Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Pengakuan


__ADS_3

Setelah merasa puas tertawa, akhirnya Reyhan mau berhenti juga. Ia juga tidak enak karena masih ada Rania di hadapannya.


"Maafkan aku!" pinta Reyhan


"Santai aja! Lagian gak apa-apa kok"


"Aku lihat suami kamu begitu mencintai kamu tuh"


Rania mendecak, "Ck, ngeledek nih ceritanya?"


"Enggak! Siapa yang ngeledek, kan aku sempet dengerin curhatan kamu waktu di angkot, dia begitu menyebalkan dan membuatmu selalu menderita. Tapi kenapa sekarang dia jadi berubah, seakan-akan dia takut kalau kamu di rebut sama orang lain?"


Rania menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Mungkin Tuhan telah memberinya hidayah, supaya jadi orang yang lebih baik lagi. Ya, baguslah!"


"Bagus apanya?"


"Bagus kalau dia benar-benar jadi baik"


"Oh, aku kira bagus kalau gak ada orang yang berani rebut kamu dari dia"


Rania tersenyum. Ia mengambil ponsel di tas slempangnya untuk melihat jam, ternyata waktu sudah siang. Ia harus segera ke ruko.


"Udah siang, kita ke ruko sekarang" ajak Rania pada Reyhan.


Kemudian Reyhan mengangguk mengiyakan, mereka berdua pun beranjak dari kursi, keluar dari cafe dan pergi naik angkot.


*****


Di sebuah gedung Briliant Group, Bagas memasuki ruangan pribadiya. Ia menjatuhkan tubuhnya pada sofa dan menyandarkan tubuh ke sandarannya. Bagas menarik nafas panjang, dirinya sendiri tidak percaya bahwa ia akan meminta maaf pada orang lain. Padahal selama ini ia-lah yang suka menerima permintamaafan dari orang.


Bagas tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya, ia merasakan akhir-akhir ini dirinya seperti berubah seratus delapan puluh derajat.


Ketika ia sedang memikirkan tentang perubahan dirinya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


Toktoktok


"Masuk!"


Seseorang membuka pintu, dan munculah sosok sekretaris Frans di baliknya. Sekretaris Frans langsung masuk setelah mendapat izin dan menutup pintunya kembali.


Bagas mengangkat tubuhnya dari sanadaran sofa.


"Duduklah!"


Tentunya sekretaris Frans menurut dengan perintah tuannya.


"Frans"

__ADS_1


"Iya, tuan"


"Kau suruh orang yang mengawasi istriku untuk lebih ketat lagi, agar aku tidak kecolongan!"


"Baik, tuan"


Kenapa lagi tuan ini. Apa dia memang sudah benar-benar berubah. Bukannya tuan tidak memperdulikan nona Rania. Tapi kenapa akhir-akhir ini seolah-olah tuan adalah orang yang begitu memperdulikan dan mengkhawatirkannya. Apa ini tanda kalau tuan sudah benar-benar jatuh cinta pada nona Rania? Ah, entahlah. Aku tidak mengetahui soal itu.


"Frans" panggil Bagas lagi.


"Iya, tuan"


"Apa kau tahu?"


"Tidak, tuan"


Bagas melirik tajam sekretaris Frans.


"Aku belum selesai bicara, jadi jangan kau potong terlebih dahulu!"


"Maafkan saya, tuan"


"Tadi, aku merasa jadi orang lemah. Paling lemah. Merasa jadi orang bodoh. Bahkan sangat bodoh. Seorang tuan tajir yang paling di hormati, meminta maaf pada pecundang yang mendekati istriku kemarin. Sialan!" gerutu Bagas.


Sektetaris yang mendengarnya hanya diam dan menyimak curahan hati tuannya. Hanya mengangguk-anggukan kepalanya yang ia lakukan.


"Frans" panggil Bagas lagi dengan suara yang terdengar kesal.


"Apa kau dengar aku bicara?"


"Tentu saja, tuan"


"Lalu kenapa kau diam saja?"


"Tuan yang minta agar saya tidak memotong pembicaraannya"


"Itu tadi, hehhhh" Bagas terlihat greget melihat sekretaris Frans yang tiba-tiba ikutan menjadi orang bodoh.


"Tuan"


"Apa?"


"Apa anda tahu, anda melakukan semua itu karena apa?"


Bagas terdiam, mencoba mencerna maksud pertanyaan sekretaris Frans.


"Apa?"


"Mungkin anda sudah jatuh cinta pada nona Rania" ucap sekretaris Frans dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Lagi-lagi Bagas melirik mata sekretaris Frans tajam.


"Kau bilang apa, Frans?"


"M-maaf, tuan, jika saya lancang. Saya tidak punya maksud apapun. Maafkan saya, tuan!"


Sekretaris Frans menunduk, ia takut kalau apa yang baru saja ia katakan itu salah dan membuat tuannya marah. Tapi tiba-tiba saja Bagas malah tertawa terbahak.


"Hahahahaha.."


"Kau benar Frans!"


Sekretaris Frans terkejut, merasa tidak percaya kalau tuannya akan mengatakan pengakuan tentang perasaannya. Dan benar dugaan sekretaris Frans selama ini, kalau perubahan tuannya itu di sebabkan oleh dirinya yang sudah mulai jatuh cinta.


Apa aku tidak salah dengar, barusan tuan mengatakan sebuah pengakuan, dan membenarkan dugaanku? Apa ini mimpi? Tidak, ini adalah nyata. Tapi kenapa bisa, ya? Eh, syukurlah kalau begitu mungkin perubahan tuan juga tidak akan sekejam seperti dahulu. Tapi kalau tuan jadi budak cinta, apa dia tidak akan lebih merepotkan aku. Ingat, Frans. Tidak ada yang namanya merepotkan untuk tuan. Semua hanya tugas dan perintah yang harus kamu kerjakan.


Sekretaris Frans masih tidak percaya, benteng pertahanan hati, kerasnya batu dan dingin sampai bekunya hati seorang tuan tajir dapat mencair meleleh oleh satu orang, yaitu Rania.


Selama bertahun-tahun ia menemani tuannya, baru kali ini ia melihat bahkan mendengar pengakuan tuannya sendiri kalau dia sedang jatuh cinta. Sungguh aneh tapi nyata. Ia pikir tidak akan ada orang yang dapat mengubah tuannya itu apalagi sampai seratus delapan puluh derajat seperti ini. Sekretaris Frans sangat salut pada nonanya itu, telah berhasil mencuri hati seorang tuan tajir.


"Frans" namanya kembali di sebut oleh Bagas


"Iya, tuan"


"Apa yang membuat kau senyum-senyum sendirian?"


Ternyata sejak sekretaris Frans memikirkan perubahan tuannya itu, tanpa ia sadari, ia senyum-senyum sendiri.


"Tidak ada, tuan. Jadi, apalagi yang harus saya kerjakan?"


"Pergilah! Ambilkan minum, aku haus!"


"Baik, tuan"


Setelah mendapat perintah, sekretaris Frans langsung menurut dan keluar dari ruangan pribadi Bagas untuk mengambilkan minum.


Bagas kembali menyandarkan tubuhnya, menatap langit-langit kosong ruangan pribadinya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Ra-ni-a" Bagas sengaja mengeja namanya.


"Nama yang indah, tapi aku lupa nama panjangnya siapa. Tapi, itu tidak masalah! Yang terpenting sekarang aku sudah mengingat baik-baik namanya di kepalaku. Di hatiku"


Bagas tersenyum, senyum-senyun sendiri, tangannya ia lipatkan untuk jadi bantalan kepala. Bagas terlihat seperti anak remaja yang sedang kasmaran, walaupun usianya yang sudah mau menginjak di angka 35 tahun. Baru kali ini ia merasakan apa itu namanya cinta. Usianya sama sekali tidak melunturkan wajahnya yang tampan. Wajah dinginnya kali ini berubah menjadi hangat. Wajahnya tidak selalu datar, sekarang ada senyuman di wajahnya. Sehingga membuatnya terlihat jauh lebih tampan.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR


Semakin hari Bagas semakin mulai jadi budak cinta. Apakah Bagas akan berhasil membuat Rania jatuh cinta juga kepadanya. Baca terus kelanjutan episodenya.

__ADS_1


Jangan lupa tambahkan ke favorit agar dapat notifikasi update nya ya. Like, vote juga. Yang masih ingat nama panjang Rania bisa tulis di kolom komentar ya.


Yang minta up banyak lagi tenang aja, sedang saya usahakan.


__ADS_2