
Seiring berjalannya waktu, kehamilan Rania kini memasuki usia sepuluh minggu. Biasanya, di usia kehamilan yang akan memasuki usia tiga bulan ini adalah masa di mana seorang ibu hamil sedang mual-mualnya. Setelah melewati beberapa jenis ngidam yang begitu merepotkan, kini Bagas juga harus lebih di repotkan lagi jika sewaktu-waktu Rania muntah di atas tempat tidur atau di pangkuannya misalnya. Karena mana mungkin ia akan meminta pelayan yang akan membersihkannya, karena itu merupakan bagian dari kewajibannya juga.
Hari ini Bagas dan Rania mengundang keluarganya datang ke rumah untuk merayakan pesta sederhana. Namun sayangnya mereka tidak dapat memenuhi undangan tersebut selain Brahma dan Arsilla. Karena saat ini momen yang paling tepat untuk Brahma berkunjung ke rumah putranya bersama Arsilla, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk datang.
Begitu Brahma dan Arsilla datang, ternyata Bagas dan Rania sedang memotret dirinya menggunakan kamera yang di beri durasi. Rania tengah berlenggak-lenggok untuk mendapatkan hasil gambar yang bagus.
"Assalamu'alaikum putra Brahma," salam dari seseorang membuat Bagas dan Rania menghentikkan aktivitasnya.
"Walaikum salam," jawab Bagas dan Rania, ketika menoleh ternyata yang datang adalah Papa dan kakaknya.
Bagas dan Rania meraih tangan Papa dan kakaknya kemudian mencium punggung tangannya. Mungkin itu yang pertama kali mereka lakukan untuk Arsilla. Arsilla saja sampai tercekat begitu adik dan adik iparnya mencium tangannya ketika menyambut kedatangannya.
"Kalian sedang mengabadikan momen langka ini, ya?" tanya Brahma sambil menoleh ke kamera yang berdiri di sana.
"Iya, Pa." jawab Bagas.
"Kenapa tidak minta tolong pelayan atau siapa untuk mengambilkan gambar kalian, agar hasilnya juga lebih memuaskan?"
"Kita bisa melakukannya tanpa bantuan orang lain, Pa. Lagi pula kita ingin menikmati momen seperti berdua. Papa mau ikut foto juga?" tawar Bagas segera mempersilahkan.
"Tidak, tidak usah! Lebih baik kalian saja. Nanti Papa belakangan saja, sekarang Papa bantu kalian dulu untuk mengambil gambar kalian, ya?!"
"Tidak perlu, Pa! Kita tidak ingin merepotkan Papa," ujar Bagas.
"Iya, Pa. Lebih baik Papa ikut berfoto dengan kita, kakak ipar juga mau, ya?!" Rania ikut menimpali.
"Tidak, kalian saja! Ini kan momen kalian, jadi kalaupun kita ikut foto, nanti belakangan saja. Iya kan, Pa?" tanya Arsilla pada Papanya, pak Brahma mengangguk membenarkan.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kalian ambil gambar sebagus mungkin. Kalau Papa tidak di izinkan untuk membantu kalian, Papa dan Arsilla cukup melihat saja," ujar pak Brahma.
"Pa, bukannya kita tidak mengizinkan. Kalau Papa mau ya sudah, Papa boleh bantu ambilkan gambar kita!" ujar Bagas karena tidak mau melihat Papanya kecewa.
Brahma akhirnya tersenyum, dia segera bersiap untuk mengambilkan gambar putra dan menantunya.
"Sayang, kau berdiri lagi di sana!" pinta Bagas agar Rania kembali ke posisi di tempat akan di ambil gambarnya.
"Sebentar, Pa!" Bagas mengatur lagi kameranya, Rania juga sudah ada di posisi yang pas sambil berlenggak-lenggok untuk mendapatkan gaya yang bagus.
__ADS_1
Setelah mendapatkan posisi yang bagus untuk di ambil gambarnya, Bagas segera menyusulnya untuk ikut foto bersama tentunya. Rania memegang sebuah kertas bertuliskan 10 weeks.
"Selamat untuk usia sepuluh minggu kehamilanmu, sayang!" ucap Bagas sambil mengusap perut Rania.
Rania menatap Bagas yang sedang tersenyum padanya, karena Brahma sudah untuk mengambil gambar mereka. Akhirnya Bagas juga menyiapkan diri dengan berdiri di belakang Rania sambil memeluk perut tersebut.
Saat posisi Bagas sudah siap, Rania juga sudah siap dengan memegangi tulisan tersebut. Brahma segera mengambil detik berharga gambar tersebut beberapa kali dengan gaya yang berbeda. Senyuman merekah yang terpancar di wajah mereka membuktikan kalau mereka saat ini sedang bahagia. Senyuman itu tidak terlepas dari bibir mereka masing-masing.
Yuk, tonton videonya di akun instagram wind.rahma dan jangan lupa follow juga ya.
***
Setelah mobil pak Brahma undur diri dari halaman rumah Bagas, sebuah mobil silver memasuki halaman rumahnya menggantikan mobil pak Brahma. Bagas dan Rania yang masih mematung di sana mengamati mobil siapa yang datang. Rasanya mobil itu tidak asing juga bagi Rania. Rasanya ia pernah sekali naik mobil tersebut.
Setelah mobil berhenti, satu orang pria dan satu orang gadis turun dari mobil. Mereka adalah Reyhan dan Diva. Rupanya mereka semakin hari semakin dekat saja, sampai datang ke rumah Rania-pun mereka berdua.
"Hai Rania," sapa Diva segera di sambut hangat oleh Rania.
"Maaf ya terlambat, soalnya harus ke ruko dulu!" ujar Diva sambil meraih buah tangan kanan Rania meminta maaf.
"Tidak apa-apa!" Rania tetap merasa senang.
Sementara Bagas dan Reyhan juga tengah mengobrol kecil, tumben akur. Rania senang melihatnya, akhirnya Bagas tidak akan lagi cemburu jika Reyhan sudah dekat dengan wanita lain, yaitu Diva.
"Ayo, masuk!" ajak Rania pada Diva dan Reyhan.
Bagas berjalan di belakang Rania dan Diva, sedangkan Reyhan kembali ke mobil. Sepertinya ada sesuatu yang tertinggal di dalam mobilnya.
"Duduk, Div!" Rania mempersilahkan Diva untuk duduk, tidak lama kemudian Reyhan menyusul masuk.
"Rania, ini ada kado dari semua pegawai ruko. Dia titip salam buat kamu," Reyhan menyerahkan paper bag berukuran besar dengan banyak sekali kado di dalamnya.
"Terima kasih! Ucapkan terima kasih pada mereka semua, ya!" ucapnya sambil menerima paper bag tersebut dari tangan Reyhan.
"Ayo duduk, Rey!" Rania juga mempersilahkan Reyhan untuk duduk.
__ADS_1
"Bi..., biii..," teriak Rania memanggil pelayan di rumah.
"Iya, nona." Pelayan itu setengah berlari untuk memenuhi panggilan dari nona rumah.
"Buatkan minuman untuk tamu saya, ya!" pinta Rania tak lupa memberi seulas senyum pada pelayannya.
"Baik, nona." Pelayan itu segera kembali untuk membuat minuman.
"Happy 10 weeks buat kandungannya, ya!" ucap Diva kemudian meminta izin untuk mengelus perut Rania. Dan Rania mengizinkan, silahkan saja.
"Happy 10 weeks ya, Rania!" Reyhan juga ikut mengucapkan.
"Iya, terima kasih ya buat kalian semua!" Rania sampai terharu.
Bagas hanya diam, ia hanya bisa menyimak obrolan Rania dengan pegawai rukonya. Tidak tahu harus berkata apa, akhirnya Bagas membuka pembicaraan mengenai ruko saja, sepertinya itu akan sedikit nyambung dengan pembicaraan mereka. Daripada diam dan terus di kacangin, di anggurin, gak enak juga.
Bagas berdeham, mengambil ancang-ancang untuk membuka pembicaraan. "Masalah ruko bagaimana? Apa kalian bisa mengurus semuanya tanpa adanya istriku?" tanya Bagas pada siapapun yang mau menjawab antara Reyhan dan Diva.
"Alhamdulillaah ruko aman, kami masih bisa menghandle semuanya," jawab Reyhan membuat Bagas sedikit lega.
"Bagus!" ujar Bagas.
Setelah itu, rasanya tidak ada lagi pertanyaan yang akan di tanyakan olehnya. Akhirnya Bagas lebih memilih diam dan menyimak saja pembiacaraan Rania dengan temannya itu. Benar-benar di kacangin.
Tidak terasa, waktu sudah petang. Reyhan memutuskan untuk pulang saja. Mereka tidak lupa untuk pamitan terlebih dahulu pada tuan rumah.
.
.
.
Coretan Author:
Follow ig: wind.rahma
Vote yang banyak, ya!
__ADS_1