
Ketika Rania dan Bagas nyaris melangkahkan kaki dari sana, tiba-tiba saja seseorang berteriak, memanggil nama Bagas.
"Bagas..." Seseorang itu melambaikan tangannya.
Panggilan dari seseorang itu membuat wajah Bagas berubah menjadi tatapan tidak suka. Karena bukan hanya satu orang, di belakangnya banyak orang lagi yang siap menyerbunya. Seseorang itu adalah salah satu penggemar tuan tajir yang akan minta foto bareng apabila bertemu. Pasti di belakang seseorang itu akan ikut minta foto bareng juga. Seseorang itu berjenis kelamin perempuan tentunya.
Bagas sudah tahu segerombolan orang yang tidak dapat terhitung jumlahnya itu akan segera menghampirinya, makanya dengan cepat ia menarik lengan Rania dan meminta security untuk mengatakan pada petugas lain untuk mengamankan segerombolan orang itu. Mungkin sudah terlalu lama Bagas tidak menginjakan kaki di bandara pribadinya, hingga ia tidak tahu sekarang sudah banyak orang bisa datang dan memulai keberangkatan di bandara itu atas ijin Brahma. Sebelum bandara itu resmi menjadi milik Bagas, tentunya milik Brahma terlebih dahulu.
Nafas Bagas terdengar terputus-putus setelah berlari untuk menghindari segerombolan fans-nya, Rania juga sama.
"Mereka siapa?" tanya Rania dengan nafas yang masih terdengar terputus-putus.
Tidak segera Bagas jawab pertanyaan Rania, ia mengatur nafasnya terlebih dahulu, menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
"Itulah akibatnya mempunyai wajah tampan yang berlebihan, aku sering di kejar-kejar perempuan yang agresif seperti mereka" kata Bagas dengan percaya dirinya.
Tadinya Rania serius mempertanyakan hal itu, tapi setelah mendengar jawabannya, rasanya ia tidak ingin bertanya ataupun berbicara lagi.
Ya, aku tahu kau tampan suamiku. Aku malas saja jika kau menyombongkannya di hadapanku.
"Kau harus bangga memiliki suami yang tampan sepertiku, kau harus bersyukur karena kau adalah wanita satu-satunya yang berhasil membuat aku jatuh cinta" katanya lagi di akhiri dengan tangan nakal yang menyubit ujung dagu Rania dengan manja, lebih tepatnya gemas.
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri membuat suami jatuh cinta, terus jatuh cinta. Agar suami tidak kepincut wanita lain"
"Aku akui kau memang pandai" pujinya.
Bagas melihat jam hitam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 7 pagi. Ia harus segera berangkat, kemudian ia menghubungi sekretaris Frans untuk menyusul dan memberi perintah kepada petugas di bandara ini untuk membawakan kopernya ke pesawat.
*****
Bagas dan Rania sudah berada di dalam pesawat Jet pribadinya setelah melakukan chek-in dan lain-lain. Pesawatnya begitu mewah di dalamnya, super duper mewah. Pesawat yang memiliki kabin paling lapang di kelasnya satu-satunya yang memungkinkan penumpang untuk berdiri tanpa perlu berjalan ke tengah-tengah pesawat. Memiliki tempat duduk yang khusus yang di sesuaikan dengan keinginan. Pesawat ini juga memiliki internet berkecepatan tinggi yang 30 kali lebih cepat dari pesaing saat ini.
__ADS_1
Pesawat ini juga di rancang untuk menjadi Jet pribadi jarak jauh yang di buat khusus. Kabin dapat di konfigurasi dalam berbagai cara, termasuk dengan ruang makan lengkap dan teater multimedia, bahkan tersedia dengan kamar tidur pribadi.
"Lihatlah!" Bagas menunjuk seorang pilot yang akan menerbangkan pesawatnya.
"Dia adalah pilot pribadiku" lanjutnya.
"Iya aku tahu, dan aku.." Rania menunjuk dirinya sendiri, "adalah istri pribadimu"
Bagas merasa istrinya sedang meledeknya, dengan cepat ia membawa Rania ke ruangan kamar dalam pesawat itu.
"Tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk terbang ke Bali" kata Bagas sambil mendudukan dirinya di tepi ranjang, Rania ikut duduk juga di sampingnya.
"Kenapa kau lebih pilih Bali, kenapa tidak luar negeri? Atau bahkan luar angkasa jika kau mau"
"Tidak tahu, entah kenapa yang pertama kali melintas di pikiranku adalah Bali. Sepertinya itu tempat yang paling cocok untuk honeymoon"
Rania hanya menganggukan kepalanya.
"Bersiaplah, kita akan terbang!"
"Kau kenapa?" Bagas yang melihatnya khawatir, ada apa dengan istrinya?
"Kau kenapa?" Bagas mengulang kalimatnya karena Rania tidak menjawab pertanyaannya.
Rania memegang erat tangan Bagas, ia mulai takut ketika pesawat mulai tinggi.
"Aku takut ketinggian" ucap Rania dengan lirih, mulutnya bergetar ketika mengatakan kalimat itu.
"Tidak akan terjadi apa-apa, ada aku di sini. Kau tenang, kau hanya perlu mengatur nafasmu agar terasa lebih membaik, jangan panik!" Bagas berusaha menenangkan Rania dengan cara mendekapnya, menghimpitnya di bagian dada.
Ingin rasanya Rania berteriak, tapi mulutnya malah terasa terkunci. Tidak dapat mengatakan apapun. Rania hanya dapat memejamkan kedua matanya, seraya berdo'a dalam hati.
__ADS_1
Ya Tuhan, semoga perjalananku selamat sampai tujuan. Tenangkanlah diriku, hilangkanlah rasa ketakutan yang membuatku semakin tersiksa seperti ini. Aku mohon.
Itulah yang terpadi pada sebagian penderita phobia ketinggian, atau bisa jadi Rania juga mengalami aerophobia yang lebih di kenal dengan aviophobia, ketakutan untuk naik transportasi udara.
Rania terus memejamkan kedua matanya, dan memeluk Bagas semakin erat. Tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan selain istighfar, memohon kepada Tuhan agar perjalanannya di lancarkan.
Bagas juga ikut khawatir dengan keadaan istrinya seperti ini, ia tidak tahu kalau istrinya akan seperti ini. Untunglah Bagas tidak memilih luar negeri untuk honeymoon, apalagi kalau beneran akan ke luar angkasa naik roket.
"Percayalah padaku, tidak akan terjadi apa-apa!"
"Kau harus tenang, atur nafasmu!"
"Peluklah aku, atau kau mau melakukan apapun pada diriku aku siap! Selama membuatmu lebih tenang"
Bagas terus menenangkan Rania, Rania tidak hentinya mengucapkan istighfar. Wajahnya semakin pucat, tidak ada kekuatan lagi pada dirinya. Membuat kedua matanya seketika terpejam. Bagas pikir Rania tidur, tapi setelah ia menepok-nepokan buah tangannya ke pipi Rania. Tidak ada jawaban atau reaksi apapun. Rupanya Rania pingsan.
Bagas semakin panik, Bagas menidurkan Rania di atas tempat tidur. Kemudian meminta pramugari untuk membuatkan minuman, setelah itu ia meminta pilot untuk lebih cepat agar cepat sampai ke tujuan.
.
.
.
.
.
Maaf ya kalau author tidak mengetahui banyak tentang bandara dan penerbangan, soalnya belum pernah naik pesawat juga🙏😁 Buat kalian yang memiliki aviophobia, gak usah ikut panik! Gak apa-apa gak bisa naik pesawat, masih bisa naik kendaraan darat juga ucapkan syukur.
Buat yang belum lihat visual Bagas & visual Rania, segera kunjungi youtube dan cari Visual Bagas (TUAN TAJIR) / Visual Rania (TUAN TAJIR). Bisa juga cari dengan nama saya, Windy Rahmawati. Jangan lupa subscribe.
__ADS_1
Buat yang sudah lihat, Bagas tampan kan? Rania juga Cantik kan? Semoga kalian setuju dengan visual yang saya kasih.
Visual Bagas berdua dengan Rania segera di update, makanya harus subscribe.