
Siang ini, Rania sudah ada di ruko. Ia meminta para pegawainya untuk berkumpul sebentar. Ia akan memberi tahu soal rencana pindah ruko ke ruko milik bisnis suaminya.
"Jadi, begini. Saya ada rencana pindah tempat ke ruko di seberang sana. Kalian pasti sudah tahu kalau itu ruko milik bisnis suami saya, maka dari itu saya minta pada kalian semua untuk menyiapkan pindahan ini," terang Rania kepada seluruh pegawainya termasuk Reyhan.
"Baik, bu. Tapi kira-kira kapan pindahan ini akan berlangsung?" tanya salah satu pegawainya.
"Sekitar tiga harian lagi. Besok kita harus sudah siap-siap, dan kemungkinan selama pindahan kita akan mengalami keterlambatan barang sampai ke coustamer. Maka dari itu kita atur waktunya sedikit lebih lambat dari biasanya," jawab Rania dan seluruh pegawainya mengangguk mengerti.
"Tapi waktu sewa ini belum berakhir sampai semestinya, Rania. Apa kamu tidak merasa rugi?" Reyhan menimpali.
"Tidak, Rey! Aku sama sekali tidak merasa rugi," sahut Rania. Karena keuntungan yang ia peroleh hasil dari bisnis online-nya yang banyak, membuatnya sama sekali tidak rugi, itu tidak sebanding dengan pendapatannya.
Semua mengangguk setuju, ada yang tetlihat sedih dengan berita ini. Karena mereka harus meninggalkan ruko tempat kerjanya sehari-hari, ada juga yang merasa gembira karena nanti mereka akan menempati ruko yang lebih luas dari ruko sekarang ini.
"Saya juga akan menambah pegawai baru untuk membantu kalian yang sering kali kewalahan. Saya tidak mau kalian kelelahan ketika bekerja, jadi kalau saya tambah pegawai baru, bisa mengurangi beban kalian," terang Rania lagi.
"Wah, nambah banyak teman dong, bu!" sahut pegawainya dengan gembira.
"Iya, pasti lebih seru!" para pegawainya saling sahut, Rania hanya tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar di wajah para pegawainya.
"Oh, iya. Saya hampir melupakan sesuatu. Satu hal lagi, untuk masalah mencari pegawai baru, aku serahkan semua padamu, Rey. Aku percayakan semuanya sama kamu. Apakah kamu tidak keberatan?"
"Tidak, Rania. Aku sama sekali tidak merasa keberatan, justru aku senang kalau kamu mempercayai aku. Terima kasih atas kepercayaannya, Rania. Aku tidak akan menyianyiakan kepercayaan itu, aku janji," balas Reyhan.
"Iya, Rey. Terima kasih kembali. Maaf jika aku selalu merepotkanmu!"
"Tidak Rania. Aku sama sekali tidak pernah merasa di repotkan," pekik Reyhan.
Rania memberi Reyhan seulas senyum, karena ia beruntung sekali memiliki teman sebaik Reyhan. Diva yang juga berada di sana memperhatikan Rania dan Reyhan secara bergantian.
"Ehem.." deham Diva, membuat Rania seketika menoleh paham kalau dia sedang cemburu.
Rania segera pergi dari sana, sedikit memberi ruang agar Diva bisa mendekati Reyhan dengan leluasa. Ia tidak mau kesalahpahaman antara hubungannya dengan Reyhan yang hanya sebatas teman. Ia tidak mau Diva cemburu lagi.
Sore harinya, Rania mengajak Bagas pergi ke rumah sang ibu. Untuk memberi tahu soal rencana mereka pindah rumah.
__ADS_1
"Memangnya mau pindah daerah mana, nak Bagas?" tanya bu Sari penasaran, ia sedikit cemas juga kalau jaraknya dengan kediaman anak dan menantunya semakin jauh.
"Belum tahu, sih, bu. Masih rencana juga. Maunya rumah kita nanti berada di tengah-tengah dari jarak rumah ibu dan papah saya," tutur Bagas setelah meneguk es teh manis yang di suguhkan oleh ibu mertua.
"Oh, bagus kalau begitu," jawab bu Sari setuju.
"Kalau kalian sudah ada rencana buat beli rumah baru, kapan dong ayah juga di belikan rumah baru?" timpal Burhan yang juga ada di sana.
"Husss.." pekik bu Sari merasa malu sendiri atas ucapan suaminya.
"Nanti aku akan belikan juga kalau mau," sahut Bagas sambil tersenyum masam.
"Ayah, tidak boleh seperti itu! Ibu jadi malu," bisik bu Sari sehingga Bagas dan Rania tidak dapat mendengarnya.
"Nah, begitu dong, nak Bagas. Kalau bisa secepatnya, ya! Jangan lupa belikan rumah yang besar dan mewah! Ayah sudah tidak sabar untuk menempati istana seperti itu," pinta pak Burhan sambil menghalu tingkat angkut.
"Iya," jawab Bagas singkat.
"Tidak usah di dengarkan, nak Bagas! Ayah pasti cuma bercanda," tukas bu Sari, ia merasa malu.
"Kalian mau lama di sini? Kalau begitu ibu akan menyiapkan makanan untuk makan malam, ya?!" kilah bu Sari mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, bu. Terima kasih!" tolak Bagas sopan. "Kami masih banyak urusan, selain rencana pindah rumah, kami harus mengurus pindahan ruko bisnis online Rania juga yang akan pindah ke ruko bisnisku."
"Oh, sudah di resmikan?" tanya bu Sari, ia sudah tahu soal ruko itu karena Bagas dan Rania sudah sempat menceritakannya.
"Sudah, bu. Alhamdulillaah semua berjalan dengan lancar dan semestinya."
"Alhamdulillaah, kalau begitu!" bu Sari tak kalah bahagianya.
"Kalau begitu kita pamit pulang dulu, bu, ayah!" pamit Rania bersiap untuk berdiri.
"Iya, nak. Semoga semuanya lancar, ya!" harap bu Sari.
"Iya, bu. Aamiin. Assalamu'alaikum," Rania mencium punggung kedua orang tuanya, di susul oleh Bagas setelahnya.
__ADS_1
"Walaikumussalaam. Hati-hati, nak!"
***
Di perjalanan pulang, Rania menyandarkan kepalanya di kaca mobil samping. Ia memandang ke luar kaca sepanjang perjalanan. Sambil memainkan embun di kaca mobil akibat hujan yang sedang mengguyur tanah ibu kota. Betapa senangnya ia melakukan hal itu, menulis-nulis kata yang tidak jelas menggunakan jari telunjuknya.
"Kelakuanmu seperti anak kecil saja." ujar Bagas membuat Rania menoleh kepadanya.
"Ini bukan sepenuhnya keinginanku, nih!" Rania menunjuk pada perutnya yang terlihat membuncit.
"Kau selalu menyalahkan anak kita. Kalau begitu akan tanyakan pada dia setelah ia lahir!" decaknya.
"Kau sudah tidak waras, apa? Mana mungkin dia bisa berbicara dan mengatakan semuanya," pekik Rania.
"Hahaha...aku bercanda, sayang." Bagas menyubit pipi Rania menggunakan sebelah tangannya dengan gemas. Membuat si pemilik pipi meringis kesakitan.
Rania mengerucutkan bibirnya, suaminya ini terlihat menyebalkan jika sudah menyubit pipinya yang tak kira-kira. Tidak tahu apa kalau pipinya terasa panas setelah ia cubit. Benar-benar menyebalkan.
Ia kembali menyandarkan kepalanya di kaca mobil, kembali melihat rintikan hujan yang sudah mulai reda. Namun, tatapannya seketika terpaku pada seorang wanita di baluti gaun merah muda selutut, sedang berjalan masuk ke dalam kafe bersama seorang pria yang keduanya tidak asing di mata Rania. Ia mempertajam penglihatannya untuk memperjelas dua sosok manusia yang sedang ia lihat sekarang ini. Namun sayangnya, mereka keburu masuk ke dalam kafe itu, dan air hujan yang mengembun di kaca mobil tidak dapat membantu melihatnya dengan jelas.
Bukankah itu tante Hera? Dengan siapa dia? Pria itu seperti tidak asing, dan aku cukup mengenalinya. Dia seperti...Tapi, tidak! Mungkin aku salah lihat. Ah sudahlah, mungkin itu teman dekat tante Hera. Gumam Rania dalam hati.
"Kau kenapa?" Bagas memperhatikan istrinya yang berubah aneh.
"Emmm..aku baik-baik saja!" balas Rania seraya memberi seulas senyuman, agar Bagas tidak curiga kalau ia sedang memikirkan sesuatu tentang tantenya.
.
.
.
Coretan Author:
Harap selalu setia untuk menunggu kelanjutan cerita ini, karena kalau seorang pemabaca saja butuh waktu luang untuk membaca, maka seorang author-pun jauh lebih membutuhkan waktu luang untuk melanjutkan ceritanya.
__ADS_1