
Dokter tersebut sama sekali belum mengatakan walau hanya sepatah kata. Ia masih diam, sementara Bagas terus saja melontarkan pertanyaan bahkan sedikit makian karena Dokter itu tidak mau menjawab pertanyaannya. Bukan apa-apa, Bagas hanya takut kalau benar sampai terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya.
Bahkan Bagas berusaha untuk menerobos masuk, tapi Brahma segera menarik Bagas untuk menahannya. Sebelum Dokter menjawab semua pertanyaan tentang kondisi Rania saat ini.
"Sabar dulu, Tuan! Anda menginginkan jawaban dari saya, sedangkan anda sendiri tidak memberi saya kesempatan untuk bicara," tutur Dokter yang terlihat tengah menahan rasa kesalnya terhadap Bagas. "Istri anda baik-baik saja."
Bagas seketika merasa lega saat mendengarnya. "Lalu kenapa dia sampai pendarahan, Dok?"
"Sepertinya perut istri anda mengalami benturan yang sangat keras sebelumnya, sehingga mengakibatkan pendarahan. Namun janin yang ada di dalam kandungannya alhamdulillaah masih baik-baik saja. Itu semua atas kehendak Tuhan, tuan."
Bagas dan Brahma tak henti-hentinya mengucapkan syukur dan merasa sangat lega, karena kalau sampai terjadi sesuatu buruk pada janin yang ada di dalam kandungan Rania, maka hukuman yang akan di terima Hisyam, Arsilla dan Hera akan semakin bertambah berat.
"Dok, apa saya sudah bisa masuk untuk melihat kondisinya?" Bagas sedikit memohon.
"Tentu saja. Hanya saja anda jangan terlalu sering mengajaknya bicara! Karena istri anda harus banyak istirahat, darah yang keluar dari tubuh istri anda membuat tubuhnya terasa lemas," pesan Dokter berjaga-jaga.
"Baik, Dok. Terima kasih!" Bagas segera menghambur masuk, di susul oleh Brahma yang tak kalah tidak sabarnya ingin melihat menantu kesayangan.
Sesampai di dalam, Bagas menatap sayur Rania yang terbaring di atas ranjang pasien. Langkahnya terasa sangat berat untuk mendekati istrinya, masih tidak percaya kalau Rania akan masuk ke rumah sakit dalam keadaan yang seperti ini. Masih baik janinnya tidak kenapa-kenapa, ia tidak tahu akan seperti apa rasanya kalau sampai ia kehilangan calon anak dalam kandungan Rania. Pastinya ia akan sangat terpukul dan hancur lebur perasaannya.
Di sana sudah tidak ada suster maupun perawat, karena semenjak Bagas masuk mereka keluar. Bagas menarik kursi yang ada di dekat ranjang pasien, kemudian menggesernya ke samping Rania, lalu duduk di sana.
Ia menatap kedua mata Rania yang masih terpejam, kemudian menatap ke bagian perutnya yang kini kian membesar. Sampai akhirnya pandanganya tertuju pada lengan gadis itu. Ia meraih lengan milik gadis itu, di lihatnya ada lebam di sana.
"Pasti ini gara-gara tali yang mereka ikatkan ke lenganmu terlalu kencang, sayang. Mereka benar-benar kurang ajar!" Emosi mulai menyulut pada tubuh pria itu, namun seseorang datang untuk mengingatkan.
"Sudah, Bagas! Tidak perlu kamu bahas lagi masalah tadi. Yang terpenting sekarang, Rania dan calon anak kamu baik-baik saja!" tutur Brahma.
"Iya, pa. Aku masih tidak habis pikir, mengapa kakak dan tante Hera tega melakukan semua ini?"
Brahma menghela napas panjang, sebenarnya ia juga tidak tahu mengapa putri beserta adik iparnya dengan berani melakukan itu semua.
"Papa juga tidak tahu. Papa kecewa dengan mereka, dan sekarang papa tidak bisa berbuat apapun untuk membebaskan mereka. Papa biarkan mereka untuk belajar bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan, agar mereka jera. Dan mereka tidak akan lagi mengulangi hal sama seperti ini lagi nantinya."
"Iya, pa. Aku juga mengerti perasaan papa bagaimana. Karena bagaimanapun kak Silla itu kakak aku, dan putri papa." Bagas bangkit dari duduknya, kemudian memeluk papanya berusaha untuk saling menguatkan.
__ADS_1
Semenjak kehadiran Rania, hubungan antara anak dan orang tua yang satu ini lebih membaik dari pada sebelumnya. Karena sebelum Rania hadir di tengah-tengah keluarga mereka, jangankan bicara, hanya untuk sekedar bertanya pun jarang sekali terdengar.
***
Pagi harinya, sekretaris Frans datang kembali ke rumah sakit. Dia juga sudah menghubungi Bagas untuk datang ke sana karena ada hal yang akan dia bicarakan.
"Permisi, tuan, nona!" sekretaris Frans membuka pintu ruangan Rania di rawat, karena pagi ini Rania sudah di pindahkan, bukan lagi di UGD.
"Masuk, Frans!" Bagas nampak sedang menyuapi Rania.
"Bagaimana keadaan nona saat ini?" sekreatris Frans bertanya pada Rania sendiri.
"Sshttt.. Jangan ajak istriku berbicara, dia harus banyak istirahat! Biar aku yang jawab, dia sudah membaik," jawab Bagas mewakili.
"Oh, maaf. Saya tidak tahu, tuan. Syukurlah kalau nona sudah membaik, saya senang dengarnya," sekretaris Frans memberi Rania seulas senyum, Rania membalasnya.
Sekretaris Frans berdiri menunggu tuannya selesai menyuapi nonanya di luar. Agar ia bisa menyampaikan hal yang akan ia bicarakan nanti tanpa nonanya dengar.
Sepuluh menit kemudian, Bagas keluar dari ruangan. Dia duduk di samping sekretarisnya di bangku besi yang tersedia di sana.
Sekretaris Frans merogoh saku jasnya, dan menyerahkan sebuah ponsel. "Ini ponsel milik nona yang polisi temukan di mobil yang di gunakan oleh penculik itu."
"Terima kasih, Frans! Jadi bagaimana, apa mereka di beri hukuman setimpal atas kejadian ini? Em, termasuk kakak dan tanteku." tanya Bagas penasaran, karena ia belum bisa datang ke kantor polisi untuk menemuinya.
"Sesuai dengan apa yang mereka perbuat, tuan. Kakak sekaligus tante anda juga ikut di pidanakan selama sekian tahun," sekretaris Frans merasa prihatin atas apa yang menimpa keluarga tuannya.
Bagas tertegun, bagaimana jika ada media yang mengetahui perihal ini. Pasti mereka akan meliput untuk mencari keuntungan karena hampir se-Indonesia tahu siapa Bagas.
Bagas masih menggenggam, ponsel milik Rania di tangannya. Tiba-tiba ponsel itu bergetar, dan menampilkan nama Diva di layar ponselnya. Karena tidka mungkin ia menyerahkan ponsel itu langsung pada istrinya, karena Rania harus istirahat. Maka dari itu Bagas memilih untuk menjawab telpon dari teman istrinya itu.
"Halo, ada perlu apa?" tanyanya setelah menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Ini suaminya, ya?" sebelumnya Diva mengecek nama yang ia telpon, takutnya ia salah menekan nomernya.
"Iya. Ada kepentingan apa? Apa ada masalah di ruko?"
__ADS_1
"Tidak ada. Saya ingin bicara dengan Rania-nya, ada?"
"Ada. Tapi saat ini istri saya tidak bisa di ganggu, sedang istirahat total dalam masa pemulihan." jawab Bagas.
Di sebrang sana, Diva mengerutkan dahinya. "Pemulihan? Kalau boleh tahu, memangnya Rania kenapa, ya?" Diva sedikit penasaran.
"Tadi malam pendarahan, dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit."
"Apa? Rania pendarahan? Terus sekarang kondisinya gimana? Baik-baik saja kan?" Diva bertanya secara berbondong-bondong. Membuat Bagas merasa enggan untuk menjawabnya.
"Baik-baik saja."
"Oh, syukurlah kalau begitu," Diva merasa lega.
"Lalu ada perlu apa menghungi istri saya pagi-pagi kalau bukan masalah ruko?"
"Em, ada hal lain yang harus saya bicarakan langsung sama Rania. Kalau begitu lain kali saja. Sampaikan salam dari saya untuk Rania, semoga cepat sembuh!" pesan Diva, sebelum akhirnya Bagas menutup sambungannya.
Diva menggenggam erat ponselnya, dan memeluknya di dada.
Ya ampun, kasihan sekali kamu, Rania. Tadinya aku ingin bicara sama kamu, kalau aku mau resign saja dari ruko. Karena aku tidak mau kalau masih bertemu Reyhan setiap hari. Aku tidak mau usahaku untuk melupakan dan merelakannya sia-sia.
Diva menghembuskan napas kasar, seraya menguatkan diri agar ia bisa move on dari Reyhan.
.
.
.
Coretan Author:
Alhamdulillaah, Rania baik-baik saja.
Jangan lupa untuk like, vote yang banyak! Komen di kolom komentar juga. Tip koin yang mau ngasih, silahkan! Gak bakal nolak, hehe.
__ADS_1
Follow ig: @wind.rahma