Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Tamu tak di Undang


__ADS_3

Pintu kembali di ketuk oleh seseorang tanpa mengucapkan salam ataupun permisi. Mau tidak mau, salah satu dari mereka harus bangkit untuk membukakan pintu. Dan saat itu, Rania lah yang membukakan pintu.


Rania terkejut melihat siapa yang datang. Ternyata pelaku yang sedari mengetik pintu rumah adalah para pengemis yang terdiri dari 9 orang. Entah kenapa dan entah dari mana mereka tiba-tiba muncul ke rumah yang paling sederhana di antara banyak rumah di sana.


Ada apa ini? Ya, aku tahu pasti seorang pengemis pasti akan meminta sumbangan. Tapi kenapa banyakan kayak orang mau tawuran kayak gini.


Rania tersenyum menyambut kedatangan mereka menamu di rumahnya.


"Maaf pak, bu, ada apa ya berbondong-bondong datang kemari?"


"Kami datang ke sini untuk meminta sumbangan pada nona" jawab salah satu dari mereka.


Aku? Kenapa aku? Kenapa mereka tidak datang ke rumah yang lebih mewah dari rumah ini.


"Aduh pak, bu, kalian, maaf ya. Kalau kalian sebanyak ini, saya pun tidak ada. Kalian bisa melihat rumah saya ini!" jawab Rania pada mereka semua.


"Katanya sudah jadi orang kaya, tapi ngasih sumbangan ke pengemis aja gak mampu."


"Jangan-jangan dia cuma pura-pura nikah sama orang yang katanya tuan tajir"


"Heh, mana mungkin juga ya orang kaya mau nikah sama orang miskin kayak mereka"


"Halu aja di tinggiin, tar kalau udah jatuh tau rasa dia"


Pembicaraan berasal dari segerombolan ibu-ibu biang gosip yang bisik-bisik ngegibahin orang aja terus kerjaannya. Tapi Rania masih bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. Di tambah mata sinis mereka yang sengaja di layangkan ke arah Rania sudah menjadi bukti nyata bahwa mereka ngomongin Rania.


Sabar Rania, sabar. Inget! Nanti kamu panen kurma yang pasti manis, sedangkan mereka panen karma yang pahit.


"Nona, tolong kita, kita belum makan sudah 2 jam!" kata salah satu dari mereka lagi.


Waduh, baru 2 jam aja udah ngeluh. Apalagi 2 hari bro. Haduh, kalian ini masih pada sehat, sayang badannya kalau cuma di gunakan buat ngemis yang gak seberapa, mending kerja aja.


"Iya, nona. Kasihanilah kami!" tambah mereka lagi.


"Iya, iya. Pak, bu, tapi saya cuma ada sedikit gak apa-apa ya"


"Tidak apa-apa nona, lima puluh ribu perorang juga sudah alhamdulillaah kok" jawab salah satu dari mereka dengan cepat.

__ADS_1


Haduh, ini ngemis atau apa sih? Maksa lagi.


"Ya sudah, tunggu sebentar!"


Rania kembali ke dalam dan mengambil tas slempang yang sengaja ia taruh di kursi tempat duduknya tadi.


"Siapa yang datang, Rania?" tanya bu Sari melihat Rania kembali mengambil tas slempang.


"Iya, siapa sih? Kok gak di ajak masuk?" sambung Nadira.


"Pengemis pro" jawab Rania sambil melengos kembali ke pintu.


Bu Sari dan Nadira hanya beradu tatap tidak mengerti dengan apa yang di katakan Rania barusan. Kemudian saling mengangkat bahu masing-masing untuk memberi tahu bahwa mereka tidak tahu dan tidak mengerti.


Rania membuka tas slempangnya dan memberi mereka uang masing-masing lima puluh ribu. Setelah mereka semua menerima uang sumbangan, mereka serentak mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dan pergi tanpa mengucap salam atau permisi lagi.


Huh, dasar pengemis jadi-jadian kali ya mereka.


Ketika Rania akan kembali masuk ke dalam, Rania kembali mendengar gibahan segerombolan ibu-ibu si biang gosip dan gibah.


"Sombong ya, ngasih pengemis aja sampe lima puluh ribu segala"


"Miskin mah miskin aja kali, gak usah sok kaya segala. Udah susah di bikin susah tuh hidup"


"Huh dasar, ninggalin sekolah yang jelas demi ngejalanin hidup dengan pura-pura tajir"


"Jangan-jangan juga, sebenarnya tuh dia cuma kerja dan jadi babu aja di rumah orang yang tajir, dia kan gak punya biaya untuk ujian sekolahnya nanti yang lumayan gede"


"Iya juga ya, bisa jadi tuh"


"Hahahahaha"


Rania memutuskan untuk kembali saja ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat agar pembicaraan gibah mereka tidka sampai masuk ke dalam. Dia takut ibu dan kakaknya sampai mendengar pembicaraan ibu-ibu itu yang masih terus berlanjut ngegibahin dirinya.


Gak ngasih salah, ngasih masih aja salah. Benar ya, manusia itu tidak akan ada benarnya di mata manusia lagi. Selalu saja yang di lakukannya itu akan salah di mata orang lain. Ya Tuhan, kenapa cobaan ini semakin bertubi-tubi. Aku yakin, suatu saat aku akan memanen kurma hasil sabarku ini.


Rania kembali duduk di antara ibu dan kakaknya dengan tubuh yang lemas, pandangannya kosong. Ibu dan kakaknya menatap Rania dengan heran.

__ADS_1


"Rania, kamu kenapa sayang? Kok lemes gitu?" bu Sari berusaha menanyakan keadaan anaknya, tangannya mengelus pangkal sampai ujung rambut Rania.


"Aku baik-baik saja, bu!" lagi-lagi Rania menutupi rasa sedihnya.


Maaf, bu. Rania harus bohong. Rania tidak mau buat ibu sedih. Rania tidak ingin ibu sakit lagi jika mendengar hal ini. Rania hanya ingin ibu sehat dan bahagia. Itu sudah jadi kekuatan Rania untuk menghadapi penderitaan Rania saat ini.


Tiba-tiba, pintu kembali di ketuk oleh seseorang tanpa mengucapkan salam atau permisi. Rania langsung bangkit dan kembali membukakan pintu.


"Jangan meminta sumbangan ke rumah i.." belum sempat Rania menyelasaikan kalimatnya, tapi tiba-tiba terhenti ketika ia lebih di kejutkan lagi dengan orang yang datang saat ini.


Dua orang pria berbadan tinggi dan kedua mengenakan jas hitam. Seseorang yang berdiri di hadapannya membuka kacamata hitam yang ia kenakan, dan menggantungkannya di depan dada.


Dua orang yang tidak asing lagi bagi dirinya. Dua orang yang sudah bisa kalian tebak siapa dia? Ya, siapa lagi jika bukan Bagas dan sekretaris Frans. Rania kembali melihat segerombolan ibu-ibu si biang gosip dan gibah yang kembali membicarakannya.


"Waw, siapa ya dia?"


"Kenapa pria setampan dan sekeren itu bisa datang ke rumah gadis halu itu?"


"Dia pasti cuma orang yang mau nanya alamat saja"


"Atau jangan-jangan mereka berdua rentenir"


"Mana mungkin rentenir tamoangnya setampan itu"


"Saya pilih yang itu!"


"Saya pilih yang belakang aja deh"


Rania menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ibu-ibu yang kurang kerjaan itu. Sementara Bagas melirik ibu-ibu sekilas dan memberikan senyuman remeh terhadap mereka semua.


"Silahkan masuk, tuan! Silahkan masuk sekretaris Frans!" Rania segera mempersilahkan mereka untuk masuk agar terbebas dari gibahan ibu-ibu kurang kerjaan itu. Ketika Bagas dan sekretaris Frans masuk, Rania kembali mendengar ocehan ibu-ibu itu, ia segera menutup kebali pintunya dengan rapat.


Ah, dasar ibu-ibu rempong. Gibah terus kerjaannya. Gatal kali mulutnya kalau gak di pake buat ngomongin orang.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Jangan lupa ajak teman, sahabat, mantan, pacara, suami, istri, ayah, ibu, kakek, nenek, adik, adik, tante, paman, uwa, tetangga, musuh dan lainnya untuk baca TUAN TAJIR. Rekomendasikan buat orang lain yang suka baca novel.


Like, vote, dan tambahkan ke favorit ya. Ya kalau boleh vote pakai koin ya, hehe😁


__ADS_2