
Papa..???"
"Om Bagas??" ucap mereka hampir bersamaan.
Bagas melangkah masuk berjalan menghampiri keduanya. Rupanya dia baru saja pulang dari Bogor, mencari keberadaan istrinya namun pada saat melewati kamar putrinya terdengar suara seseorang tengah mengobrol. Lantaran pintunya terbuka sedikit, pria itu memutuskan mengecek putrinya dan mendapati Galang di sana.
"Apa yang akan kamu lakukan sama Khanza??" tanya Bagas dengan nada menakutkan. Namun tidak juga membuat Galang panik, laki-laki itu kini justru terlihat santai.
"Mau ngajarin anak om yang menggemaskan ini latihan senam lidah, om," Bagas menghela napas berat mendengar jawaban Galang. Sedangkan Khanza tidak menyangka kalau laki-laki itu akan mengatakan hal yang sejujurnya.
"Kamu tau, kalau apa yang akan barusan kamu lakukan itu melewati batas wajar??"
"Ya tapi kan anak om juga gak keberatan aku ajarin latihan senam. Lagian kita juga kan udah jadian. Iya kan, baby?" tanya laki-laki itu seraya menatap nakal Khanza.
"GALANG! Om tau, kamu suka sama Khanza-anak om. Tapi om mau kamu pacaran secara sehat! Oke?! Karna lebih baik menjaga draipada merusak. Paham?!" laki-laki itupun diam mendengar penuturan Bagas.
"Dan kamu, Khanza! Gimana kalau kejadian seperti ini di ketahui mama kamu? Kamu mau, kuliah kamu di cabut??" gadis itu menunduk.
"Iya, pah. Maaf!!" Khanza nyaris meneteskan air mata.
"Ok, om. Aku bakal jagain gadis kesayangan kita ini. Tapi om, secelup dua celup boleh kan?" ucapnya konyol, nyaris membuat Bagas tertawa jika tidak segera ia tahan. Pria itu berusaha bersikap tegas pada Galang.
"Ya sudah kalau begitu kalian PUTUS aja sekalian!!"
"Jangan om, jangan," ucap Galang memohon. "Nyium kening aja deh, om. Boleh kan?" ucap Galang lagi membuat Bagas membuang napasnya kasar.
"TERSERAH!!!" ucapnya, kemudian melipir pergi keluar kamar. Sementara Galang bersorak kegirangan.
Bagas sedikit menjauh dari intu kamar putrinya. Kemudian merogoh ponsel di sakunya guna menelpon seseorang.
"Halo, Frans. Sebaiknya kita batalkan saja perjanjian kita!"
"Perjanjian apa, Gas?" tanya Frans dari sebrang sana.
__ADS_1
"Haduuh.. Gas Gas aja. Panghil saya Bagas, Frans!" protes pria itu, lantaran semenjak Frans menikah dengan Nadira. Frans tidak lagi memanggilnya dengan sebutan tuan. Sebab, Bagas merupakan suami dari adik iparnya.
"Iya, maaf. Perjanjian apa, Bagas?" Frans mengulang pertanyaannya.
"Perjanjian menjodohkan anak kita."
"Kenapa harys di batalkan?" seru Frans.
"Ya karna kita tidak perlu menjodohkan mereka. Sebab mereka sudah mendahului rencana kita."
"Maksudnya gimana? Saya tidak paham," Bagas mendengus kesal.
"Frans.. Frans.. Kau ini masiiih saya bodoh. Maksudku, Galang dan Khanza sudah menjadi pasangan mulai saat ini. Mereka sudah jadian dan status mereka sekarang sudah berpacaran," jelasnya.
"Benarkah?" seru Frans lagi.
"Iya. Jadi kau cepat pulang. Kita rayakan ini dan alangkah baiknya, kita harys secepatnya buat pesta pertunanga mereka. Kau setuju?"
***
Galang Permana.
Seorang anak remaja laki-laki, yang merupakan putra angkat dari pasangan Frans dan Nadir. Mengapa putra angkat? Bukannya dulu Nadira sudah hamil lima bulan? Nyatanya, Nadira mengalami keguguran saat kehamilan anak pertamanya itu. Rahimnya pun harus di angkat lantaran ada tumor di dalam rahim tersebut. Sehingga, Nadira tidak dapat lagi memiliki keturunan.
Awalnya Nadira sangat sedih menerima kenyataan pahit itu, namun seiring berjalanya waktu ketulusan cinta Frans mampu menghapus kesedihannya. Pria itu menerima keadaan istrinya apa adanya, meskipun cinta mereka tidak dapat berbuah keturunan.
Galang, laki-laki yang di adopsi pada saat dia masih berusia lima tahun. Entah kenapa, Nadira begitu menginginkan bocah yang terkesan bandel di seusianya itu. Padahal, masih banyak bocah lucu dan menggemaskan lainnya di Panti Asuhan tersebut.
Frans dan Nadira pun sepakat mengadopsi bocah tersebut. Sampai akhirnya mereka berhak membawa Galang ke rumah mereka setelah mendapatkan hak adopsinya.
Pertama kali Galang menginjakkan kaki di rumah Frans dan Nadira yang saat itu sudah sah menjadi orang tuanya, ia mendapati bocah perempuan yang entah kenapa mereka bisa langsung akrab. Padahal, di Panti Asuhan Galang sulit sekali bergaul dengan anak yang lain. Hal tersebut terjadi karena Galang merupakan anak yang bandel, sehingga tidak ada anak yang mau berteman dengannya.
__ADS_1
Bocah perempuan itu merupakan Khanza, saat itu dia berusia tiga tahun yang kebetulan sedang main di rumah om tantenya itu bersama ibunya yakni Rania. Lantaran sebelumnya Nadira sudah meminta Rania untuk menjaga rumahnya sementara mereka menjemput Galang di Panti.
Keakraban Galang dan Khanza pun tidak hanya sampai di situ. Hal tersebut justru kian berlanjut. Hanya saja, kadang Galang sedikit usil pada Khanza sejak mereka tumbuh besar, yang membuat bocah perempuan itu kadang tidak nyaman bermain dengan Galang. Tapi di balik itu, Galang tetap menyayangi Khanza.
***
Rania bersama kakaknya semakin mempercepat langkahnya begitu melihat Radit tengah duduk di bangku besi depan ruang rawat inap bu Sari.
"Bang Radit, ibu sekarang gimana kondisinya?" tanya Rania memburu, pria itupun mendongak. Kemudian ikut berdiri.
"Ibu.. kondisi ibu semakin menurun Nad, Rania," jawaban Radit membuat Rania semakin kehilangan setengah kekuatan tubuhnya. Tubuhnya nyaris ambruk jika kedua kakaknya ini tidak segera membantunya mendudukan di bangku di dekatnya.
"Kamu tenang ya, Rania. Kakak juga sama cemas, tapi kita harus bisa tenang dan berdo'a supaya ibu di beri kekuatan agar cepat sembuh. Kita juga harus kuat yah!" tutur Nadira seraya mengusapi bahu Rania.
"Iya, kak Nad. Oh iya, bang. Ayah mana?"
"Ayah di dalam jagain ibu."
"Kalo gitu Rania juga mau ikut jagain ibu. Ayo, kak Nad!" pinta Rania sambil mengajak Nadira masuk ke ruangan tersebut.
Lagi-lagi Rania harus kembali menyaksikan ibunya terbaring di ranjang Rumah Sakit. Terlebih dulu, dirinya di jadikan jaminan dan harus menikah dengan pria yang menjadi suami sekaligus ayah dari putrinya sekarang. Mungkin dia harus berterima kasih pada abangnya, lantaran permintaan abangnya untuk meminjam uang pada Bagas, sekarang hidupnya bisa jauh lebih baik daripada dulu. Meskipun harus melewati berbagai rintangan serta cobaan hidup.
Selang infusan juga selang oksigen terpasang rapi di tubuh wanita paruh baya yang saatvini terbaring lemah di atas tempat tidur ruangan itu. Rania tak kuasa menahan air mata yang tidak dapat ia bendung lagi. Membuat suasana kini berubah mengharu biru.
Suara dering panggilan masuk memecah kesenyapan ruangan. Membuat semua pasang mata tertuju pada ponsel milik Nadira. Wanita itupun segera mengangkat telpon yang berasal dari suaminya. Tanpa mereka sadari, kelopak mata bu Sari kini mulai bergerak-gerak.
"Halo, mas. Ada apa?" tanya Nadira pada suaminya.
"Apa? Galang mau tunangan sama Khanza?" seru Nadira setelah suaminya mengatakan hal barusan, semua pasang mata kini kembali tertuju pada Nadira. Terlebih lagi Rania.
___
Lanjut ke Part 3 ya.
__ADS_1