
Malam harinya, Bagas dan Rania duduk di sofa ruang kamar. Karena putri kecilnya, Khanza, sudah tidur. Mereka sedang melihat foto-foto yang tadi siang di ambil bersama keluarga di kameranya.
"Yang ini bagus, harus kita cuci dan kita masukan ke dalam figuran yang besar," Rania menujuk pada foto dirinya, Bagas beserta Khanza, yang baru saja Bagas geser gambarnya.
"Iya, kau benar," jawab Bagas setuju. "Bagaimana kalau besok kita ambil gambar lagi, biar sekalian cuci fotonya?" Bagas memberi penawaran.
"Iya, besok kita ambil gambar kau berdua dengan Khanza, dan aku juga," Rania tentu saja menyetujuinya dengan semangat.
"Ya sudah, sekarang kau istirahat, mumpung Khanza sedang tidur! Karena nanti kau harus bangun lagi ketika dia minta ASI," suruh Bagas segera di angguki oleh Rania.
"Iya, kau juga."
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidur. Satu jam, dua jam, tiga jam pun berlalu. Khanza terbangun dan menangis, sepertinya dia sudah sangat kehausan. Rania segera memberinya ASI. Namun, bukannya tidur, justru Khanza seterusnya terbangun. Mana Rania sangat ngantuk sekali, di tambah Bagas yang tidak mau bangun juga padahal sudah beberapa kali Rania membangunkannya.
"Sayang.. Bangun! Temani aku, temani Khanza.. Hei, banguuuun..!" Rania mengguncang-guncangkan tubuh suaminya lumayan kencang, sampai akhirnya Bagas mau bangun juga.
"Ada apa, sayang? Kenapa malam-malam membangunkan aku?" Bagas masih saja menggeliat, sambil mengerjapkan kedua matanya berulang kali.
"Lihatlah, putri kita tidak mau tidur! Dia malah mengajakku bermain." Bagas pun langsung bangun dan membuka matanya lebar, dan benar, putrinya tersenyum padanya.
"Uumm... Putri papa kenapa tidak tidur, nak?" Bagas mengganti nada bicaranya seperti anak kecil.
"Bayi memang seperti ini, suka terbangun tengah malam. Ibu yang memberi tahuku. Katanya ibu juga dulu sering begadang setiap malam, hanya untuk menemani aku yang terus mengajaknya bermain," kata Rania.
"Benarkah? Aku tidak tahu soal itu," balasnya.
"Aku ngantuk sekali, sayang! Gantian, ya, kau jagain Khanza. Nanti kalau Khanza minta ASI, bangunkan saja aku!" Rania menutup mulutnya yang sedang menguap.
Karena tidak tega juga melihat lelah di wajah istrinya, akhirnya Bagas mengiyakan.
Saat ini Khanza di tidurkan di kasur mereka, karena dia belum mau tidur juga, jadi tidak di biarkan tidur di ranjang khusus bayi untuknya. Rania tidak mau kalau nanti saat dia tidur, kakinya akan menendang bayinya, maka dari itu Rania duduk di lantai dan tidur di tepi ranjang.
Saat ini sudah pukul dua dini hari, tapi Khanza tidak mau tidur juga. Terus saja mengajak Bagas bermain, sedangkan Bagas yang jadi papanya sudah sangat mengantuk. Akhirnya Bagas tertidur, karena sudah tidak dapat menahan lagi rasa kantuk yang terus melanda kedua matanya. Tidak lama kemudian, Khanza pun tertidur.
***
Ke esokan harinya, Bagas dan Rania sudah siap untuk mengambil gambarnya kembali dengan putrinya, Khanza. Namun Khanza tidur lagi, ketika baru saja selesai Rania pakaikan baju.
"Sayang, bangun nak!" Rania mencoba membangunkan Khanza, walau sebenarnya tidak tega juga.
Bagas yang sudah memegang kameranya langsung saja mengambil gambar Rania saat sedang membangunkan Khanza barusan.
Crekk..
__ADS_1
Suara kamera membuat Rania menoleh. "Aku belum siap, kau sudah main ambil gambar saja!" gerutunya.
"Tapi hasilnya bagus, sayang. Kalau begitu, tidak perlu bangunkan Khanza, kita masih bisa ambil gambar saat dia sedang tidur. Biarkan dia tidur, semalam kan dia begadang!" usul Bagas, kemudian di setujui oleh Rania.
Sebenarnya Rania ingin berfoto dengan Khanza di saat putrinya itu bangun. Siapa tahu kalau Khanza bangun, nanti hasil gambarnya lebih bagus lagi. Tapi, ya sudahlah.
Rania menggendong Khanza, kemudian bersiap di foto dengan cara menatap putrinya sambil tersenyum. Bagas segera mengambil detik berharga tersebut. Hasil gambarnya sangat bagus.
"Lagi sayang! Sekarang kau berdiri di sini!" Bagas memposisikan Rania di tempat berdirinya barusan.
Rania kini memakai gaya dengan mencium kening Khanza, sambil mengusap kepalanya. Dan... Ckrek. Gambar pun kembali di ambil dan hasilnya sangat memuaskan.
"Bagus tidak?" Rania bertanya pada Bagas yang sedang tersenyum melihat hasil gambarnya.
"Bagus dong. Sekarang gantian, ya! Giliran aku yang yang di foto. Sini, aku gendong bayinya!" Bagas mengambil Khanza lalu dia gendongnya.
Saat Rania menghitung sampai hitungan ke tiga, gambar pun di ambil. Dan hasilnya pun tidak kalah Bagus dengan Rania. Bagas tersenyum pada kamera sambil menggendong putri kecilnya yang manis, Khanza Azkadina Kusuma.
***
Brahma menunggu di ruangan biasa dia menunggunya setiap membesuk putrinya. Dan saat ini pak Polisi sedang memanggilkan Arsilla dan juga Hera.
Tidak lama kemudian, Arsilla pun datang, di ikuti oleh Hera di belakangnya.
"Papa..." Arsilla langsung saja menghambur memeluk Brahma, pelukan putrinya segera di balas.
"Silla.." balasnya, kemudian melepaskan pelukan tersebut.
"Kakak ipar," sapa Hera.
"Iya," balas Brahma seraya memberi seulas senyuman kepada keduanya.
Arsilla dan Hera dudud di hadapan Brahma, dan langsung meraih makanan di meja yang biasa Brahma bawakan jika datang membesuknya.
"Aku pikir papa sudah melupakan aku," gerutu Arsilla, tangannya sibuk membuka bingkisan makanan di tangannya.
"Maafkan papa ya, Silla. Beberapa hari ke belakang, papa sibuk dengan kelahiran cucu pertama papa," Brahma menjelaskan alasan mengapa dia baru sempat membesuk Arsilla.
Tiba-tiba Arsilla tersedak, saat makanan tadi sudah berhasil masuk ke dalam mulutnya.
"Apa? Cucu? Maksud papa?"
"Rania sudah melahirkan putri pertamanya. Kamu tahu tidak, dia nelahirkan putri yang sangat cantik. Namanya Khanza. Coba kalau kamu tidak di sini, pasti kamu juga akan bahagia menyambut kelahiran keponakan kamu," ucap Brahma sambil membayangkan wajah cucunya yang ngangenin.
__ADS_1
Tiba-tiba saja selera makan Arsilla hilang, sementara Hera sudah tidak perduli dengan yang namanya Rania. Hera akan bersikap netral saja pada Rania, tidak begitu menyukai tidak berarti membencinya juga. Hera hanya fokus pada makanannya saja.
"Jadi karena hal itu, papa sampai lupa untuk datang ke sini membesuk Silla?" mendengar Rania sudah melahirkan saja, sudah membuat Arsilla kehilangan selera makan. Di tambah lagi itu yang menjadi alasan papanya tidak bisa datang ke kantor polisi.
"Itu penting sekali buat papa, Silla. Karena dia adalah cucu pertama papa," ucap Brahma menegaskan.
"Jadi menurut papa, Silla tidak penting?" Dari raut wajahnya, Arsilla sepertinya cemburu dengan kehadiran Khanza, yang mengalihkan perhatian Brahma padanya.
"Bukan begitu, Silla. Kamu lihat papa, nak! Dengarkan papa bicara!"
"Papa sudah tidak sayang lagi kan sama Silla?" Arsilla enggan menatap papanya.
"Silla, jangan bicara seperti itu, nak! Papa sayang sama kamu, kamu itu putri papa satu-satunya."
"Kalau papa sayang, kenapa papa tidak berusaha membebaskan aku dari sini?"
Pertanyaan Arsilla barusan membuat Brahma semakin serba salah. Brahma bisa saja meminta Bagas untuk mengeluarkan Arsilla, tapi di satu sisi, Brahma tidak mau putrinya ini lepas dari tanggung jawa atas apa yang telah di perbuatnya beberapa bulan lalu.
Brahma meraih tangan putrinya. Lalu menatap putrinya itu dalam. Sampai membuat Hera yang tadi fokus makan pun membuatnya penasaran dengan apa yang akan di katakan Brahma. Apakah kakak iparnya ini akan membesaskan putrinya beserta dirinya?
"Silla, dengarkan papa! Kamu itu sudah dewasa, nak. Kamu sudah bisa membandingkan mana yang benar dan mana yang salah. Kamu sudah bisa membandingkan mana yang harus kamu lakukan dan mana yang tidak boleh kamu lakukan. Kamu sudah bisa membandingkan mana yang baik untuk kamu ucapkan dan mana yang buruk."
"Kamu sudah melakukan sesuatu yang harusnya tidak kamu lakukan, Silla. Maka dari itu, kamu juga harus menanggung akibatnya. Papa sudah bilang berkali-kali sama kamu. Jangan pernah membuat ulah yang bisa merugikan diri kamu sendiri, Silla. Kamu juga harus bisa belajar bertanggung jawab! Kamu paham itu, Silla?" sambung pria itu tanpa memalingkan pandangan dari wajah Silla.
Seketika Silla menitikkan air matanya, dan kali ini dia mau menatap wajah papanya.
"Pa, Silla benar-benar menyesal, karena Silla tidak pernah mendengarkan ucapan papa. Tapi Silla juga tidak mau pa, kalau Silla terus-terusan berada di penjara! Silla mau pulang saja, pa. Silla mohon, bebaskan Silla!" Arsilla terisak, ia mengeluarkan air mata cukup deras.
"Iya, papa tahu, Silla. Papa paham. Sekarang yang harus lakukan adalah, sabar. Kamu pasti akan bebas, tapi tidak sekarang. Ada saatnya kamu bebas, Silla. Kamu mau kan dengar ucapan papa kali ini?" Brahma membantu mengusap air mata di pipi Silla menggunakan ibu jarinya.
Arsilla mengangguk lemah. Setelah itu Brahma langsung pamit, karena sebentar lagi akan ada meeting di Briliant Group, mewakilkan putranya.
Setelah Brahma pergi, Hera yang tadi menyaksikan pembicaraan antara kakak ipar dan keponakannya mengerutkan keningnya dalam.
"Yakin kamu mau sabar, Silla?" Hera bertanya seolah meragukannya.
"Ya terus apalagi yang harus aku lakukan, tente? Tidak ada pilihan lain lagi," pada akhirnya Arsilla memilih pasrah, dengan semua yang terjadi menimpa dirinya. Begitupun dengan Hera.
.
.
.
Coretan Author:
Hai... Terima kasih buat kalian sudah baca sampai bab sejauh ini. Semoga selalu terhibur, ya!
Follow ig: @wind.rahma
__ADS_1