Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Bau


__ADS_3

Siang harinya, Iren mengundang Devi untuk makan siang di rumahnya. Sekalian untuk lebih mendekatkan Devi dengan putranya. Dan saat ini mereka sudah selesai makan siang, Iren meminta Reyhan untuk mengajak Devi mengobrol di taman samping rumahnya. Reyhan tidak dapat menolak permintaan mama-nya, ia nurut saja dengan apa yang di katakan olehnya.


Saat ini Devi sudah duduk di samping Reyhan, dengan jarak yang cukup berjauhan. Dan apabila di isi oleh orang lain mungkin akan muat untuk dua orang. Devi melirik Reyhan yang sedang memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Ia semakin bingung harus melakukan apa, dan harus mengatakan apa untuk memulai percakapan, karena jika hanya saling berdiam diri, itu membuatnya semakin risih saja.


"Reyhan," panggil Devi lirih.


"Hem..," Reyhan menyahut, tanpa menoleh.


"Sampai saat ini, aku masih tidak enak pada adikku, Diva. Bahkan hidup aku menjadi tidak tenang, karena setiap hari aku hidup dengan penuh kepura-puraan. Pura-pura dekat sama kamu di depan mama kamu, pura-pura semuanya baik-baik saja. Bagaimana kalau kamu bicara sama mama kamu, kalau kita memang tidak bisa untuk bersama?!" Devi mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.


Reyhan menghela napas panjang, kali ia ia mau menoleh dan menatap wajah Devi. "Aku juga berpikir hal yang sama sepertimu. Tapi.." Reyhan menggantungkan kalimatnya.


"Tapi apa?" Devi bertanya dan tidak sabar menunggu Reyhan untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi aku tidak mau mengecewakan mama. Dan aku rasa pembicaraan mama waktu itu ada benarnya juga, setelah aku pikirkan," tutur Reyhan, membuat Devi seketika gagal paham.


"Maksud kamu, benar gimana?"


"Ya aku rasa yang mama bicarakan waktu itu ada benarnya juga. Mungkin aku harus menggantikan tanggung jawab atas apa yang telah papa aku lakukan sama kamu. Hanya saja semuanya butuh waktu. Aku, kamu, dan Diva membutuhkan waktu."


"Diva membutuhkan waktu untuk melupakan aku, dia juga butuh waktu untuk merelakan aku untuk kamu. Karena ini semua juga kan awalnya keinginan dia. Dalam waktu yang sama, aku juga butuh waktu untuk menghilangkan rasa cinta ini untuk Diva, setelah itu aku akan mencoba membuka hatiku untukmu. Itupun kalau kamu juga bisa membuka hati untuk aku nantinya. Saat ini, kita tidak bisa melakukan apapun, walau hanya sekedar menggelengkan kepala sebagai penolakan. Yang perlu kita lakukan ada, jalani saja dulu," sambung pria itu.


"Tapi ini pasti akan sangat berat, Reyhan. Berat untuk aku, kamu, dan Diva juga. Karena sesuatu yang di awali dengan keterpaksaan itu tidak baik juga, bukan?" Devi tidak habis pikir, mengapa Reyhan bisa berkata seperti barusan.


"Iya, aku tahu. Tapi kembali lagi pada waktu, semua butuh waktu. Kamu percaya sama aku! Kalaupun tidak bisa, setidaknya kita sudah mencoba. Kita, aku dan kamu, Diva juga, sedang berjuang bersama-sama. Semoga kita semua di beri titik terang dan jalan yang terbaik."


Devi menatap sayup wajah Reyhan, entah kenapa saat ini ia mulai merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak tahu kenapa mampu menggetarkan hati dan jiwanya.


Perasaan apa yang saat ini aku rasakan, Tuhan? Mengapa ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya? Apa jangan-jangan aku sudah mulai tertarik dengannya? Tidak, jangan biarkan ini sampai terjadi! Batin Devi dalam hatinya.


"Hei, Devi?" Reyhan melambai-lambaikan tangannya di wajah Devi, ketika gadis itu tidak menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Vi.." Reyhan menepuk bahu gadis di hadapannya pelan, kemudian gadis itu akhirnya tersadar dari lamunannya.


"Em, i-iya, a-ada apa?" Devi nampak gugup, ia segera mengalihkan pandangannya agar kedua bola matanya tidak bertemu dengan kedua mata Reyhan yang baru saja berhasil menghipnotisnya.


"Kamu mau pulang sekarang? Aku antar, kebetulan aku juga harus segera kembali ke ruko," tawar Reyhan segera di angguki oleh Devi.


***


Seiring berjalannya waktu, usia kehamilan Rania sudah mau menginjak dua puluh minggu. Atau setara dengan lima bulan. Malam ini Bagas dan Rania sedang berada di atas tempat tidur, mereka sedang memikirkan rencana untuk mengadakan acara peringatan usia kehamilannya itu.


"Sayang, besok kita undang lagi keluarga untuk merayakan kehamilanmu yang sudah memasuki usia dua puluh minggu, ya?!" tawar Bagas, ia berharap kalau acara peringatan usia kehamilan Rania besok di hadiri oleh kedua keluarganya yang pada saat itu tidak bisa datang.


"Kalau aku, terserah kau saja! Aku ikut gimana baiknya saja," ujar Rania, ia bangun dan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, rasanya pinggangnya terasa sangat pegal.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan mengundang mereka via chat WhatsApp, semoga mereka datang besok," Bagas mengambil ponsel yang ia taruh tadi di atas nakas, setelah selesai, ia menaruh kembali ponsel itu ke tempatnya.


"Huaaa.. Aku ngantuk, sekali. Kalau begitu aku tidur duluan, ya!" Rania menutup mulutnya ketika menguap dan membukakan mulut yang sangat lebar.


Rania mengernyit, ia mencium bau sesuatu dari mulut suaminya. Rania mendengus-dengus seperti kucing yang sedang mencari duri. Dan indra penciumannya berhenti tepat di bibir suaminya.


"Kau ini kenapa? Katanya mau tidur?" Bagas menatap Rania aneh.


"Kau tadi makan apa?" Rania mendengus lagi.


"Makan apa, apa?" tanya Bagas bingung, ya memangnya makan apa?


"Tadi, waktu makan malam kau makan apa?"


"Aku makan sambal goreng ati, sama rendang, itupun sedikit. Memangnya kenapa?" Bagas semakin di buat bingung.


"Ti-tidak, tidak apa-apa!" Rania menggeleng, tapi ia berpikir, masa sih makan rendang baunya aneh, ia mencium bau yang tidak asing dan baunya itu sangat khas.

__ADS_1


"Oh, iya, aku lupa. Tadi waktu aku pergi ke dapur, aku lihat ada satu mangkuk masakan lagi yang di tutupi tutup saji. Aku pikir itu enak, dan aku coba memakannya. Ternyata benar, itu enak banget, sayang!" Bagas menceritakan dengan wajah senangnya ketika mengingat masakan yang satu itu.


"Masakan di dapur? Di tutupi tutup saji?"


"Iya, aku tidak tahu itu apa namanya. Tapi rasanya enak banget!"


Rania mengingat-ingat masakan yang di katakan Bagas barusan, tidak lama kemudian ia mengingatnya. Kalau tadi si bibi bilang;


"Ini bibi masak semur jengkol, nona. Nona mau coba? Atau bibi hidangkan saja di meja makan?" tanya si bibi pelayan.


"Tidak, bi. Itu untuk bibi saja, lagipula suami saya tidak menyukainya," tolak Rania.


Setelah itu pelayan menutupi semangkuk semur jengkol menggunakan tutup saji di dapur. Rupanya itu yang membuat mulut Bagas bau sampai Rania mendengus seperti kucing yang sedang kelaparan.


"Hahaha..." Rania tertawa setelah mengingat hal itu, ternyata Bagas seorang tuan tajir tadi makan semur jengkol. Ingin rasanya Rania tertawa lebih keras lagi, bahkan sampai ingin salto dia karena mentertawakan Bagas yang dulu menghina makanan bau-bauan, seperti jengkol dan petai yang pernah di bawakan bu Sari pertama kali ke rumahnya.


Bagas menatap heran istrinya, kenapa tiba-tiba Rania tertawa sekeras itu. Dia tidak sadar, kalau Rania ternyata sedang mentertawakannya.


"Hah," Bagas mengeluarkan uap dari mulut ke telapak tangannya, setelah ia cium ternyata. "Kok bau, ya?"


.


.


.


Coretan Author:


Jangan lupa like, dan tinggalkan komen di kolom komentar. Di vote juga ya!


Follow ig: @wind.rahma

__ADS_1


__ADS_2