
Hallo readers Wind Rahma setia yang manis-manis. Selamat membaca Musim kedua dari TUAN TAJIR. Semoga selalu menghibur.
Happy Reading🌷
_ _ _
Pagi ini Rania dan Bagas bangun tidur dengan rasa yang berbeda. Hari ini merupakan hari yang benar-benar berkesan dalam hidup Bagas dan Rania. Sesuatu seakan menggetarkan jiwanya saat mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah. Sama halnya dengan Rania, rasanya sulit sekali untuk ia percaya. Bagas dan Rania tidak sabar menunggu waktu itu. Waktu di mana dirinya akan di panggil dengan sebutan 'Ayah' dan 'Ibu' oleh anaknya kelak.
"Sayang, kalau kau masih lemas hari ini tidak usah pergi ke ruko. Kau istirahat saja! Atau kau tidak usah lagi bekerja, aku takut kau kenapa-napa" pinta Bagas karena ia mengkhawatirkan kondisi istrinya sekaligus calon si buah hati.
"Aah..aku tidak apa-apa. Biarkan aku bekerja, lagian aku akan suntuk jika hanya berdiam diri di rumah" desahnya masih berusaha membuka matanya. Sebenarnya ia masih merasa sedikit pusing, namun jika di tidurkan terus-menerus hanya akan menambah rasa pusingnya saja.
"Aku ijinkan kamu bekerja. Tapi ingat, jangan sampai kecapean!" Bagas terus mewanti-wanti karena ia takut sampai terjadi apa-apa pada ibu dan calon anaknya.
"Terima kasih" ucap Rania seraya menyelipkan seulas senyum di bibirnya.
"Mulai hari ini kau tidak usah menyiapkan pakaian untukku, melakukan lagi tugas kewajibanmu sebagai istri. Aku akan mengambil alih semuanya, aku yang akan membuatkan air untukmu mandi, menyiapkan pakaianmu, aku juga akan menuruti semua kemauanmu" ucap Bagas nampak serius, rupanya ia benar-benar tidak mau kehilangan calon bayinya jika terjadi apa-apa dengan Rania.
""Benarkah?"
"Iya, aku akan pastikan itu"
Wah, seru juga ya jadi bumil. Di sayang, di manja, di perhatikan. Aaa, rasanya ingin terus menjadi bumil saja, tapi mana mungkin. Gumam Rania dalam hati kecilnya.
"Ya sudah, kalau begitu buatkan air hangat! Aku mau mandi" titah Rania, dengan tergesa Bagas bangun untuk pergi ke kamar mandi.
Benar-benar menyenangkan ini.
Tidak lama, Bagas kembali lagi.
"Sudah siap, sayang. Aku bantu kau untuk bangun" ucapnya sambil berusaha membangunkan tubuh Rania. "Aku akan menjadi suami siaga untukmu" lanjut katanya.
Bagas membantu Rania berjalan sampai ia benar-benar masuk ke kamar mandi, setelah itu berjalan ke lemari besar untuk mempersiapkan pakaian Rania.
__ADS_1
"Yang mana, ya?" ia bertanya pada dirinya sendiri karena bingung mau memilih baju yang mana untuk di pakai Rania setelah ia membuka lemari itu dan melihat banyak sekali pakaian di sana.
"Yang ini aja, deh" ia menjawab pertanyaannya sendiri dan memilih dress berwarna putih, karena ia tidak akan mengizinkan Rania memakai celana selama kehamilannya. Ia khawatir calon anaknya akan terhimpit oleh karet pinggang di celana yang Rania jika ia mengenakannya.
Setelah memilih pakaian, bola mata Bagas tertuju pada celana dalam, lalu ke br* yang menumpuk di sana. Ia mengambil br* berwarna hitam, ia melihat dan membolak-balikan benda itu. Ada dua wadah untuk gunung nikmat surgawi. Dengan konyolnya, ia memasang br* itu ke matanya, seolah-olah ia anggap kalau itu adalah kacamata.
"Haha, ini mirip dengan bentuk kacamata" katanya cekikikan sendiri.
Bagas menengok ke kiri dan ke kanan, ia takut kalau tiba-tiba ada orang masuk ke dalam kamarnya tanpa ia dengar, ia juga takut kalau Rania sudah keluar dari kamar mandi. Dengan segera ia menaruh pakaian juga pakaian dalam Rania ke atas tempat tidur. Ia menunggu istrinya dengan duduk di sofa, pandangannya bertemu dengan jam dinding yang masih menunjukan waktu pagi sekali. Karena masih mengantuk, akhirnya Bagas memejamkan matanya kepala bersandar di sofa.
***
Bagas mengantarkan Rania ke ruko, setelah ia meminta sekreatris Frans untuk berangkat terlebih dahulu saja dengan sopirnya. Ia menghentikan laju mobilnya ketika sudah sampai di depan ruko.
"Sayang, mulai hari ini dan seterusnya, aku yang akan mengantar jemputmu. Jangan pulang sebelum aku jemput, ya!" pesan Bagas sebelum Rania turun.
"Iya, aku mengerti!" balas Rania sambul berusaha melepaskan sabuk pengaman.
"Ya sudah, kau tidak boleh kecapean, itu yang paling penting!" mengingatkan lagi.
***
Di gedung Briliant Group.
Sekretaris Frans masuk ke dalam ruangan Nadira tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia melihat Nadira sedang serius menekuni pekerjaannya. Sampai ia tidak tahu kalau ada seseorang masuk ke dalam ruangannya. Sekretaris Frans berjalan menghampirinya dan duduk di kursi di hadapan Nadira. Namun tetap saja konsentrasi Nadira tidak luntur dengan kehadiran sekretaris Frans di sana. Ia masih tidak tahu kalau sekreatris Frans saat ini sedang duduk menopang dagun untuk memperhatikannya.
"Kau terlalu Rajin, Nadira" puji sekretaris Frans yang justru mengejutkan Nadira, ia terpelonjat dan hampir jatuh dari kursi. Untunglah sekretaris Frans langsung bangkit dan menahan tubuh Nadira yang hampir jatuh.
"Hei, maafkan aku!" ucap sekretaris Frans berusaha menahan beban tubuh Nadira. "Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau akan terkejut" ucapnya meminta maaf lagi, ia berusaha membantu Nadira untuk duduk kembali di kursinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya, ia takut kalau Nadira memiliki gejala yang akan membuat dirinya fatal apabila di kejutkan.
"Saya tidak apa-apa. Sejak kapan anda berada di sini?" tanya Nadira karena memang ia tidak mendengar seseorang masuk ke dalam ruangannya, mungkin karena ia terlalu fokus menatap layar laptop.
__ADS_1
"Barusan, aku perhatikan kau begitu fokus menatap layar laptop. Sampai kau tidak sadar ada aku yang lupa kau tatap" ucap sekretaris Frans mulai menjalankan misinya.
"Hah? Maksud anda?" Nadira terlihat bingung dan tidak mengerti dengan ucapan sekretaris Frans barusan.
"Umm..tidak! Aku tidak mengatakan apapun!" sekretaris Frans terlihat salah tingkah.
Aduh.. Kau bodoh sekali Frans! Mengapa kau jadi gugup seperti ini. Gerutu sekretaris Frans dalam hati.
"Oh. Ada perlu apa anda datang ke ruangan saya? Apa ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihatmu saja. Ma-maksudku ingin melihat kinerjamu sesuai perintah tuan Bagas untuk memperhatikan seluruh pekerja di sini!" ucap sekretaris Frans masih terlihat gugup.
"Oh" jawab Nadira singkat, ia menyipitkan kedua matanya, melihat ada hal lain bersifat pribadi dari kegugupan sekretaris Frans.
Di tengah keheningan mereka, suara getar ponsel membelah keheningan. Itu berasal dari saku jas yang di kenakan sekretaris Frans. Dengan cepat ia merogoh ponsel di dalam sakunya dan menggeserkan tombol hijau di layar lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Hallo.." sekretaris Frans mengangkat telponnya, "baik, saya segera ke sana!" bicaranya dengan seseorang di dalam telpon, "baik, tuan" ucapnya sebelum akhirnya sambungan telponnya di matikan.
"Nadira kalau begitu saya permisi dulu" pamitnya bersiap bangkit dari duduknya.
"Iya" Nadira mengangguk.
"Jangan lupa nanti siang aku akan mengajakmu makan siang, dan ini adalah perintah yang tidak bisa kau bantah!" ucapnya lagi dan di angguki oleh Nadira sebelum ia keluar dari ruangan itu.
.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Jangan lupa follow ig: wind.rahma
Kalau mau, bantu promosikan Novel TUAN TAJIR suapaya banyak pembaca yang belum tahu cerita ini. Agar saya bisa fokus dalam membuat naskah. Bantu promo di grup fb ataupun sosial media lainnya. Soalnya waktu menulis saya harus terbagi dengan promosi dan aktivitas lainnya.