!"
"Kakak juga baik-baik saja, Rania" sahut Nadira.
"Syukurlah, Rania senang dengarnya"
"Nak Bagas mana?" bu Sari mencari keberadaan menantunya di layar ponsel yang tidak kunjung muncul juga.
"Ini" Rania menggeser ponselnya tepat di depat wajah Bagas.
Nampak Bagas muncul di layar hp dalam keadaan masih tidur, kepalanya ia tempelkan persis di bagian dada Rania. Rania berusaha membangunkan Bagas dengan menutup kedua lubang hidungnya. Bagas yang merasa pengap, kesushaan untuk bernapas langsung bangun dan terpelonjat dari atas tempat tidur. Bu Sari dan Nadira yang melihatnya langsung menutupi mulutnya yang terbuka ketika melihatnya, tawa juga ikut menyelinap bersamanya. Lucu melihat kelakuan putri dan menantunya itu.
"Hei, apa yang kau lakukan?" raut wajahnya kesal melihat istrinya yang sedang mentertawakannya, Rania memang sering menjahilinya, dan Bagas pikir ia melakukannya lagi.
"Lihatlah, ada ibu! Kau tidak merindukan ibu?" Rania menunjuk layar hp dan memperlihatkan kepada Bagas yang masih mengerjapkan matanya untuk mengumpulkan nyawa.
Dengan cepat Bagas kembali ke posisi semula, yaitu membaringkan tubuh di samping istrinya, tapi tidak untuk menepemlkan wajahnya di bagian dada.
"Hallo bu" Bagas melambaikan tangannya, "ibu apa kabar?" lanjut menanyakan kabar.
"Ibu baik, nak Bagas. Nak Bagas sendiri baik?"
__ADS_1
"Baik, bu. Bu..." belum sempat Bagas melanjutkan bicaranya, tapi seseorang yang datang ke rumah bu Sari membuat Bagas menghentikan bicaranya.
"Permisi!" seseorang mengenakan stelan jas hitam rapi lengakp dengan dasi mengetuk pintu rumah yang terbuka.
"Silahkan masuk!" bu Sari mempersilahkan orang itu untuk masuk.
"Terima kasih! Kedatangan saya kesini hanya untuk menjemput Nadira seperti biasa, perintah dari tuan Bagas" jelas orang itu, ia sekretaris Frans.
"Siapa bu?" tanya Bagas dari layar hp.
Mendengar suara itu, tiba-tiba mata sekretaris Frans tertuju pada ponsel yang sedang Nadira pegang menghadap bu Sari. Sepertinya suara itu tidak asing di telinganya. Ingin memastikan lagi apakah suara itu benar dengan perkiraannya, sekretaris Frans mendengarkan lagi suara yang berasal dari layar hp.
"Ini, sekretaris Frans. Memangnya betul nak Bagas memberi perintah sekretaris Frans untuk selalu menjemput Nadira?"
Begitu mendengar nama Bagas yang di sebut oleh bu Sari, wajah sekretaris Frans berubah panik. Tidak tahu lagi apa yang di katakannya nanti pada tuannya jika sudah kembali. Tidak tahu juga tuannya itu akan menjawab apa pada mertuanya.
Bukannya menjawab, Bagas malah tersenyum mendengarnya. Sejak kapan ia memberi perintah sekretaris Frans untuk selalu menjemput kakak iparnnya? Merasa tidak mau mengacaukan misi sekretaris Frans yabg berusaha mendekati kakak iparnya, Bagas mengiyakan saja walaupun itu bohong.
"Bu, aku ingin melihat Frans!" pinta Bagas.
"Baik, nak" bu Sari menurut saja, dan menyuruh Nadira untuk memperlihatkan layar ponsel ke sekretaris Frans.
Di sana, di layar hp, yang sudah menghadap sekretaris Frans, Bagas memelototi sekretaris Frans dan memberikan kepalan tangan. Membuat sekretaris Frans ketakutan dan langsung menundukan tubuhnya. Sementara Bagas di sana menahan tawa, tapi berusaha ia tahan agar tidak pecah.
Nadira kembali menghadapkan layar hp ke ibunya.
"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja di sana. Ibu titip Rania ya, nak Bagas!"
"Iya, bu. Tidak perlu di minta, aku pasti akan menjaga istriku ini. Ibu tenang saja!"
"Alhamdulillaah kalau seperti itu, sepertinya sekretaris Frans sudah menunggu Nadira, nanti di lanjut lagi saja ya bicaranya!"
"Iya, bu. Daaahh..." sambungan terputus.
"Nadira berangkat ya bu" pamit Nadira seraya menyalimi ibunya.
"Iya, hati-hati!"
Nadira beranjak dari ruang tengah, menemui sekretaris Frans yang menunggunya di luar.
.
.
.
.
.
Vote sebanyak-banyaknya, ya!
__ADS_1