
Seorang laki-laki bernama Galang menyeret seorang gadis ke tembok ruangan kosong di kampus. Lalu mengurung gadis itu menggunakan kedua tangannya. Wajah mereka kini dekat sekali, hanya berjarak lima senti meter saja.
"Galang, kamu mau ngapain? Jangan macem-macem ya, kalau enggak? Aku bakal aduin sama mama papa aku," laki-laki itu sama sekali tidak takut dengan ancaman gadis di hadapannya. Justru dia semakin merasa gemas saja.
"Lo pikir gue takut? Gak sama sekali. Salah lo sendiri, kenapa lo bisa semenggemaskan ini," gadis itu semakin di buat takut. Terlebih saat tangan Galang mulai menarik tengkuknya, hingga bibir mereka kini saling menempel.
Laki-laki itu segera memainkan tautan bibirnya dengan bibir mungil milik gadis itu. Membuat gadis itu segera mendorong tubuh Galang sedikit kasar.
Tubuh Galang terdorong lumayan jauh. Gadis itu segera lari dari sana. Meninggalkan Galang yang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
***
Di rumah.
Rania tampak sedang mengobrol dengan kakaknya-Nadira. Tadi pagi, Frans mengantarkan istrinya ini ke rumah Rania lantaran dia harus pergi ke luar kota dan harus menginap selama tiga malam. Sedangkan Bagas sedang pergi ke Bogor sejak dua hari lalu.
Obrolan mereka terhenti, saat Rania mendapati putrinya baru saja pulang dari kampus dengan wajah murung.
"Khanza, sayang. Kamu kenapa, nak?" Rania memeluk tubuh mungil putrinya.
"Galang, mah.." Nadira yang mendengar nama putranya di sebut-sebut ikut menimpali.
"Galang kenapa, Za? Dia gak berulah kan?" tanya Nadira khawatir.
Khanza menoleh ke arah belakang mamanya. Ternyata di sana ada tantenya-Nadira. Tadinya Khanza ingin menceritakan kejadian tidak menyenangkan yang di lakukan oleh Galang terhadap dirinya pada mamanya. Tapi melihat ada Nadira sebagai ibunya Galang di sana, dia merasa tidak enak juga.
"Galang kenapa, sayang..?" Rania mengulang pertanyaan Nadira. Gadis itupun menggeleng.
"Gak kenapa-napa kok, mah, tante. Tadi dia cuma iseng aja," Nadira menghela napas lega, dia khawatir putranya berulah di kampus.
"Ya sudah, sekarang kamu bersih-bersih, ganti baju terus makan. Mama udah siapin masakan kesukaan kamu. Oke?!" Khanza mengangguk lemah.
"Iya, mah."
Sampai di kamar, Khanza membaringkan tubuhnya. Ia mengingat kejadian yang di lakukan tadi siang di kampus. Kemudian dia segera memejamkan mata sambil menggeleng keras guna menyingkirkan pikiran itu.
__ADS_1
***
Malamnya, sekitar pukul tujuh.
Nadira mendapat kabar dari Radit jika bu Sari kembali kambuh. Dia sangat panik, begitupun dengan Rania. Mereka berdua memutuskan untuk segera pergi menuju Rumah Sakit. Khanza awalnya memaksa ingin ikut, tapi Rania melarangnya dan menyuruhnya untuk menunggu di rumah saja.
"Kamu tunggu di rumah aja ya, sayang!"
"Tapi, mah-"
"Khanza, kalau kamu takut, nanti tante bisa minta Galang buat temenin kamu di rumah. Oke?!" tanpa menunggu jawaban Khanza, Nadira bersama Rania segera menghambur ke dalam mobilnya.
Dan, ngeeeng... Mobil yang mereka tumpangi sudah melesat dari halaman rumah di kemudikan oleh supir pribadi Rania.
Dan sekarang, Khanza merasa takut sekaligus panik. Bagaimana kalau tantenya beneran minta Galang menemaninya di rumah. Terus Galang memenuhi permintaan ibunya. Apa yang akan terjadi nanti, setelah yang di lakukannya tadi siang di kampus.
Gadis itu segera melipir pergi untuk kembali masuk ke kamarnya. Menutup rapat-rapat pintu kamar tersebut. Tidak lupa dia juga mengunci pintunya. Khanza pikir dia sudah aman, dan kalaupun Galang datang, laki-laki itu tidak akan bisa menemuinya.
Lima belas menit berlalu, perasaan Khanza sudah mulai tidak tenang. Pasalnya jarak antar rumahnya dengan rumah Galang hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menitan saja. Itu artinya, lima menit lagi Galang akan segera datang.
Namu, setengah jam sudah berlalu. Tidak ada suara yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya atau suara seseorang memanggil namanya yang bersumber dari Galang. Hal itu membuat Khanza sedikit merasa lega. Tapi entah kenapa, dia justru malah penasaran untuk mengeceknya ke ruang tamu.
Khanza menjerit sejadi-jadinya, tapi seseorang itu tidak akan membiarkan siapapun mendengar terikan Khanza. Dia membekap mulut Khanza menggunakan telapak tangannya.
Ketakutan gadis itu tidak dapat di pungkiri, napasnya kian memburu. Saat melihat wajah seseorang itu ternyata Galang.
"Lo gak akan takut kalo lo bisa tenang!" ucap Galang lembut.
Khanza mengatur deru napasnya yang tersengal-sengal. Setelah terlihat lebih tenang, Galang melepaskan tangan yang membekap mulut gadis itu.
"Galang.. Aku mohon! Jangan lakuin hal kurang ajar. Please..!" ujar Khanza memohon.
"Gue gak perduli, Za. Selama gue mau, gue bakal ngelakuin apapun yang menjadi keinginan gue. Yang penting, gue suka sama lo. Gue mau lo."
Khanza mundur selangkah, saat Galang melaju selangkah. Seterusnya begitu, sampai Khanza terseret ke tembok. Laki-laki itu menarik pinggul Khanza lebih dekat dengannya. Bahkan wajah mereka kini berdekatan sekali.
__ADS_1
"Lo gak usah takut, Za. Lo bakal ngerasa lebih aman kalo lo mau jadi milik gue. Gue sayang sama lo, bukan sayang seorang kakak terhadap adiknya. Tapi sayang sebagaimana lawan jenis. Gue cinta sama lo, Za," ucap Galang seraya menatap gadis yang tengah di landa kepanikan itu.
Kesenyapan melingkupi seluruh ruangan, yang mampu terdengr saat ini hanyalah suara Galang.
"Gue tau, mungkin cara gue terlalu kasar dalam menunjukkan perasaan gue ke lo. Itu karna gue takut kalo lo sampai di buat nyaman sama cowok lain. Dan gue rasa, lo juga suka kan sama gue?" tanya Galang seraya menatap kedua manik mata hitam pekat milik Khanza. Gadis itu kini tampak gugup.
"A-ak Aku.. Aku.. Aku mohon lepasin, Galang..!" ucap Khanza terbata.
"Udah deh, Za. Lo gak usah ngelak. Lo gak usah ngebohongin perasaan lo sendiri. Gue tau diem-diem lo sering cemburu kan kalo gue deket sama cewek lain? Padahal gue cuma mau ngetes perasaan lo aja. Dan ternyata, dengan lo cemburu, gue bisa tau sebenernya lo juga perasaan yang sama kayak gue," ucapan Galang barusan membuat Khanza diam seketika.
"Jawab atau gue cium?!"
Mata Khanza membulat sempurna mendengarnya. Antara takut, panik, bercampur menjadi perpaduan gugup.
"I-iya, Galang," ucapnya lirih dan hampir tidak terdengar.
"Iya apa?" tanya laki-laki itu semakin membuat Khanza gugup.
"Aku.. Aku juga, suka sama kamu," mendengar jawaban Khanza benar-benar membuat laki-laki itu senang bukan kepalang.
"Terus kalo lo suka sama gue, kenapa lo selalu nolak pas gue cium?" Galang memang pandai membuat jantung gadis itu berpacu lebih cepat. Gadis itupun menggeleng keras.
"Lo gak usah takut, ini tuh cuma gerakan senam lidah. Gue bakal ajarin lo dan gue yakin lo pasti bakal nagih. Yah?!" Galang menatap Khanza dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Membuat perasaan gadis itu semakin di buat tidak karuan.
Galang mengalungkan tangan Khanza ke lehernya, kemudian menarik pinggul gadis itu lebih dekat lagi ke area intimnya. Laki-laki itu juga kini mulai memiringkan wajahnya lalu maju lebih dekat. Menyisakan ruang satu mili saja jarak antara bibir mereka.
Dan...
"Ekhem..!" Galang terlonjak dan langsung menoleh ke arah pintu, mendapati Bagas tengah berdiri di sana. Sontak ia menjauhkan wajahnya dari wajah Khanza serta melepaskan tangannya dari pinggul gadis itu.
Khanza pun tak kalah terkejutnya, panik sejadi-jadinya yang saat ini ia rasakan. Terlebih aksi mereka di pergoki oleh papanya sendiri.
"Papa..???"
"Om Bagas??" ucap mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
____
Lanjut ke Part 2