Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kedatangan Ibu Mertua


__ADS_3

Mobil memasuki gerbang rumah utama tempat kediaman sang tuan tajir. Pak sopir pun segera memberhentikan laju mobilnya ketika sudah sampai di tujuan. Ia segera membuka pintu untuk seseorang yang ia jemput. Seseorang itupun turun dari mobilnya dengan sangat hati-hati.


Setelah turun dari mobil, bu Sari mengedarkan pandangannya. Ia melihat sebuah istana megah yang selama ini ia anggap hanya ada dalam sebuah cerita dongeng. Bu Sari mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang saat ini ia lihat adalah sungguhan. Memang sungguhan.


Pak sopir yang sudah menurunkan barang bawaan bu Sari dari bagasi mobil yang kemudian ia bawakan. Pak sopir menepuk pundak bu Sari untuk mengajaknya segera masuk ke dalam rumah megah itu. Tubuh bu Sari tersentak kaget ketika pak sopir menepuk pundaknya, membuat hayalannya terbang begitu saja.


Apa benar anakku Rania tinggal di rumah istana sebesar ini? Batin bu Sari.


Bu Sari meneteskan air mata kagum jika anaknya benar-benar tinggal di rumah sebesar ini. Pak sopir kembali memanggil bu Sari untuk segera mengikuti langkahnya masuk.


Dengan tubuh dan langkah yang gemetar, bu Sari pun mengikuti pak Sopir masuk. Bu Sari tersenyum pada para pelayan yang membukakan pintu depan utama. Setelah sampai di ruang tamu, pak sopir menyuruhnya untuk menunggu sebentar, bu Sari pun menurut saja.


Bu Sari semakin terkagum ketika melihat isi rumah itu, banyak sekali barang mewah yang belum pernah ia temui sebelumnya. Ruangan dengan udara segar dari alat pendingin ruangan, membuat bu Sari memeluk dirinya sendiri karena tidak terbiasa berada di ruangan dengan suhu yang dingin.


Sambil menunggu, bu Sari berjalan ke arah laci panjang yang di sana ada beberapa foto penghuni rumah ini. Ada beberapa banyak barang berharga juga di sana yang kalau di jual akan menghasilkan uang jutaan. Saking kagumnya, bu Sari memberanikan diri untuk menyentuh siap kali saja barang berharga itu. Tapi itu segera di hentikan oleh penghuni rumah ini yang tiba-tiba saja muncul tanpa terdengar langkah kakinya.


"Siapa kau?" tanya seorang wanita dengan tatapan penuh kecurigaan, "Apa kau maling?"


"Kenapa maling bisa masuk ke rumah ini?"


Tangan bu Sari yang akan menyentuh barang mewah itu mendadak bergetar, mulutnya terasa terkunci, bahkan ia tidak dapat menggelengkan kepala sebagai jawaban bukan seperti tuduhan wanita itu. Ia adalah Arsilla.


"Jawab! Kau siapa? Kenapa kau ada di sini manusia gembel?" bukan hanya menuduh, bahkan Arsilla pun sampai memaki bu Sari.


Arsilla melihat barang bawaan di dekat berdirinya bu Sari.


"Apa itu?" tanya Arsilla menunjuk ke sebuah dus, "itu barang-barang mewah yang kau ambil dari rumah ini kan? Ngaku kau! Kalau tidak, aku akan laporkan ke polisi!"


Dengan cepat bu Sari melambaikan tanagannya, "Ja-jangan non, sa-sa-saya bukan ma-maling!" jelas bu Sari terbata-bata. Matanya mulai meneteskan air mata, karena ia datang ke rumah megah dengan sambutan yang cukup buruk. Lebih buruk dari yang ia bayangkan.


Salah satu pelayan di sana mendengar suatu keributan lagi di rumah ini, ia dengan cepat menaiki anak tangga dan mengetuk pintu kamar tuan dan nona rumahnya.

__ADS_1


Rania dan juga Bagas yang sedang istirahat di dalam sana sangat terkejut begitu mendengar pintu di ketuk dengan keras.


"Haduh, siapa dia? Kenapa tidak ada sopan santunnya mengetuk pintu tuan rumah. Hey gadis bodoh, suruh semua pelayan di rumah ini untuk tidak mengangguku!" suruh Bagas, lagi-lagi ia memanggil nama Rania dengan sebutan gadis bodoh.


"Baik, tuan!" Rania bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri pintu.


"Ada apa, bi?" tanya Rania kepada pelayan yang telah mengetuk pintu kamarnya dengan keras.


"A-anu non, di bawah ada keributan" ucap pelayan, wajahnya terlihat panik.


"Keributan? Keributan gimana, bi?"


"Mendingan sekarang nona turun saja ke bawah untuk melihatnya!"


"Baik, bi. Saya akan ke sana"


Rania dengan cepat keluar dan menutup pintu kamarnya, mengikuti langkah pelayan yang membetitahu.


Keributan apa lagi yang terjadi di rumah ini? Kenapa perasaanku jadi gak enak gini ya? Semoga tidak terjadi apa-apa di sana.


Seketika Rania menghentikan langkahnya, ketika melihat sosok wanita paruh baya tergeletak duduk tertunduk di lantai, matanya mengeluarkan air yang begitu deras di pipinya. Tubuh Rania langsung gemetar, lututnya melemas bahkan tidak mampu menopang berat badannya. Wanita yang ia lihat adalah ibunya. Ibunya yang sedang di maki habis-habisan oleh kakak iparnya. Ketakutannya selama ini terjadi, terjadi di hadapannya sekarang.


"Kalau maling ya maling aja. Apa susahnya ngaku? Kalau kau bukan maling, lalu kau siapa?" bentak Arsilla.


"Dia ibu saya"


Seketika ruangan menjadi hening, Arsilla menoleh ke asal suara berasal. Ia menatap tajam mata Rania yang kosong. Arsilla tersenyum remeh mendengar pengakuan Rania.


"Pantesan aja tampang dan penampilannya sama-sama gembel dan kampungan" makinya lagi.


Mendengar itu, bu Sari seperti mendapat kekuatan baru. Ia langsung bangkit dan berdiri. Pikirinnya berlarian kemana-mana.

__ADS_1


Jadi selama ini Rania, anakku mendapat perlakuan begitu buruk dari pemilik rumah ini? Bagaimana dengan suaminya? Apakah dia juga sebenarnya melakukan hal yang sama? Ya Allah, kenapa semua harus begini.


Bu Sari membungkam mulutnya tidak percaya, ia yang selalu mengira bahwa anaknya akan baik-baik saja ternyata salah. Salah besar.


Rani menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya, ia tidak mau ibunya melihat kesedihannya selama ini. Ia hanya mau terlihat selalu kuat dan bahagia. Rania melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arsilla.


"Kakak ipar dengar ya! Dia ibu saya, wanita yang paling berharga dalam kehidupan saya melebihi apapun. Kau punya ibu juga kan? Bagaimana perasaanmu jika ibumu masih ada dan di perlakukan buruk oleh orang lain? Sakit? Hancur?"


Arsilla yang mendengarnya seperti mendengar serangan balik, mengingat kejadiannya kemarin dengan Rania, ia tidak mau lagi meladeninya. Ia takut jika Rania benar-benar nekat ketika emosinya tidak terkendali. Seperti macam yang bangun dari tidurnya. Arsilla memilih untuk pergi, tidak lupa ia menyenggol bahu Rania dengan keras, sehingga membuat tubuh Rania nyaris terjatuh.


Ketika Arsilla sudah pergi, dengan cepat Rania menghampiri ibunya. Ia menatap lekat ibunya. Bu Sari memegang kedua bahu Rania.


"Rania?"


"Rania baik-baik saja, bu. Ibu tenang aja"


"Bagaimana ibu bisa tenang Rania, jika ibu tahu kalau kamu ternyata di perlakukan buruk"


Rania terdiam, selama ini ia menyembunyikan rapat-rapat kesedihannya tentang bagaimana ia di perlakukan di rumah ini terbongkar sendiri oleh ibunya.


"Ibu gak apa-apa kan?" Rania mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kamu bohongin ibu, nak? Kalu kamu sebenarnya begitu menderita"


Maafin Rania, bu. Selama ini aku bohongin ibu itu semua demi kebaikan ibu. Rania gak mau ibu ikut sedih, apalagi ibu sampai sakit lagi. Biarkan Rania yang menggantikan rasa sakit ibu.


"Em, bu. Suami Rania sudah menunggu ibu, ayo!" lagi-lagi Rania mengalihkan pembicaraan, ia segera merangkul ibunya untuk pergi ke kamarnya. Tidak lupa, ia juga memberitahu kepada pelayan untuk membawakan barang bawaan ibunya.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Alhamdulillaah readers setia TUAN TAJIR. Saya sudah membaik dan bisa kembali up setiap hari.


Like, vote, dan tambahkan ke favorit ya bagi yang belum😊


__ADS_2