
Hari ini adalah hari terakhir Bagas dan Rania berada di Bali. Mereka menyempatkan diri untuk membeli sesuatu sebagai oleh-oleh selain manik-manik dan kaus khas Bali yang sudah di beli kemari. Karena Oleh-oleh akan menjadi prioritas bagi pengunjung, baik pengunjung lokal maupun dari mancanegara.
Rania mengajak Bagas untuk mengunjungi toko makanan khas dari Bali, di sana banyak juga pengunjung yang memburu makanan tersebut. Apalagi pengunjung dari mancanegara yang wajib mencicipi makanan khas Indonesia. Tubuh Rania sampai bertabrakan ketika akan masuk ke toko dengan salah seorang bule yang memiliki badan tinggi, kekar. Dengan cepat Bagas menarik tangan Rania agar terhindar dari segerombolan manusia yang berlalu lalang.
Aw, sakit. Rintih Rania sambil mengusap bahunya.
"Kau tidak kenapa-kenapa?" Bagas merengkuh tubuh istrinya.
"Tidak apa-apa!" sekilas memberi senyum, padahal jelas-jelas ia merasa kesakitan.
"Kau mau beli makanan apa?"
"Kita lihat-lihat saja dulu," Rania mengedarkan pandangannya setelah masuk ke dalam toko, menengok ke kanan dan ke kiri, "kita ke sana saja!" Rania menunjuk ke arah sebelah kanannya. Bagas ikut saja, terserah istrinya saja mau beli apa.
"Kau mau pilih yang mana?" tanya Rania pada Bagas setelah berada di depan deretan aneka makanan oleh-oleh khas Bali.
"Aku serahkan semua padamu, kau kan yang mau?"
"Setidaknya beri aku pendapat, menurutmu mana yang enak?" lagi-lagi menanyakan hal yang tidak akan mendapatkan jawaban.
"Semua terlihat enak, sepertinya. Itu semua kembali padamu mau memilih yang mana?" Dan benar, sebanyak apapun Rania bertanya, Bagas akan tetap menyerahkan padanya tentang makanan mana yang akan di beli.
"Ya sudah, bagaimana kalau yang ini?" Rania mengambil sebungkus, kue khas yang terlihat banyak di beli oleh pengunjung.
"Ambil, kalau bisa yang banyak! Kau tidak perlu memikirkan perihal harga, aku akan membayarnya!"
"Tapi semua terlihat enak" rajuk Rania sambil memeluk kue yang baru saja di pilihnya.
"Beli semua yang ingin kau beli, jangan sungkan!" titahnya, kemudian pergi berjalan beberapa meter dari tempat berdirinya untuk melihat makanan yang lainnya lagi.
Setelah memborong banyak makanan, Rania meminta Bagas untuk membeli sesuatu lagi, tentunya yang paling khas dari Bali. Selama hidupnya, Rania tidak pernah pergi sejauh ini, apalagi untuk liburan. Maka dari itu, Rania memanfaatkan waktunya dengan sebaiknya-baiknya, dengan cara membeli oleh-oleh yang pastinya orang di rumah besar kemungkinan sedang menanti.
"Sayang, kau mau beli apa lagi?" tanya Bagas yang sedang bersusah payah membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
__ADS_1
"Tidak usah banyak bertanya, kau tadi terus saja mengatakan terserah! Jadi, sekarang terserah aku mau beli apa? Kau cukup membayarkannya!" ujar Rania tanpa menoleh, ia sibuk memilih sesuatu yang akan ia beli.
Bagas menghela nafas panjang, istrinya sekarang benar-benar mampu menaklukannya. Bahkan ia tidak bisa marah sekalipun Rania membuat dirinya kesal.
"Ya sudah, cepat kau beli yang akan kau beli! Aku akan menghubungi pilot pribadiku untuk menyiapkan kepulangan kita besok. Kita juga harus mengemas barang-barang kita" ucap Bagas sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah!" Rania mengangguk paham.
Setelah barang bawaan di tangan Bagas penuh, bahkan ia tidak dapat menambahnya lagi rasanya, Rania juga membawa barang yang ia beli walaupun hanya beberapa di tangannya, Bagas kembali bertanya pada istrinya.
"Apa ada lagi yang mau kau beli?"
"Sepertinya ini sudah cukup. Lihatlah, tanganmu sudah penuh!" Rania mengedikan dagunya ke arah tangan Bagas yang menenteng banyak sekali kantong plastik.
"Kalau begitu kita kembali villa" Bagas nyaris melangkahkan kaki, seketika bibir lembab Rania mendarat di pipi Bagas.
"Maaf kalau aku merepotkanmu!"
"Terima kasih banyak, suamiku! Kemarilah, aku bantu bawakan beberapa!" menarik tangan Bagas untuk mengambil sebagian kantong plastik.
"Tidak usah, sayang! Biar aku saja, ini tidak seberapa. Bahkan aku dapat membawa dua kali lipat banyaknya dari ini" segera mengalihkan dari tangan Rania yang berusaha meraihnya, kemudian mengangkatnya agar istrinya percaya kalau ia tidak keberatan.
Huh, dasar bandel! Aku tahu kau begitu keberatan, tetap saja kau berbohong. Pakai acara kalau kau masih mampu membawa lebih banyak dari ini. Padahal aku tahu, kau tidak pernah membawa barang bawaan sebanyak ini.
Rania menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah suaminya yang sedang berusaha menahan beratnya barang bawaan yang ia bawa di tangannya. Tapi ia tetap saja berlaga sok kuat, dasar!
"Terima kasih banyak ya sudah membayarkan ini semua!" ucap Rania sambil melayangkan kantong plastik di tangannya ke udara.
"Haha, tidak perlu kau ucapkan terima kasih! Aku suamimu, kau jangan sungkan begitu! Uangku uangmu juga" ujar Bagas.
Iya juga sih, uang suami adalah uang istri. Uang istri ya uang istri. Betul begitu? Haha.
"Ayo, kita harus segera kembali ke villa!" ajak Bagas kemudian kembali ke tempat di mana ia memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
*****
"Sesuai waktu yang sudah saya jadwalkan" diam, "Baik" katanya lagi beberapa saat seseorang yang ia telpon berkata.
Kemudian Bagas mematikan sambungan ponselnya setelah mengatakan kalimat terakhir kepada orang yang ia telpon barusan. Bagas yang semula berdiri di dekat tempat tidur membelakangi sang istri, kemudian membalikkan badannya. Melihat Rania seperti sedang memikirkan hal yang tidak ia ketahui. Di wajahnya tergambar jelas rasa takut dan kepanikan yang sepertinya akan kembali melanda.
Bagas berjalan menghampiri, duduk di tepi ranjang samping istrinya.
"Kau kenapa lagi?" sambil menyandarkan kepala istrinya ke bahunya, mengelus rambut istrinya dengan lembut.
"Memangnya harus kembali menaiki pesawat, kau kan bisa melakukan apapun. Aku ingin naik jalur laut saja, apa kau bisa melakukannya untukku?" tentu saja Rania trauma ketika ia pingsan di pesawat gara-gara phobia.
"Kau tidak usah takut, percaya padaku! Nanti, aku pastikan kau tidak akan mengalami hal seperti kemarin. Kau tidak boleh takut! Tidak usah panik! Yang terutama tidak boleh tegang! Kau harus tetap rileks dan kendalikan dirimu, aku yakin semuanya akan baik-baik saja! Percayalah!" menggenggam erat tangannya, sekilas mendaratkan ciuaman di pangkal rambutnya.
Rania menghela nafas panjang, kembali mengembangkan senyum setelah ia meyakinkan dirinya sendiri. Semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
.
.
Vote sebanyak-banyaknya, ya!
Mau melihat foto visual mereka lebih banyak lagi? Langsung cek saja di channel youtube saya, Windy Rahmawati.
Adegan nyata visual mereka bikin baper sejagat pernovelan akan segera di update di akun youtube saya, SUBSCRIBE ya!
__ADS_1