Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Hadiah


__ADS_3

Bagas baru saja selesai mandi setelah ia makan begitu lahap dengan masakan istri kesayangan. Ia mengelap rambutnya menggunakan handuk kecil seperti yang biasa ia lakukan. Ia juga menggunakan piyama putih sebagaimana yang sudah istrinya siapkan.


Bagas melemparkan handuk kecil itu ke atas sofa setelah selesai ia gunakan. Kemudian mengambil sisir kecil yang tergeletak di atas nakas. Setelaj menyisir rambutnya, ia duduk menemani sang istri yang kebetulan ada di sana sedang duduk juga di atas tempat tidurnya.


"Sayang, kau kenapa?" menatap Rania dengan heran karena sedari tadi ia perhatikan Rania terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Aku tidak apa-apa" jawabnya sambil berusaha memberi senyuman.


Kemudian Bagas membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha sang istri sebagai bantalannya. Ia mendongakkan kepalanya ketika sang istri mengusap rambutnya.


"Terima kasih, ya! Kau sudah membuat aku senang. Aku puas dengan hasil masakanmu. Heurgh.." Bagas sampai bersendawa karena terlalu kenyang dan bersemangat tadi ketika makan, sampai ia melupakan porsi makan normalnya.


"Kalau kau suka, aku akan buatkan masakan seperti itu setiap hari. Aku akan ubah menu untuk makan besok" balas Rania tak kalah senang karena suaminya begitu menyukai masakannya.


"Aku tidak ingin merepotkanmu. Kau catat saja resepnya dan berikan pada pelayan, kau hanya berikan arahan bagaimana cara memasaknya saja! Aku tidak mau nona rumah ini sampai kecapean!" ucapnya.


"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan, bukankah tugas seorang istri melayani suaminya? Aku akan melakukannya"


"Terima kasih, sayang." Bagas menggenggam tangan Rania kemudian mencium punggung tangannya. Mereka saling bertatapan seperti memberi cinta hanya lewat pandangan satu sama lain.


Namun, tiba-tiba tatapan Rania berubah menjadi tatapan kosong. Rupanya ia sedang memikirkan sesuatu yang entah apa.


"Hei, kau kenapa?" tanya Bagas mencemaskan ketika Rania sedari tadi terus saja melamun.


"Sebenarnya aku lagi bingung" jawabnya tanpa menatap Bagas, pandangannya lurus ke depan dan nampak kosong.


"Ada apa? Kalau kau punya masalah apapun ceritakan saja padaku! Aku ini suamimu dan berhak tahu masalahmu" tegas Bagas.


"Aku sedang memikirkan Diva, teman dekatku sewaktu sekolah. Kau ingat kan waktu kita menghadiri acara di sekolah waktu itu?"


"Iya, aku ingat. Kenapa dia?" tanyanya setelah mengingat-ingat sejenak.


"Jadi sebelum kita pergi bulan madu waktu itu, aku bertemu dengannya dan dia sedang mencari pekerjaan. Lalu aku menawarkannya kerja di ruko, dia mau. Namun ketika kita pergi ke Bali, dia aku minta untuk membantu Reyhan agar menggantikan posisiku. Setelah kita pulang dari bulan madu, dia nampak beda dan terlihat menjauhiku" papar Rania mencoba terbuka dengan suaminya.


"Tadi siang dia datang padaku, dia memberi alasan mengapa dia menjauhiku. Dia memberi pengakuan kalau dia sebenarnya suka dengan Reyhan, dan memintaku untuk mendekatkannya" Lanjutnya lagi.


"Haha, itu gampang, sayang. Kau dekatkan saja pada si Reyhan itu" ujar Bagas dengan gampangnya.

__ADS_1


"Iya aku tahu. Tapi aku tidak mau terlibat dalam perasaan Diva dalam mencintai Reyhan, aku juga takut kalau Reyhan keberatan untuk aku dekatkan dengan Diva. Aku lihat Reyhan juga tidak terlalu suka dengan Diva. Aku mau Diva mendekati Reyhan dengan caranya sendiri saja tanpa meminta bantuanku, dan aku takut kalau ada apa-apa pasti aku orang pertama yang akan di salahkan" Rania terlihat dilema, khawatir.


"Betul juga, sih. Tapi kau tidak perlu memikirkan itu terlalu serius, biarkan semuanya berjalan dengan semestinya saja. Kau tidak perlu menunjukan sikap yang terlalu mencolok dalam mendekatkan temanmu pada si Reyhan itu" Saran Bagas berusaha menenangkan istrinya, Rania mengangguk paham.


"Iya, aku juga sering pusing akhir-akhir ini" keluh Rania sambil memijat pangkal hidung di antara kedua matanya.


"Bulan ini kau sudah datang bulan belum?" tanya Bagas dengan memastikan.


"Umm..sepertinya belum" jawabnya sambil mengingat-ingat.


"Sayang, apa mungkin kau hamil?"


"Aku tidak tahu" jawab Rania polos, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau begitu kita cek ke dokter kandungan besok, gimana?" tawar Bagas berharap kalau Rania beneran hamil.


"Tidak usah, deh. Jadwal datang bulanku masih lima hari lagi, mungkin aku cuma pusing biasa" tolaknya.


"Makanya kau tidak bileh kecapean, ya!" pinta Bagas karena mengkhawatirkan kesehatannya.


"Iya, kau tenang saja!" balas Rania


"Pergilah! Aku tidak apa-apa. Tapi mengapa mendadak sekali?"


"Sebenarnya tidak mendadak, aku saja yang selalu lupa untuk memberitahumu"


"Huh, dasar pikun! Lupa aja terus" canda Rania menyentil ujung hidung Bagas kemudian.


"Maaf sayang!" ucapnya.


Tiba-tiba Bagas bangun dan seperti melupakan sesuatu.


"Oh iya aku punya sesuatu untukmu" ia bangun dan berjalan mengambil paper bag di sofa, "ini untukmu!" Bagas menyerahkan paper bag itu pada Rania.


"Apa ini?" sambil mengambil paper bag itu dari tangan Bagas.


"Bukalah!" Bagas kembali duduk di samping Rania.

__ADS_1


"Waw, ini beneran buat aku?" Rania merasa tidak percaya setelah membuka isi paper bag itu ternyata sebuah laptop.


"Iya, masa aku lagi nge-prank kamu. Ya beneran lah. Aku tahu pasti kamu membutuhkan itu"


"Terima kasih banyak, ya! Kau memang suami yang aneh, kadang nyebelin kadang buat aku sayang juga" ucapnya sambil memeluk laptop itu.


"Sama-sama, sayang. Kok cuma laptopnya yang di peluk? Aku juga, dong?" godanya sambil merentangkan tangannya agar Rania dengan mudah memeluknya.


"Aku akan kasih hadiah sebelum kau pergi ke luar kota" ucapnya karena merasa bahagia.


"Apa?" tanya Bagas masih dengan merentangkan tangannya.


"Bagaimana kalau malam ini.." Rania menggigit bibirnya dan membasahi bibirnya sendiri. Melihat itu Bagas seperti di beri kode keras dan ia langsung peka.


Bagas segera membuka piyaman dan telanjang dada. Dengan cepat ia menghambur tubuh Rania dan sampai akhirnya mereka bergeliat geliut di balutan selimut putih di atas tempat tidurnya. Sampai Rania melupakan laptop yang tidak sempat ia taruh terlebih dahulu. Hanya ada tawa cekikikan manja yang keluar dari bibir mereka.


Bagas memang suami idaman jika sudah berubah seperti sekarang ini. Ia sudah tampan, tajir, pengertian, perhatian. Lalu nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, Rania. Aku juga mau jadi kalau perannya seperti ini, hehe.






.


.


.


.


Coretan Author:


Terima kasih untuk semua pembaca setia Wind Rahma, terima kasih yang selalu support saya. Sayang kalian semua! Suka gak sama visual mereka? Selengkapnya bisa di lihat di Youtube, ya! Chanell Windy Rahmawati.

__ADS_1


Semoga kisah cinta sekretaris Frans bisa berlanjut juga. Karena kalau lanjut bakal di bikin Novel khusus buat mereka.


__ADS_2