
Pagi hari tiba, matahari sudah menampakkan sinarnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Rania sudah selesai menyiapkan air untuk mandi suaminya. Tapi, entah kenapa suaminya belum juga bangun dari tidurnya. Biasanya, jam segini Bagas sudah harus bangun, tapi tidak untuk pagi ini.
Kenapa dia bisa kesiangan ya?! Padahal selama aku tinggal di sini, aku belum pernah mendapati dia yang bangun lebih dari jam 6.
Rania mencoba memberanikan diri mendekat ke tempat tidur. Walaupun gemetar, tangan Rania berusaha di gunakan untuk mengguncang-guncang tubuh Bagas agar dia bangun. Tapi, ketika ia menyentuh tubuhnya, ia merasakan panas pada tubuh Bagas.
Dengan cepat Rania mengangkat tangannya.
Astagfirullaah, kenapa badannya panas banget. Apa dia sakit. Apa dia bisa sakit? Padahal menurutku penyakit saja tidak mau dekat-dekat dengannya. Eh, tunggu sebentar, tapi dia manusia juga.
"Tuan, tuan!" Rania mengguncang-gunjangkan tubuh Bagas.
"Hm" Bagas berdeham, tapi matanya masih terpejam.
"Apa kau sakit?" tanya Rania yang sebenarnya tidak harus ia tanyakan. Toh, ia sudah memegang tubuhnya yang panas.
"Hm" deham Bagas lagi.
Dia beneran sakit.
"Kalau begitu saya akan membawamu ke rumah sakit!"
"Tidak perlu!"
Eh kenapa dia tidak mau di bawa ke rumah sakit, padahal kan badannya panas banget. Apa harus di bawa ke rumah makan aja ya, hehe.
"Ya sudah, saya panggil dokternya saja untuk datang je sini!"
"Aku bilang tidak perlu, apa kau tidak dengar" bicara Bagas dengan nada lumayan tinggi.
Sakit aja masih aja jadi orang yang menyebalkan.
Kemudian Rania berpikir, nama sekretaris Frans tiba-tiba muncul di kepalanya. Benar, ia harus menghubungi sekretaris Frans. Rania mengambil ponsel yang ia letakkan dia atas karpet tempat tidur bekas semalam.
Rania mencari kontak sekretaris Frans, setelah ketemu ia langsung klik menelpon. Ponsel di dekatkan ke telinganya.
"Hallo, sekretaris Frans. Kau dimana?"
__ADS_1
"Saya sudah on the way menuju rumah tuan, nona" jawab sekretaris Frans dari seberang sana.
"Kebetulan sekali, kalau bisa kau harus secepatnya sampai di sini!"
"Baik, nona"
TUUUTT TUTTT
Sambungan terputus. Rania menaruh ponselnya di sofa. Ia melihat Bagas masih dalam keadaan mata terpejam. Rania memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi ke dapur. Rania menemui bi Asih agar ia membuatkan bubur untuk Bagas.
Mendengar permintaan nonanya, ini berarti akan menjadi tugas pertama kali untuk membuatkan bubur. Karena sebelumnya, saat tuannya sakit tidak pernah mau jika ingin di buatkan bubur. Bagas hanya mengatakan bahwa bubur hanya di berikan untuk orang yang lemah. Baginya, ia adalah manusia terkuat.
"Nanti, tolong antarkan ke kamar jika buburnya sudah jadi, bi!"
"Baik, nona"
Permintaan membuatkan bubur pada bi Asih terdengar di telinga pak Brahma. Ia sedikit menampakkan kekhawatirannya, tapi jika ia ikut sibuk mengurus Bagas, maka siapa yang harus mengurus kantor. Brahma memilih untuk mengurus kantor di banding Bagas, anaknya. Memang sejak dulu ia mengutamakan pekerjaan di banding anaknya. Dan Bagas sudah terbiasa oleh itu.
Sedangkan Arsilla, ia malah menyalahkan Rania. Ia menuduh Rania tidak becus sebagai istri.
"Awas saja kalau Bagas sampai kenapa-kenapa, kamu yang bakal saya tuntut!" ancam Arsilla kepada Rania, tidak lupa telunjuk di tunjukkan tepat di depan wajahnya.
Arsilla semakin hari semakin benci pada Rania, karena menurutnya Rania semakin hari semakin berani dan tidak lagi takut dengan ancamannya. Arsilla memilih untuk pergi balik ke kamarnya dari pada harus berdebat lagi dengan si gadis kampungan menurutnya.
Suara mobil parkir terdengar, Rania sudah dapat meyakini bahwa yang datang adalah sekretaris Frans. Dan benar saja, begitu pintu di buka oleh sang pelayan yang bertugas menjaga pintu, muncul sosok sekretaris Frans di baliknya.
Sekretaris Frans berjalan mendekat ke arah berdirinya Rania.
"Selamat pagi sekretaris Frans" Rania menyapa sekretaris Frans duluan.
"Pagi, nona" sapa balik sekretaris Frans, "Untuk apa anda memintaku secepatnya datang ke sini? Sopir sampai tancap gasspoll ketika mendapat perintah nona"
Mendengar yang di katakan sekretaris Frans, Rania nyaris tertawa jika tidak segera ia tahan.
"Dia sakit, makanya saya minta anda untuk secepatnya datang ke sini. Saya sudah tanya dia, apa dia ingin di bawa ke rumah sakit atau dokter yang datang ke sini. Dia bilang tidak perlu. Kau sudah lama dekat dengannya, pasti kau tahu apa yang harus di lakukan jika ia sakit"
"Apa saya boleh bertemu dengan tuan?"
__ADS_1
"Oh ya, tentu saja"
Rania berjalan di ikuti oleh sekretaris Frans menuju kamar. Sampai di kamar ia melihat Bagas masih tidur terlentang. Rania mempersilahkan sekretaris Frans untuk duduk di sofa.
"Biasanya tuan memanggil dokter Firman jika ia sakit" bicara sekretaris Frans pada Rania yang duduk di sampingnya.
"Ya sudah, kalau begitu anda telpon saja dokter Firman untuk segera datang ke sini!"
"Baik, nona"
Sekretaris Frans merogoh ponsel di saku jas hitamnya. Kemudian mencari kontak dokter Firman, ia mnghubunginya.
"Hallo. Selamat pagi dokter"
"Apa anda bisa datang ke tempat kediaman tuan Bagas sekarang?"
"Baik, dokter. Terima kasih"
Begitu percakapan sekretaris Frans dengan dokter Firman di telpon. Dari kalimat yang di ucapkan sekretaris Frans Rania dapat menebak kalau dojter Firman pasti akan segera datang.
Di saat dia sakit, orang yang bukan siapa-siapa, hanya orang terdekat sebatas rekan kerja yang perduli padanya. Ayah dan kakaknya hanya menunjukkan rasa khawatir tanpa perduli. Kasihan juga dia.
15 menit kemudian, pintu kamar di masuki oleh seseorang menggunakan pakaian dokter. Sudah pasti yang adalah dokter Firman. Rania dan sekretaris Frans langsung berdiri dari duduknya.
"Segera di periksa dok!" titah Rania pada dokter Firman untuk segera memeriksa suaminya.
Dokter segera memasang stetoskop dan menempelkannya pada bagian dada Bagas. Begitu stetoskop di tempelkan pada bagian dada Bagas, seketika mata Bagas terbuka sempurna, hingga mendekati kata melotot. Rania, sekretaris Frans, dokter Firman sekaligus yang melihatnya merasa terkejut.
Kenapa dia? Ya Tuhan, kira-kira dia sakit apa ya? Tolong jangan beri dia penyakit yang berat. Akan merepotkan sekali pastinya. Dia pasti akan berbuat semena-mena, dengan alasan sakit ia dapat menyuruh orang sesuka hatinya.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Hy semua readers setia TUAN TAJIR. Menurut kalian, kira-kira Bagas sakit apa ya? Eh ada yang mikir Bagas pura-pura sakit gak? Kata Rania badan Bagas kan panas ya, berarti beneran sakit kali ya. Tapi nih, menurut kalian Bagas beri penyakit apa ya yang cocok, bisa request nih di kolom komentar. Hehe.
Like, vote, komen dan tambahkan ke favorit ya, yang belum.
__ADS_1
Terima kasih😊