
"Sayang, apa ini kau? Tidak baik jika kau menginginkan aku untuk melakukan hal begituan! Kau kan sedang ham..." seketika Bagas menghentikan kalimatnya, ketika ia memegang perut seseorang yang masih ada di atas tubuhnya itu sangat datar.
Bagas membuka kain penutup mata, dan saat ini ia bisa melihat dengan jelas, siapa sosok wanita yang telah membawanya ke sebuah kamar itu.
"Kau?" Bagas terkejut ketika melihat wajah wanita itu, Bagas segera mendorong tubuh wanita itu dengan kasar.
"Beraninya kau!" bentak Bagas pada wanita itu, namu wanita itu sama sekali tidak ketakutan ketika Bagas mengetahui siapa dirinya. Dia tetap terlihat tenang, dengan bibir yang menyeringai.
"Kenapa, kau terkejut? Aku memang tidak bisa memilikimu, tapi aku bisa mencicipi tubuhmu. Hahaha.." wanita itu tertawa puas.
"Terima kasih banyak, Bagas sayang! Rasa penasaranku akhirnya terpenuhi juga, ternyata kau tidak senikmat dengan apa yang selama ini aku bayangkan. Bye bye baby, muach!" wanita itu pergi meninggalkan Bagas tanpa rasa bersalah.
"Hei, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja! aku pastikan setelah ini kau akan menyesal, Jessicaaaa..." teriak Bagas sekeras mungkin.
"Sayang, bangun! Kenapa kau marah-marah?" Rania mengguncang-guncangkan tubuh Bagas yang tertidur di dalam mobil, sepertinya Bagas baru saja mimpi buruk karena ia memukul setir mobilnya dengan sangat keras.
Bagas membuka kedua matanya perlahan, napasnya masih terengah-engah dan tidak beraturan. Dahinya di penuhi oleh keringat. Bagas menatap Rania dengan lekat, kemudian ia memegangi kedua pipi Rania dengan kuat.
"Sayang, ini beneran kau, kan?" Bagas terlihat sangat ketakutan.
"Hem, iya. Ini aku, kau barusan mimpi buruk, ya?" Rania menatap suaminya heran, tidak biasanya Bagas terlihat ketakutan seperti itu.
Bagas melepaskan tangannya dari pipi istrinya, ia mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Iya, aku baru saja mimpi buruk? Mimpi paling buruk!"
"Oh, memangnya mimpi apa?" Rania penasaran, apa yang membuat Bagas ketakutan dan sampai marah-marah tadi.
"A-aku, aku mimpi.." Bagas menggantungkan kalimatnya.
Tidak, tidak mungkin aku menceritakan soal mimpi burukku pada Rania. Untung saja ini hanya mimpi, karena mana mungkin aku tertipu oleh wanita seperti dia. Rumah tanggaku bisa berantakan kalau kejadian seperti di dalam mimpi burukku ini menjadi kenyataan. Ah, sudahlah! Ini hanya mimpi buruk yang sebaiknya harus segera aku lupakan. Pikir Bagas dalam hatinya.
"Sudahlah, tidak penting juga, sayang! Karena mimpi buruk itu tidak baik untuk di ceritakan pada orang lain, takutnya akan menjadi kenyataan!" kilah Bagas.
"Oh, ya sudah. Kita pulang, yuk!" ajak Rania, ia memakai sabuk pengamannya.
"Kau sudah selesai bicara pada guru Jeslyn, kalau setiap minggu kita akan datang ke tempat ini?"
"Ya sudah, dong. Kau aku tinggal sepuluh menit saja sudah tidur pulas, mimpi buruk segala, lagi," gerutu Rania, padahal ia hanya meminta Bagas untuk menunggu sepuluh menit saja di mobil setelah mereka selesai olahraga, tapi Bagas malah tertidur dengan begitu pulasnya.
"Iya maaf, sayang! Aku jarang sekali melakukan olahraga, apalagi olahraga khusus untuk ibu hamil. Melelahkan sekali!" ujar Bagas.
"Kalau lelah kenapa kau meminta untuk setiap minggu kita datang ke tempat ini? Aneh?" Rania mendecak.
"Untuk kesehatan kandungamu, sayang! Sudahlah, kita pulang saja!" Bagas menyalakan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
__ADS_1
***
Malam harinya, Bagas dan Rania baru saja selesai makan malam. Mereka kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
"Sayang, aku besok ada meeting penting dengan klien. Jadi aku besok pergi ke kantor pagi-pagi, ya!" Bagas menarik selimut untuk membalut dirinya, kebetulan cuaca malam ini sangat dingin sekali.
"Iya, nanti aku akan bangunkan pagi-pagi seperti biasa kau pergi bekerja!" Rania juga ikut menarik selimut yang sama dengan Bagas, kemudian membaringkan tubunya yang semula masih duduk.
"Tidak usah! Aku akan bisa bangun sendiri, kau tidur saja yang nyenyak, ya!" ujar Bagas mengacak pangkal rambut istrinya dengan gemas kemudian.
"Kalau kau pergi, aku pasti akan kesepian. Dan kebosanan pun akan mengahampiri. Aku minta izin untuk pergi ke ruko saja, ya! Aku janji tidak akan melakukan aktivitas yang membuat aku akan kelelahan di sana." Rania menelungkupkan kedua telapak tangannya, berharap Bagas memberinya izin.
"Tapi kau tidak boleh pergi sendirian. Aku yang akan mengantarmu pergi ke sana sebelum aku berangkat, okay?!"
Rania mengangguk senang, sudah lama juga dia tidak pergi ke ruko. Rasanya ia rindu kepada seluruh pegawainya, terutama ingin tahu bagaimana perkembangan kedekatan temannya dengan Reyhan. Ah, rasanya sudah tidak sabar untuk segera hari esok.
***
Suara klakson mobil terdengar di halaman rumah keluarga D. Dahson dan Dera, mereka pasangan suami istri sekaligus orang tua dari Devi dan Diva. Sudah tahu kan mobil siapa yang datang ke rumah tersebut malam-malam sekitar pukul tujuh? Ya, dia tak lain adalah Reyhan.
Reyhan mengetuk pintu rumah itu ketika ia sudah turun dari mobilnya. Rumah yang sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Seorang wanita muncul di balik pintu ketika mendengar ada tamu mengetuk pintu rumahnya. Reyhan terlihat gugup ketika wanita yang tak lain adalah Diva berdiri kini tengah di hadapannya.
"Reyhan? Ada apa malam-malam datang rumahku?" tanya Diva, ada kebahagiaan di wajah Diva ketika melihat sosok Reyhan.
"Siapa, Va? Kalau ada tamu suruh masuk, jangan di ajak ngobrol di sana, tidak sopan, nak!" teriak seorang wanita yang sepertinya itu adalah Dera, ibu dari Diva.
"Iya, bu." jawab Diva juga setengah berteriak.
"Ayo Reyhan, masuk!" Diva mempersilahkan Reyhan untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
"Iya, terima kasih!" Reyhan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, kemudian Diva mempersilahkannya untuk duduk.
"Aku buatkan minuman dulu, ya!" Diva bersiap melangkahkan kaki untuk pergi membuatkan minum, namun Reyhan segera mencegahnya.
"Tidak usah, Va! Aku kesini cuma sebentar, kok!" tolak Reyhan dengan sopan, lalu ia meminta Diva untuk duduk saja.
"Eh, kamu belum jawab pertanyaan aku tadi. Kamu ada apa malam-malam datang ke rumahku? Tumben!" Diva mengulang pertanyaannya.
"Em.. A-aku datang kesini sebenaranya mau.."
"Siapa yang datang, Va?" pertanyaan dari seseorang yang baru saja datang menghampiri membuat Reyhan lagi-lagi tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
Diva dan Reyhan menoleh ke asal suara, ternyata itu adalah Devi. Devi jadi merasa tidak enak hati ketika ia melihat ada Reyhan di sana, ia pikir Reyhan sedang bicara serius dengan adiknya.
__ADS_1
"Eh ada tamu, buatkan minum, Va! Kalau begitu kakak kembali ke kamar dulu ya!" pamit Devi, sepertinya kehadirannya di sana hanya akan mengganggu saja.
"Tunggu!" Reyhan menghentikan langkah Devi, ia juga menarik lengan gadis itu sehingga membuat gadis itu dengan cepat menoleh.
"Ehem.." Diva berdeham ketika melihat Reyhan memegangi lengan kakaknya, sebenarnya ia masih belum bisa sepenuhnya untuk merelakan Reyhan untuk bersama dengan kakaknya.
"Maaf!" Reyhan segera melepaskan lengan Devi.
Devi merasa sangat canggung, ia tidak tahu mengapa Reyhan menahannya untuk pergi dari sana.
"Sebenarnya kedatangan aku kesini karena aku ada perlu dengan kamu," ujar Reyhan pada Devi, ia melirik Diva sekilas karena tidak enak harus mengatakan maksud kedatangannya ini di depan Diva.
"Hah? Aku?" Devi menunjuk dirinya sendiri, merasa tidak percaya.
"Iya. Jadi aku di minta oleh mamaku untuk jemput kamu, karena mama ingin mengundangmu makan malam di rumah malam ini. Bisa?" ucap Reyhan dengan begitu hati-hati.
"Apa? Makan malam di rumahmu? T-tapi kan, kenapa harus aku? Lebih baik kamu ajak Diva saja!" Devi benar-benar merasa tidak enak, ia tahu kalau ini pasti akan menyakitkan untuk adiknya.
Diva menggigit bibirnya kuat-kuat, berusaha menahan rasa cemburu yang sedang ia rasakan saat ini. Mungkin ini awal untuk ia harus bisa merelakan Reyhan untuk kakaknya, supaya nanti ia bisa terbiasa dengan sikap yang akan membuatnya lebih cemburu lagi.
"Jangan menolak permintaan Reyhan ya, kak! Apalagi itu permintaan mamanya, tidak baik! Kalau begitu aku ke kamar dulu, ya!" Diva beranjak dari sana, tanpa ia sadari air matanya sudah terjatuh berceceran di lantai. Sengaja ia cepat-cepat pergi, untuk menghindari kesedihan di depan Reyhan dan kakaknya.
Devi semakin tidak enak saja, ia merasa kalau dirinya telah merenggut kebahagiaan adiknya.
"Kalau kamu bisa, sekarang cepat siap-siap! Aku tunggu di mobil," Reyhan beranjak dari duduknya, kemudian pergi untuk menunggu di mobil.
Devi merasa dilema, apakah ia harus memenuhi tawaran mama Reyhan untuk makan malam du rumahnya, atau menolak tawaran itu agar tidak melukai hati adiknya?
.
.
.
Coretan Author:
Hayooo, siapa yang udah maki Bagas habis-habisan? Yang bilang Bagas bloon, oon, bodoh dan lain sebagainya, ngaku! Ternyata itu hanya mimpi belaka, hahaha.
Kata Bagas: "Aku tidak sebodoh dan seburuk yang kalian kira."
Mana mungkin juga seorang tuan tajir melakukan hal sebodoh itu, hehe kena tipu lagi.
Jangan lupa untuk like, komen, dan vote yang banyak!
__ADS_1
Follow ig: wind.rahma