Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Lelah


__ADS_3

Hari ini ngidam Rania terpenuhi lagi, ia merasa sangat lega dan bahagia. Walaupun sekretaris Frans yang menjadi korban kekerasan si jabang bayinya, hehe. Sehingga membuat waktu berputar begitu cepat dari biasanya. Perasaanya saja.


Hari ini tempat bisnis online-nya sedang pindahan ke ruko milik bisnis suaminya yang ada di seberang sana. Tidak jauh dari ruko yang sebelumnya. Ia juga sudah menelpon pemilik ruko lama, untuk tidak memperpanjang kontrak sewa ruko tersebut.


"Yang ini simpan di sini!" Rania meminta pelayan untuk menempatkan barang ke tempat yang ia tunjuk, pelayan itu ramai-ramai membawa barang bawaan.


"Dan yang itu, letakkan di sana di sana saja!" titah Rania pada salah satu pegawainya lagi.


"Rey.." panggil Rania setengah berteriak, membuat Reyhan yang sedang bicara dengan pegawai menoleh padanya. "Sini!" Rania melambaikan tangan memanggilnya. Reyhan mengangguk dan berjalan menghampirinya.


"Ada apa, Rania?" tanyanya ketika sudah berdiri di hadapan Rania.


"Jadi, gimana? Kamu sudah dapat pegawai baru yang mau kerja di sini?"


"Ada. Tapi cuma dua orang, masih kurang, gak? Kalau perlu banyak, aku bisa carikan lagi!" ujar Reyhan.


"Tambah satu orang lagi, deh. Tapi laki-laki, ya! Biar bisa gantiin kamu kalau lagi gak masuk," pinta Rania.


"Iya, siap. Yakin tiga orang cukup? Tambah lagi, gak?" tanya Reyhan memastikan.


Rania menggeleng keras. "Tidak, tidak. Sepertinya tiga orang sudah cukup!"


"Ya sudah. Jadi kapan mereka bisa bekerja?" tanya Reyhan.


"Mulai besok sudah bisa kerja. Kamu hubungi mereka lagi, ya! Maaf kalau aku selalu merepotkanmu!" ucap Rania merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Rania. Justru aku senang di repotkan, asal sama kamu!"


"Maksud kamu?" Rania tidak paham.


"Ya siapa tahu kamu bisa kasih bonus lebih, hehe!" kilah Reyhan, bercanda.

__ADS_1


"Haha.. apaan, sih," Rania malah tertawa, senang kalau akhirnya Reyhan bisa kembali mengajaknya bergurau.


"Kamu istirahat sana! Kamu gak boleh cape-cape, kan lagi hamil!" ucap Reyhan cemas, takutnya terjadi apa-apa dengan kandungan Rania.


"Iya, Rey. Aku ke atas dulu, ya! Kebetulan tadi aku sudah bereskan lantai atas lebih dulu. Sengaja, buat aku istirahat!" pamit Rania sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan Reyhan.


"Iya, Rania. Selamat beristirahat!"


***


Siang harinya, pindahannya sudah hampir selesai. Namun jam makan siang sudah tiba, sementara harus di tunda dulu. Ruko proyek bisnis Bagas sepertinya sudah tujuh puluh lima persen di tempati oleh wirausaha lainnya. Belum sepenuhnya di tempati. Jadi, kalau kalian minat untuk ikut menempati ruko terbesar dan terpanjang di Indonesia milik bisnis Bagas, hayu! Kita ke sana sekarang. Hehe.


Siang itu, Diva mengajak Rania untuk makan siang di tempat nasi padang langganannya yang tidak jauh dari sana. Diva juga sempat mengajak Reyhan, namun kalian sudah bisa tebak sendiri kalau Reyhan tidak akan ikut. Ia memilih untuk makan di tempat lain, di tempat biasa ia makan siang.


"Enak juga, ya, makanan di sini," ujar Rania sambil mengunyah makanannya.


"Iya, dong. Makanya aku langganan di sini, lebih murah dari yang lain juga!" ujar Diva, hemat pangkal kaya katanya. Siapa tahu bisa kaya seperti Rania. Eh, yang kaya mah suaminya atuh bukan Rania-nya.


Rania menyendok suapan terakhirnya. Ia makan dengan begitu lahapnya. "Bu, minta satu porsi lagi, ya!" Rania mengangkat tangannya memesan makanan lagi.


"Emang kamu belum pernah makan di sini, Rania?" Diva juga menyendok suapan terakhirnya.


Rania menerima satu porsi makanan lagi dari ibu penjualnya, dan mengucapkan terima kasih. "Belum, Va. Biasanya aku makan di seberang sana bersama Rey," jawabnya dengan semangat untuk menyantap kembali makanannya. Semangatnya seketika memudar, ketika ia harus membungkam mulutnya rapat-rapat ketika mengatakan nama Reyhan di depan Diva. Ia tidak mau kalau Diva akan salah paham.


"Gak apa-apa, Rania!" ucap Diva tersenyum getir.


"Tapi aku sama sekali tidak ada maksud untuk--"


"Udahlah, Rania. Gak apa-apa, kok," tukas Diva, ia menundukkan wajahnya. Menatap jemarinya yang ada di bawah meja.


"Va, kamu kenapa?" tanya Rania lirih, ia memilih untuk menunda makannya, padahal baru saja ia memiliki semangat empat lima untuk menyantapnya lagi. Entah kenapa susana seketika berubah jadi hening, padahal di sana ramai manusia berbondong-bondong yang siap menyerbu nasi padang murah tapi enak itu.

__ADS_1


"Aku nyerah, Rania," ujarnya lirih, namun dapat terdengar jelas.


"Maksud kamu?" Rania benar-benar gagal paham.


"Aku nyerah buat dapetin cinta Reyhan."


"Kenapa?" Rania menatap temannya penuh kecewa, mengapa Diva bisa jadi seperti ini. Padahal awalnya ia begitu agresif untuk mendapatkan cinta seorang Reyhan.


"Aku lelah, Rania. Aku lelah jika harus berjuang sendiri. Aku lelah mengejar orang yang terus berlari tanpa ia mau menoleh ke belakang. Aku lelah memperjuangkan orang yang belum tentu mau menjadi milikku. Sekarang aku sadar, cinta itu tentang merelakan. Cinta itu tentang mengikhlaskan. Ternyata tidak semua cinta mendapatkan balasan. Mulai sekarang, mulai detik ini. Aku berhenti melakukan itu semua, bukan karena aku tidak lagi mencintainya. Tapi karena aku lelah." ungkap Diva, ia tidak dapat lagi menahan air matanya yang memaksa untuk mengalir di pipi lembutnya.


Rania sebagai orang yang pernah ada di posisi seperti itu, bahkan jauh lebih buruk dari itu ikut terhanyut dalam kesedihan yang Diva rasakan sekarang ini. Walaupun dulu dia bukan memperjuangkan cinta dari seorang tuan tajir, ia memperjuangkan harga dirinya. Ia tahu betul bagaimana ada di posisi seperti itu. Sampai ia ikut meneteskan air matanya.


"Va, kenapa kamu gak coba buat lanjut aja? Siapa tahu Reyhan akan luluh nantinya? Semua itu butuh waktu, Va. Kamu akan menyianyiakan perjuangan kamu sendiri kalau kamu menyerah gitu aja! Batu aja yang keras bisa berlubang kalau terus-terusan ketetes air, Va?" saran Rania, berusaha mengembalikan semangat temannya.


"Tapi masalahnya, Reyhan itu bukan batu yang gak mau di tetesin, Rania. Aku cape, Rania. Aku rasa, aku buang-buang waktu untuk semua ini. Aku duluan, Rania." Diva beranjak dari sana meninggalkan Rania, ia menyeka air matanya yang bercucuran di lantai saking derasnya.


"Kasihan kamu, Va. Aku akan coba bantu kamu. Aku akan bicara dengan Rey, nanti!" gumamnya, sambil mengusap bekas air matanya yang tadi sempat mengalir.


Rania beranjak juga dari sana, namun baru dua langkah ia berjalan, ibu penjual nasi padang menghentikannya.


"Maaf, mbak. Makanannya belum di bayar, sekalian ya sama temennya tadi. Dia juga belum bayar!"


Rania ternganga. Hah?


Ya ampun, Diva. Sedih sih sedih. Tapi jangan lupain bayar makan juga, kali. Huuuu...


.


.


.

__ADS_1


Coretan Author:


Jangan lupa rekomendasikan TUAN TAJIR pada pembaca yang lain juga di sosial media kalian. Harus ya! Hehe, maksa dikit boleh, lah. Follow juga akun istagram wind.rahma


__ADS_2