
"Halo, mas. Ada apa?" tanya Nadira pada suaminya.
"Apa? Galang mau tunangan sama Khanza?" seru Nadira setelah suaminya mengatakan hal barusan, semua pasang mata kini kembali tertuju pada Nadira. Terlebih lagi Rania.
"Aku lagi di rumah sakit, ibu kambuh. Nanti mas ceritakan lagi, ya!" ujar Nadira sebelum menutup sambungan telponnya.
"Kak Nad, apa maksudnya barusan?" tanya Rania penasaran, lantaran nama putrinya di sebut-sebut akan bertunangan.
"Cucu kesayangan ibu mau tunanga sama Galang?" tanya seseorang dengan nada parau yang mengalihkan perhatian semua orang di sana. Ternyata suara itu berasal dari bu Sari.
"Ibu..? Ibu sudah sadar?" tanya Rania seraya mencondongkan tubuhnya ke arah ibunya.
"Dit, cepat kamu panggil Dokter. Ibu sudah siuman!" titah pak Burhan pada Radit.
"Iya, ayah," ucap Radit menurut, lalu bergegas pergi.
"Rania, Nad. Barusan ibu dengar kalau Galang akan bertunangan dengan Khanza. Apa itu benar, nak?" tanya bu Sari memastikan.
Rania menatap kakaknya bingung, lantaran mereka pun belum tahu pasti kebenarannya seperti apa. Nadira melangkah lebih dekat dengan ibunya.
"Mas frans barusan bilang seperti itu, bu. Tapi Nad juga belum tau ceritanya seperti apa," ujar Nadira menjelaskan.
"Alhandulillaah kalau memang seperti itu. Ibu bahagia dengarnya," ucap bu Sari penuh syukur.
__ADS_1
Nadira dan Rania saling melemparkan tatapan bingung. Mengapa ibunya bisa sebahagia itu dengar berita ini. Padahal mereka pun sama-sama masih tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.
"Kalo gitu, ibu mau pulang aja. Ibu mau siap-siap bikin kue buat acara pertunangan cucu ibu," ujar wanita paruh baya itu sambil berusaha untuk bangun, tapi kedua putri dan suaminya segera menahannya.
"Ibu mau kemana? Ibu lagi sakit, bu," ucap Nadira yang berusaha mencegah ibunya bangun.
"Nad, Rania, ayah, ibu sudah sehat. Ibu mau pulang aja mau bikin kue buat acara pertunangan cucu-cucu ibu," ujarnya kekeh.
"Nanti ya, bu. Tunggu Dokter sebentar buat cek kondisi ibu," tutur pak Burhan menenangkan.
"Ayah ini, orang ibu sudah sehat kayak gini kok harus di cakcak-cekcek sih," protes bu Sari, nyaris menciptakan tawa di antara Nadira dan Rania pada saat menyaksikan perdebatan antara ayah dan ibunya. Padahal, sebelumnya kondisi ibu mereka begitu memprihatinkan.
***
Hari ini, acara pertunangan antara Galang dan Khanza pun akan segera di laksanakan. Setelah mereka semua sepakat untuk menyeriuskan hubungan keduanya. Acara ini di lakukan seminggu setelah mereka resmi jadian.
Galang dan Khanza saling memasangkan cincin di jari masis. Hal itu membuat mereka kini resmi bertunangan. Laki-laki itu sudah tidak sabar untuk segera menikahi Khanza. Sayangnya, mereka harus menyelesaikan kuliah dulu.
Galang dan Khanza tampak bahagia, terlihat dari aura yang terpancar di wajah mereka. Begitupun dengan keluarga. Bagas dan Frans saling beradu kepalan tangan menandakan 'TOS'. Lantaran akhirnya mereka akan menjadi besan nantinya.
Sementara Rania dan Nadira masih tidak menyangka kalau putri semata wayangnya akan berhubungan dengan putra angkat kakaknya sendiri. Tapi di sisi lain, mereka pun tak kalah bahagianya.
Pak Burhan dan bu Sari, mereka pun tampak bahagia sekali. Terlebih rencana pertunangan ini yang membuat bu Sari langsung sembuh begitu mendengarnya di Rumah Sakit tempo hari.
__ADS_1
Begitupun dengan Radit, Diva, dan putri mereka yang paling kecil ikut merasakan bahagianya. Meskipun putra sulung mereka tidak bisa ikut hadir lantaran baru masuk kuliah di Bandung. Tapi dia tidak lupa menitipkan kado sebagai hadiah pertunangan sepupunya ini.
"Lang, Za. Selamat ya!" ucap Radit pada keponakannya yang tengah berbahagia ini.
"Iya, om. Makasih, ya!" balas Khanza sambil tersenyum.
"Ini ada kado dari Galvin. Maaf ya dia gak bisa datang," ujar Radit seraya memberikan kado berukuran sedang pada Khanza.
"Iya, om. Gak apa-apa. Bilangin ke kak Galvin, makasih buat kadonya," ucap Khanza setelah menerima kado tersebut.
"Iya. Nanti om bilangin ke Galvin," ucap Radit sebelum kemudian kembali ke anak dan istrinya yang tengah menyantap makanan yang telah di siapkan di sana. Dan Galvin, merupakan putra sulung Radit, kakak sepupu Khanza.
Semuanya memberikan selamat pada Galang dan Khanza. Lalu memilih menyantap makanan dan minuman setelah itu. Kebahagiaan mereka terasa lebih lengkap sekarang. Suasan ruangan kini di dominasi oleh musik romance yang entah siapa yang memutarnya.
"Baby, ayo kita dance!" ajak Galang.
"Tapi, Galang. Aku-" belum sempat Khanza menyelesaikan kalimatnya, tapi Galang sudah lebih dulu melahap bibir mungil milik gadis itu.
Kemudian Galang mengalungkan tangan Khanza ke lehernya. Dan tangannya kini sudah melingkar di pinggul milik gadisnya. Mereka berdua menari untuk merayakan hari kebahagiannya itu.
____
Waah.. Gak kerasa ya 3 part ekspartnya udah berakhir. Dan sekarang Cerita TUAN TAJIR sudah benar-benar SELESAI. Aku mau fokus sama Novel aku yang lain. Dan buat kalian, semoga terhibur dengan Ekspart ini. Dan jangan lupa, langsung lanjut baca Novel aku yang judulnya TERJERAT IKATAN PERNIKAHAN. Udah ada 46 bab dan akan terus up setiap harinya.
__ADS_1
Salam hangat,
WIND RAHMA.