
Seisi ruang kamar di penuhi oleh gelak tawa Bagas yang sudah tidak tahan untuk ia pecahkan. Ini sebabkan oleh sekretaris Frans yang membuatnya bisa tertawa lepas seperti saat ini. Kelakuan sekretarisnya yang konyol dalam aksi pendekatan dengan kakak iparnya.
"Hahaha.. Aku sampai sakit perut mentertawainya..." katanya sambil guling-guling di atas kasur dengan tangan meremas perutnya.
"Berhenti! Aku bilang berhenti!" protes Rania dengan tangan menutupi kedua telinganya karena berisik.
"Sayang, aku ingin jujur padamu" kini Bagas bangun, duduk bersandar di sandaran tempat tidur setelah merasa puas tertawa.
"Apa?" Rania membuka buah tangan yang di gunakan untuk menutupi telinganya.
"Kemarilah! Duduk!" Bagas berusaha membangunkan sang istri untuk duduk di sampingnya.
"Aku akan jujur padamu, tentangku dan tentang Frans!" katanya setelah membantu Rania bangun.
"Jujur?" tanya Rania dengan raut wajah bingung.
"Iya" angguknya dengan semangat untuk bercerita.
"Memangnya selama ini kau membohongiku? Oh, jangan-jangan Frans sekongkol denganmu untuk membohongiku, sialan!" hardik Rania padahal belum mendengar penjelasan dari Bagas sendiri.
"B-bukan begitu!" bantah Bagas karena Rania sudah salah paham dengan dirinya dan juga Fans.
"Lantas?!"
"Tenang dulu! Jangan menuduhku yang bukan-bukan! Jadi begini.." Bagas menyeret kepala Rania pelan untuk di sandarkan ke bahunya. Agar ia bisa bercerita dengan nyaman.
"Waktu itu, saat aku mulai merasa mencintaimu, aku selalu berusaha keras untuk mencari cara agar mampu membuatmu bahagia. Kau tahu, aku sampai search di mbah google tips membahagiakan wanita"
"Benarkah?" Rania mengangkat kepalanya dan menatap wajah Bagas dengan tidak percaya.
"Iya, aku jujur. Kau tenang dulu, beri ruang untuk aku melanjutkan ceritanya!" pintanya sambil menyandarkan kepala Rania di bahunya kembali.
"Lalu?" Rania mulai tertarik dengan cerita Bagas yang sepertinya terdengar konyol.
__ADS_1
"Saat itu, kau ingat aku pernah membelikanmu martabak spesial dari telur angsa?" tertawa kemudian, masa paling gila untuk mendapatkan hati sang istri.
"Iya, kau meracunku secara perlahan. Sialan!" mengingat itu, rasa mualnya kembali di rasakan oleh Rania.
"Haha, maafkan aku!"
"Masih ada hal lain yang kau ingin katakan?"
"Banyak. Jadi waktu itu Frans menceritakan tentang masalalunya ketika bercinta dengan seseorang, aku juga baru tahu waktu itu. Lalu dia memberiku tips cara membahagikan seorang wanita, aku menuruti saja apa yang dia katakan. Saat aku potong rambut dengan gaya cepak, itu ide dia" Bagas bercerita dengan wajah semangat 45 entah kenapa dia.
"Jadi selama ini kau menjadikan Frans sebagai guru bercintamu?" kembali mengangkat kepalanya dan menatap suaminya.
"Tentu saja tidak! Karena Frans sendiri yang bilang padaku, kalau perempuan akan lebih menyukai pasangannya ketika ia membahagiakannya dengan caranya sendiri"
"Benarkah? Frans bilang begitu?" Rania merasa tidak percaya, lebih dari kata tidak percaya seorang sekretaris yang terlihat kaku itu dapat mengatakan kalimat seperti itu untuk mengajari Bagas.
"Makanya aku selalu berusaha menggunakan otakku untuk berpikir cara membuatmu terus mencintaiku. Aku pasti akan menanyakan perasaan lagi suatu hari nanti, aku akan pastikan kalau kau tidak pernah merubah perasaanmu padaku" sebuah kalimat romantis bagi telinga Rania yang mendengarnya, Bagas tidak pernah mengatakan kalimat seindah ini sebelumnya.
Aaaa, aku beruntung sekali memiliki suami seperti dirinya, setelah melewati ujian yang teramat pahit, akhirnya aku bisa merasakan manisnya di cintai.
"Hei, kau kenapa?" Bagas mencubit kedua pipi Rania gemas, menyadarkannya dari halu tingkat dewa.
"Terima kasih banyak sudah mau mencintaiku!" ucapnya kemudian memegangi pergelangan Bagas yang masih memegangi kedua pipinya.
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai pasanganmu, suamimu" memeluk tubuh Rani kemudian dengan erat.
Kebahagiaan yang Rania rasakan saat ini adalah bahagia sungguhan, tidak ada kepalsuan yang terlihat dari Bagas. Sepertinya Bagas benar-benar tulus.
Jatuh cinta yang paling indah adalah, ketika seseorang mencinta kita, dan ia memperlakukan kita lebih baik daripada dunianya.
Kini hubungan Bagas dan Rania semakin erat, lebih erat daripada ia memeluk tubuh Rania sendiri. Tidak boleh ada satu manusiapun yang merusak kebahagiaannya. Kalaupun ada yang berniat seperti itu, maka orang itu akan di hilangkan dari muka bumi terlebih dahulu.
Bagas membaringkan tubuh Rania, ia juga ikut berbaring di sebelahnya. Kembali menarik selimut, padahal hari sudah menjelang siang. Keduanya menatap langit-langit ruangan, dan senyuman yang tidak mau lepas dari bibir masing-masing.
__ADS_1
Seketika senyum itu memudar dari bibir Bagas, ketika ia mengingat sesuatu.
"Tapi aku masih tidak sudi.." ucapnya, tanpa Rania tahu maksudnya apa.
"Kenapa?" menoleh suaminya yang masih menatap langit-langit.
"Apabila Frans bersatu dengan kakak ipar, maka Frans akan menjadi kakak iparku juga"
"Hahaha.. Sepertinya itu terdengar lebih buruk!" serunya mengejek sang suami.
"Kenapa harus kakak ipar yang harus kau dekati, Fans? Sialan!" menggerutu, mengambil bantal yang ia pakai untuk memukulkan ke wajahnya, berulang kali.
"Bagas.. Eh maksudnya, adik ipar. Aku ini kakak iparmu, jadi kau harus hormat padaku!" ejek Rania dengan nada bicara meniru sekretaris Frans, seolah sengaja di buat-buat.
Rania terus meniru gaya bicara sekretaris Frans berulang kali. Merasa di ledek, Bagas langsung menyerang istrinya dengan mendaratkan cubitan-cubitan manja di sekitar perutnya. Sedangkan Rania menjerit, memohon ampun agar Bagas berhenti melakukannya. Bukannya sakit, geli yang begitu dahsyat yang ia rasa.
"Ampun, aku mohon berhenti!" sambil tertawa, Rania berusaha mengalihkan tangan Bagas yang terus mencubitnya.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau meminta maaf padaku!" tidak mau memberi ampun begitu saja, tangannya masih sibuk mencubit sang istri.
"Baik, maafkan aku! Maafkan aku, aku bilang berhenti!"
Kali ini Bagas menghentikan juga serangannya. Bagas menatap wajah sang istri, nafas keduanya terengah-engah, ia sudah berada di atas tubuh Rania. Tidak ingin menyianyiakan moment seperti ini, Bagas mencoba akan menyerang istrinya lagi untuk merasakan betapa nikmatnya surga duniawi. Ia mulai menurunkan wajahnya, perlahan wajah mereka saling menumpuk. Rania juga sepertinya sudah memberi kode keras, siap untuk melayaninya kapanpun ia mau. Suasana berubah hening, Bagas mulai menjalankan aksinya, mulai ******* bibir Rania perlahan, sampai gerakan lincah ia mainkan. Mereka tenggelam dalam nikmat surgawi tiada banding, tidak perduli dengan waktu, kapanpun ia mau, ia akan melakukannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Minta vote sebanyak-banyaknya, ya!" Tinggalkan like, juga! Tambahkan ke favorit bagi yang belum. Yang belum melihat visualnta segera lihat sekarang juga! Saya sendiri yang memilih visualnya ikut meleleh, Bagas yang gantengnya melebihi batas kapasitas.