
Kini Bagas dan Rania sudah berada di kamar Villa yang sudah di booking. Kamar yang apabila kita keluar, kita langsung menemui kolam renang dan tempat bersantai. Dari sana juga kita dapat melihat pantai dari jarak cukup jauh, namun keindahannya tetap utuh. Jarak tidak mempengaruhi keindahan pantai Bali.
Villa yang mereka tempati bukan Villa pribadi, ya. Beri kesempatan orang lain untuk memiliki sesuatu, walaupun Bagas adalah orang tajir, tapi tidak segalanya dapat ia miliki.
Bagas menidurkan Rania yang sudah sadar dari pingsannya, tubuh Rania masih lemas. Ia menyelimuti sekujur tubuh Rania menggunakan selimut yang sudah di sediakan di sana. Tidak lupa Bagas juga memesan minuman hangat pada pelayan dan meminta untuk mengantarkan ke kamarnya.
Bagas duduk di tepi ranjang dengan memperhatikan kedua mata Rania yang terpejam, setelah ia memutuskan untuk tetap menemaninya di sana. Bagas sebenarnya masih khawatir dengan keadaan istrinya, tapi ia berusaha untuk tetap tenang karena ia yakin tidak akan terjadi apa-apa.
"Bagas.." Rania memanggil nama itu dengan suara samar. Matanya-pun masih terpejam, hingga mengalihkan sorot mata Bagas yang semula ia layangkan ke sembarang arah kini terpaku pada wajah Rania.
"Iya" Bagas menyahut sambil mengusap wajah Rania yang masih terlihat pucat menggunakan ibu jarinya.
"Apa aku masih ada di bumi?" Bibir Rania kembali bergerak dengan gemetar, sepertinya ia merasa takut kalau ia bukan sekedar pingsan.
Bagas terdiam sejenak dan ia menatap wajah Rania.
"Tentu saja, kau baik-baik saja. Bukalah matamu!" pinta Bagas sambil mengalihkan beberapa sulur anak rambut yang menutupi wajah Rania.
"Aku takut.." rintih Rania, ia memegang tangan Bagas yang sedang berusaha mengalihkan sulur anak rambut.
"Jangan takut! Aku ada di sini yang akan selalu menemanimu" ucap Bagas membalas genggangan tangan Rania.
"Permisi!" suara seseorang dengan mengetuk pintu kamar.
"Masuk!"
Seorang pelayan mengantarkan minuman hangat yang sudah di pesan oleh Bagas tadi. Setelah Bagas menerima minuman itu, pelayan kembali.
__ADS_1
"Minum dulu, agar kondisimu lebih membaik!" Bagas berusaha membantu membangunkan Rania.
Rania hanya meminum sedikit saja, sisanya, Bagas taruh di nakas dekat tempat tidur.
Bagas duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, kemudian menidurkan kepala Rania di pangkuannya. Memberikan rasa aman, nyaman, itu sudah menjadi bagian paling penting. Raniapun mulai merasakan hal itu, nyaman, damai ketika hidup dengan seseorang yang memperlakukannya layaknya ratu.
Bagas mengusap pangkal rambut Rania dengan ketulusan, ia merasa seperti hidup kembali dalam dunia yang memberinya pelajaran, bahwa cinta sejati itu ada. Ia berjanji akan akan menjaga pemberian Tuhan yang satu ini.
"Kau tahu, betapa khawatirnya aku tadi ketika melihatmu ketakutan seperti itu?"
"Kenapa?"
"Aku takut kehilangan orang yang selama ini aku cari. Mungkin aku memang tidak pernah mencari, tapi kau yang datang dengan sendirinya"
"Kan kau yang bilang, tidak akan terjadi apa-apa. Jadi, kenapa kau harus mencemaskanku?"
Bagas tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan istrinya. Rasanya dunia sedang fokus pada mereka berdua saat ini.
"Tidak!" Rania menggelengkan kepalanya, seraya fokus menatap wajah Bagas.
"Aku jadi ingat waktu aku kecil, tapi aku hampir melupakan usiaku saat itu. Kemana-mana aku harus pergi sendirian, ayah sibuk dengan pekerjaanya. Kakakpun sama, sibuk dengan dirinya sendiri. Aku pergi ke sebuah taman bermain yang banyak wahananya, di sana banyak sekali anak-anak seumurku yang di temani oleh ibunya. Aku sedih melihat diriku sendiri, tapi aku harus tetap merasa bahwa aku baik-baik saja" Bagas menceritakan masa kecilnya pada Rania.
"Di sana, aku naik sebuah wahana yang dapat menjulang ke atas. Anak lain di awasi oleh orang tuanya sedangkan aku tidak. Hingga akhirnya aku terjatuh dari wahana permainan itu. Aku ingat, salah seorang wanita keibuan membantuku untuk bangkit. Aku di landa ketakutan saat itu karena kakiku berdarah, aku juga nangis pada waktu itu. Tapi, wanita itu mengatakan padaku bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Semuanya baik-baik saja" Bagas tersenyum getir ketika menceritakan masa kecilnya, tanpa sadar setitik kristal terjatuh dari pelupuk matanya mengenai pipi Rania.
Rania terharu mendengar cerita masa kecil Bagas, ternyata di balik kehidupannya yang kejam, sombong, ada kesedihan, kerinduan kasih sayang dan perhatian yang mendalam.
Aku dapat merasakan kesedihanmu itu, Bagas sayang. ucap Rania dalam hati.
__ADS_1
Rania melingkarkan tangannya di pinggang Bagas, memeluk erat, memberi kekuatan pada suaminya. Ternyata Bagas bisa nangis juga.
*****
"Bodoh, aku benar-benar bodoh" geram Hera di kamar tempat kediaman tuan tajir. Tidak tahu apa alasan ia marah-marah sendiri.
Hera bolak-balik berjalan seperti setrikaan, entah sedang memikirkan apa dia.
"Kenapa aku tidak bisa menggagalkan rencana bulan madu Bagas dengan gadis kampungan itu!" kalimat yang ia ucapakan barusan rupanya alasan kenapa ia marah-marah. Hera mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan sampai dia pulang dalam keadaan hamil, aku tidak akan membiarkan gadis itu memiliki keturunan dari keluarga tuan tajir. Bisa-bisa dia akan lebih leluasa mengambil alih seluruh harta keluarga ini" kepanikan Hera semakin menjadi.
Hera berpikiran seperti itu pasti akibat Arsilla yang sudah menceritakan sedemikian rupa tentang Rania yang tidak tahu apa-apa soal merebut harta. Itu hanya pikiran Arsilla yang trauma dengan rumah tangganya dulu, ia lampiskan semuanya pada rumah tangga adiknya, dan Rania yang kena getahnya.
"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, lebih baik harta itu jatuh ke tangan aku saja daripada harus jatuh ke tangan gadis kampungan itu. Setidaknya, aku masih keluarganya, aku bukan ingin menguasainya, hanya untuk melindunginya dari orang-orang yang haus harta dan ingin tajir secara instan" Hera semakin menjadi, mulai dari berjalan bolak-balik seperti setrikaan, mengepalkan tangannya, mengacak-acak rambut sendiri, hingga menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kalau suka jangan lupa tinggalkan like, tambahkan ke favorit, vote juga ya menggunakan poin ataupun koin! Yang ingin tahu visual tokoh Bagas dan Rania segera cek di youtube. Subscribe, ya! Foto kemesraan Rania dan Bagas di usahakan secepatnya di update.
Bagi yang sudah melihat visual Bagas dan Rania, kalau merasa cocok ya Alhamdulillaah. Kalau tidak setuju ya kalian bisa berimajinasi dengan tokoh yang kalian suka. Pokoknya yang belum lihat ayo deh segera lihat sekarang juga, maksa dikit boleh, lah. Sampai bertemu di next chapter