
Pagi hari, di angkot, Rania duduk di belakang kemudi dengan 2 orang penumpang d sana yang masing-masing sibuk memainkan ponsel. Rania teringat kembali dengan kejadian semalam, ciuman pertama yang mungkin tidak akan pernah terlupakan seperti orang lai pada umumnya. Kalian juga tentunya ingat dengan siapa kalian melakukan ciuman petama.
Senang dan bingung berpadu menjadi satu, bingung kenapa bisa dia melakukannya. Rania tersenyum ketika mengingat bibir Bagas yang ia gigit ketika mengakhiri adegan itu, ia tidak mau itu berlanjut berkepanjangan. Tidak mau malam pertamanya berlangsung begitu saja tanpa ada kata bulan madu. Ia pertahankan keperawanannya sampai Bagas mengajaknya ke sebuah tempat di mana tempat itu bagus untuk di jadikan bulan madu. Mungkin di awan biru tempat yang tepat. Kayak lirik lagu saja.
Rania seakan tidak perduli dengan penumpang di sekitarnya yang sesekali melirik dirinya, merasa heran karena bibirnya tidak terlepas dari senyuman. Mungkin mereka mengira kalau Rania sedang jatuh cinta, tapi perkiraan mereka ada benarnya juga. Sedikit. Masih perlu banyak waktu untuk Rania betul-betul membuka hati untuk orang yang telah mendzaliminya.
Sampai ia tidak sadar kalau pak sopir sudah memanggilnya berulang kali untuk turun karena sudah sampai di tujuan. Dengan wajah yang ceria Raniapun turun, tidak lupa paper bag yang sedari tadi ada di sampingnya ia bawa.
Setelah turun dari angkot dan membayarnya, Rania harus berjalan lagi untuk sampai ke rumah sang ibu. Ia juga menghiraukan para ibu-ibu yang sudah berkumpul di salah satu rumah tempat mereka bergosip. Yang rumahnya tidak jauh dari rumah ibunya. Baginya sudah biasa, kupingnya menuli ketika ia melewati ibu-ibu itu yang mulai membicarakannya.
Masih pagi sudah gosipin orang, kayak orang gak punya kerjaan aja. Mending cuci piring aja sana, beres-beres rumah!
Toktoktok
"Assalamu'alaikum, bu" salam Rania setelah ia mengetuk pintu.
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengubah suara toktoktok menjadi:
Ceklek
Seseorang dari salam rumah menurunkan pegangan pintu untuk membukanya. Dan muncul sosok wanita yang Rania rindukan.
"Rania.." bu Sari selalu senang dengan kedatangan putri bungsunya, dengan cepat ia memeluknya.
"Ibu seneng Rania kesini, nak" ucapnya menusap pangkal rambut Rania.
"Rania juga, bu" ucap Rania seakan tidak mau kalah senangnya.
"Ayo masuk!" bu Sari melepaskan pelukannya pelan, dan Rania mengangguk, kemudian masuk.
Mereka berdua mendudukan dirinya ke kursi baru yang telah di berikan oleh Bagas. Rania mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Rumah yang pernah ia tinggali selama 17 tahun kini telah berubah, ada pendingin ruangan tepasang di dinding ruang tengah. Sesekali menepuk-nepukan tangannya ke kursi.
"Bu"
"Iya, Rania?"
"Ini semua dari Bagas?" Rania dengan fasihnya menyebut nama suaminya.
__ADS_1
"Iya, nak. Suami kamu baik sekali. Padahal ibu tidak perlu semua ini!" tutur bu Sari dengan tangan memegang bahu putrinya sekilas.
Rania masih mengedarkan pandangannya, ada lemari es juga di pojok belakang, ada televisi yang besar, dan masih banyak barang berharga baru di sana.
"Ibu sendirian?" tanya Rania setelah melihat tidak ada orang lagi selain ibunya.
"Iya, tetangga di sebelah sana sedang ada renovasi rumah. Jadi, ayah di suruh ikut bantu kuli bangunan"
"Oh" Rania mengangguk.
"Abang kamu bagian shift pagi dan sudah pergi bersama kakakmu tadi"
"Naik angkot?"
"Bukan!"
"Terus, naik apa?"
"Di jemput sopir dan orang yang selalu bersama suamimu, siapa namanya? Ibu lupa" bu Sari mengingat nama seseorang itu
"Sekretaris Frans?" tebak Rania
Di jemput? Oleh sopir dan sekretaris Frans pula. Itu pasti perintah dari Bagas. Syukurlah kalau Bagas memperlakukan kakak-ku dengan baik dan layak seperti manusia.
"Eh, iya, bu." Rania seperti melupakan sesuatu, kemudian meletakan paper bag yang semula di sampingnya menjadi ke pangkuannya.
"Rania boleh titip ini gak, di kamar kak Nadira?" Rania mengambil isi paper bag itu dan itu adalah baju yang di berikan Hisam.
Setelah berulang kali berpikir, Rania mendapat ide kalau baju itu di simpan di rumah ibunya saja. Dan kamar Nadira adalah kamarnya juga dulu. Karena mereka tidur berdua, hanya ada 3 kamar di rumah itu. Untuk bu Sari dengan pak Burhan, Nadira dengan Rania, dan satunya lagi untuk Radit.
"Apa itu, nak?"
"Baju kelulusan, dari teman Rania untuk di jadikan kenang-kenangan" katanya dengan tersenyum.
"Oh, dari Diva?" mendengar pertanyaan ibunya, senyuman itu hilang seketika. Rania diam, ia tidak tahu harus menceritakan yang sebenarnya atau tidak. Tapi dia tidak mau membohongi ibunya setelah suaminya.
"Em.. Ini dari Hisam, bu" Rania coba untuk jujur pada ibunya.
__ADS_1
"Hisam? Siapa dia?" tanya bu Sari tentunya penasaran sekaligus heran, kenapa putrinya menerima sesuatu dari pria lain.
"Dia teman Rania di sekolah. Beda kelas dan juga tidak begitu Rania kenal. Di dalam saku baju ini, kemarin ada surat yang sudah Rania baca" bu Sari menyimak, mendengarkan putrinya sedang bercerita.
"Hisam bilang kalau dia suka sama Rania. Tapi itu dulu, katanya. Sebelum dia tahu kalau Rania menikah. Rania juga baru tahu, bu" dengan wajah tertunduk Rania menceritakan semuanya.
"Terus suami kamu bagaimana, dia tahu?"
Dengan cepat Rania mengangkat wajahnya, "enggak, bu. Dan kalau bisa jangan sampai tahu! Rania tidak mau kalau ada salah paham di antara kami. Lagian Hisam juga akan membuang peerasaannya dan mendo'akan Rania agar bahagia dengan suami Rania. Bagas juga tidak tahu kalau baju ini pemberian dari Hisam, Rania bilang kalau ini dari Diva"
"Ibu mengerti, Rania. Lain kali kamu jangan bohongi suami kamu, ya! Gak baik sering berbohong!" tutur bu Sari berusaha menasehati putri bungsunya.
"Iya, bu. Rania terpaksa berbohong jika demi kebaikan. Ibu gak akan bilang sama siapa-siapa kan tentang ini?" Rania menatap ibunya dengan harapan agar ibunya tidak menceritakan masalah ini kepada siapapun termasuk kakaknya, Nadira.
"Iya, nak. Ibu tidak akan bilang ke siapapun demi kebaikan rumah tanggamu" bu Sari meyakinkan anaknya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Terima kasih, bu" Rania memeluk ibunya haru, ibunya adalah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya sedunia, seakhirat bisa jadi.
Akhirnya Rania bisa bernafas lega, karena masalahnya berkurang lagi satu. Semoga kedepannya tidak ada lagi masalah-masalah baru yang bikin ribet dan repot dirinya. Rania berhak bahagia, tolong! Buat Rania bahagia.
"Ya sudah kalau begitu Rania simpan ini dulu ke kamar, ya, bu" pamitnya setelah melepas pelukan dengan ibunya.
"Iya, nak"
Rania pergi ke kamar, berlalu dari tempat duduknya. Bu Sari menatap punggung Rania sampai hilang dari pandangannya, karena Rania sudah masuk ke dalam kamar. Bu Sari berdo'a agar putrinya selalu di berikan kebahagiaan. Mengingat lagi ke belakang dirinya yang pernah di perlakukan buruk oleh kakak Bagas, bu Sari sering sebenarnya mengkhawatirkan putri bungsunya itu. Tapi ia percaya, kalau Rania pasti akan selalu di lindungi Tuhan, dengan di berikan kekuatan sabar, dan tabah menjalani hidupnya. Buktinya Rania tetap bisa tersenyum di hadapannya, walaupun ia tidak tahu, sebenarnya senyuman bahagia atau senyum penutup luka.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa dukungannya, like dan votenya ya! Tambahkan ke favorit bagi yang belum, segera!