
Di gedung Briliant Group.
Nadira tampaknya sedang sibuk dengan pekerjaan yang harus ia selesaikan. Ada beberapa file yang harus ia kerjakan hari ini atas perintah Bagas yang di sampaikan melalui sekretaris Frans. Sehingga membuat Nadira tidak sempat istirahat jam siang.
"Ini untukmu!" sebuah kotak makanan di berikan oleh sekretaris Frans kepada Nadira, membuat Nadira mendongakan kepalanya.
"Terima kasih!" ucapnya seraya mengambil kotak makanan dari tangan sekretaris Frans.
"Kau belum menyelesaikannya?" tanya sekretaris Frans sekilas melirik layar laptop di hadapan Nadira.
"Ini hampir selesai"
"Ya sudah, kau selesaikan terlebih dahulu! Setelah itu kau makan! Aku akan kembali lagi nanti setelah kau menyelesaikan semuanya"
"Baik, terima kasih" ucap Nadira, tidak lupa bibirnya memberi senyum ramah.
Sekreatris Frans pergi, sebelum itu ia juga membalas senyum Nadira.
*****
"Bangun nak, ini sudah jam 1 siang. Kamu harus bekerja" bu Sari mengguncang-guncangkan tubuh Radit yang sedang tidur telungkup.
"Apa sih, bu? Aku ngantuk banget" jawabnya dengan mata yang masih terpejam.
"Tapi kamu harus pergi kerja, nak. Kamu tidak boleh malas seperti ini!"
Radit kemudian bangun dan duduk di tepi ranjang.
"Bu, mending ibu aja sana yang cari duit! Aku cape tahu, bu, setiap hari kerja tapi belum juga naik jabatan" gerutu Radit membuat bu Sari mengelus dada.
"Astagfirullaahal'adzim nak, kalau ibu masih bisa kerja, ibu juga pasti tidak mau ngerepotin kamu. Maaf, kalau ibu selalu membuatmu repot!" mata bu Sari mulai berkaca-kaca.
"Halah, ibu itu bisanya cuma nangis doang. Mending ibu bilang sana ke Rania, cepat bilang ke suaminya naikin jabatan aku! Sombong amat sih tuh anak, mentang-mentang udah jadi orang tajir sampai lupa sama jasa abangnya yang sudah membuat dirinya menjadi seperti itu!" gerutu Radit
Bu Sari tidak bisa berkata lagi, ia hanya bisa diam menghadapi putra yang mempunyai watak keras seperti suaminya.
"Mending ibu keluar sana, gak usah gangguin aku lagi tidur!" Radit mendorong tubuh ibunya, sehingga tubuh bu Sari hampir terjatuh. Untungnya datang pak Burhan yang masuk ke dalam kamar dan menangkap tubuh bu Sari yang akan terjatuh.
"Ada apa ini?"
Tubuh Radit yang akan di baringkan kembali segera di urungkan.
__ADS_1
"Tuh ibu, yah. Ibu selalu bilang kalau aku harus bersyukur tapi ibu sendiri gak bersyukur dengan apa yang selama ini aku beri. Ibu betah banget jadi orang miskin, padahal anaknya lagi bahagia tuh tinggal di istana!"
"Ibu sama sekali tidak bermaksud seperti itu, nak"
"Sudah, sudah! Kamu juga, gak usah so'soan merasa cukup! Kita ini butuh uang, dan satu-satunya cara agar kita kaya itu ya memanfaatkan Rania buat porotin suaminya. Tenang aja, hartanya menantu kita itu tidak bakalan habis 7 turunan!" ujar pak Burhan juga ikut menyudutkan istrinya.
*****
Setelah membayar minuman segar langganannya, Rania dan Reyhan kembali ke ruko. Tapi di perjalanan mereka kembali, Rania mendengar suara seseorang berteriak meminta tolong.
"Kamu dengar itu Reyhan?" Rania menghentikan langkahnya.
"Dengar apa?" tanya Reyhan juga ikut berhenti.
"Suara orang minta tolong. Coba kamu dengar!"
Di jalanan yang cukup ramai, Rania dan Reyhan mencoba menajamkan telinganya untuk mendengar suara orang yang minta tolong, terdengar samar.
"Tolong..." suara dari sebrang
"Tuh, kan, kamu dengar kan?"
"Coba kita cek ke sana!"
Rania dan Reyhan berjalan kurang lebih 100 meter untuk menemukan asal suara yang meminta tolong tersebut. Mereka mendapati seorang wanita yang duduk di pinggir jalan, duduk dengan kepala yang di tenggelamkan di antara kedua lutut yang di lipat. Kemudian Rania dan Reyhan menghampirinya.
"Kau kenapa?" Rania menyentuh bahu wanita itu, membuat wanita itu mendongakan kepalanya.
"Rania..." seru wanita itu dengan cepat bangkit dan memeluk tubuh Rania erat.
"Diva, kamu kenapa?" Rania melepaskan pelukannya.
Wajah Diva terlihat panik, ketakutan, sedih juga ada.
"Rania, aku di jambret oleh preman waktu aku baru turun dari angkot" jelas Diva dengan suara yang masih panik.
"Di jambret?" Rania terkejut, Diva menganggukkan kepalanya.
"Isi tas aku memang uangnya tidak seberapa, tapi ada data penting buat aku ngelamar kerja" jelasnya lagi.
"Oh, ya sudah kalau begitu kamu ikut aja ke ruko!" ajak Rania
__ADS_1
"Ruko?"
"Iya. Aku menyewa ruko dekat sini, dan ini perkenalakan, namanya Reyhan. Reyhan, dia Diva, temanku" Rania saling memperkenalkan.
Diva baru menyadari kalau di samping temannya berdiri seorang pria tampan, tampan sekali. Kepanikan, ketakutan seketika terasa hilang begitu saja ketika ia terkesima melihat ketampanan Reyhan. Apalagi ketika Reyhan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Reyhan" Reyhan memperkenalkan dirinya pada Diva. Dengan cepat Diva menjabat tangan Reyhan dengan mata yang menatap wajah tampan Reyhan sampai ia lupa untuk segera melepaskan tangannya.
"Ayo!" ajak Rania pada Diva sekaligus Reyhan untuk segera kembali ke ruko.
Mereka bertiga sudah sampai di depan ruko, Rania mengajak Diva masuk dan naik ke lantai atas tempatnya biasa istrihat di sana. Rania mempersilahkan Diva duduk di bangku plastik.
Diva mengedarkan pandangannya, di sana hanya ada dirinya dan Rania.
"Rania, ini ruko kamu?" tanya Diva masih mengedarkan pandangannya.
"Aku sewa dari orang, Va" jawaban Rania membuat Diva berhenti memperhatikan setiap sudut ruko. Ia menatap bingung wajah temannya.
"Kamu kan punya suami yang tajirnya melintir, Rania. Kenapa kamu bekerja sampai sewa ruko? Padahal buat beli sekalipun suami kamu itu pasti akan mampu, jangankan ruko, Mall sekalipun dia juga pasti bisa belikan"
"Aku gak mau cuma diam di rumah dan menikmati begitu saja hasil dari kerja suamiku, Va. Aku juga ingin bekerja, lagian kan aku juga belum ngerasain kerja, dan aku ingin bekerja" begitu jawab Rania membuat temannya itu terharu.
"Kamu hebat, aku salut sama kamu Rania"
"Tadi kamu bilang mau melamar kerja, bagaimana kalau kamu kerja di sini saja? Kebetulan aku butuh pekerja lagi karena akhir-akhir ini banyak sekali orderan. Itupun kalau kamu mau, Va"
"Serius, Rania?"
"Iya, Va. Kamu mau?"
"Tentu saja aku mau banget, Rania. Apalagi ada pria tampan tadi" ucap Diva tersipu malu.
"Reyhan?"
"Heem"
"Oh. Ya sudah, kalau begitu mulai besok kamu bisa langsung kerja di sini, Va"
"Terima kasih, Rania. Kamu sahabat aku yang paling baik" Diva memeluk tubuh sahabatnya.
Rania merasa senang bisa membantu sahabatnya, mungkin kedepannya ia akan bersama lagi dengan teman sekolahnya itu. Dan itu akan membuat Rania semakin senang. Diva juga kelihatannya sangat senang, apalagi ketika ia di tawari bekerja karena ada Reyhan. Senangnya bertambah berkali-kali lipat.
__ADS_1