
Di meja makan, penghuni rumah tuan tajir bertambah 1 orang yaitu Hera. Mereka kini tengah berkumpul untuk sarapan. Arsilla yang duduk bersampingan dengan tantenya merasa memiliki teman satu tujuan, yaitu membenci Rania. Sedangkan Rania, orang yang mereka benci terlihat tenang, bahkan Rania memberi senyum kepada mereka agar terlihat seakan ia baik-baik saja.
"Rania, dia adik almarhumah ibu Bagas, namanya Hera" pak Brahma memperkenalkan Hera pada Rania.
Oh, aku kira dia adik ayah mertua, ternyata dia adik dari almarhumah ibu Bagas. Aku jadi berpikir kalau ibu Bagas seandainya masih hidup, apakah dia juga sejahat itu, ya?
"Hera, dia Rania menantuku" katanya lagi kepada Hera.
"Hallo tante" sapa Rania pada Hera seakan-akan ia baru saja berkenalan, padahal kejadian tadi masih terasa hangat, panas malah.
Hera tidak memberi ekspresi apapun selain ketidaksukaan yang terus ia lemparkan pada Rania.
"Bagas, ingat, hari ini jangan pulang terlalu sore! Karena jam 7 kita akan mulai pesta atas kembalinya tante-mu ke Tanah Air" Brahma mengingatkan Bagas sebelum akhirnya mereka memulai sarapan pagi ini.
*****
Tepat pukul 7 malam, semua orang yang di undang oleh Brahma sudah berkumpul di tempat kediaman tuan tajir. Dari kalangan petinggi, beberapa orang dari Briliant Group, keluarga Raniapun di undang oleh Bagas atas izin Brahma. Tadinya mereka berencana akan mengadakan pesta di apartemen bintang 5, bahkan acara selama 7 hari 7 malam pun akan mereka laksanakan jika mau.
Seorang MC sudah membuka acara dan telah memberitahukan kepada para tamu undangan tentang pesta ini di adakan sebagai sambutan untuk Hera yang telah kembali ke Indonesia. Mereka semua memberikan tepuk tangan.
Pestapun berjalan dengab sangat meriah, mewah dan wah. Meskipun tidak terlalu banyak orang yang menghadirinya, karena memang Brahma hanya mengundang orang yang penting-penting saja. Semua orang yang hadir begitu menikmati jamuan makan malam yang di sediakan oleh tuan rumah.
Suara musik mengiringi beberapa orang yang sengaja berpasangan untuk ikut berdansa saat Bagas menarik tubuh Rania untuk berdansa. Awalnya Rania tidak mau, tapi mereka sudah tanggung berada di tengah-tengah para tamu undangan, akhirnya mau tidak mau Rania mengikuti gerakan sesuai musik.
Orang yang hadir melihat keromantisan Bagas dan Rania di buat kagum dan membuat iri saja. Akhirnya beberapa dari mereka tidak mau kalah romantis, mereka ikut berdansa juga berpasangan dengan orang yang mau di ajak berpasangan.
Pak Burhan yang pertama kali di ajak ke rumah tuan tajir juga menarik tangan istrinya untuk ikut bergabung berdansa, bu Sari menolak tapi pak Burhan tetap memaksa. Pak Brahma yang melihat tingkah besannya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Hera yang berada di samping Brahma memperhatikan wajahnya, dan melihat siapa yang sedang Brahma lihat.
"Siapa dia?" tanya Hera melihat sepasang suami istri yang sudah tua ikut berdansa.
"Mertua Bagas" jawab Brahma melirik Hera sekilas.
__ADS_1
Hera mengerutkan dahinya, ia merasa bahwa pestanya tidak seperti yang ia bayangkan.
Kenapa harus ada orang-orang kampungan berkeliaran di sekitar sini? Batin Hera, kemudian dia pergi dari sana.
Sudah banyak pasangan yang mengikuti alunan musik untuk berdansa, akhirnya sekretaris Frans yang pastinya juga ada di sana, mulai mendekati Nadira ketika Radit ijin ke Nadira untuk pergi sebentar. Tubuh sekretaris Frans semakin di dekatkan dengan tempat berdirinya Nadira. Nadira yang awalnya fokus melihat orangtua dan adiknya sedang berdansa, menyadari adanya sekretaris Frans yang sepertinya sedang mendekatinya.
Nadira melangkah ke samping satu langkah agar ia bisa menghindari. Tapi sekretaris Frans semakin mendekat. Nadira tidak dapat menghindar lagi ketika di sampingnya ada orang lain yang juga sedang melihat beberapa pasangan dansa.
"Kau mau ikut dansa?" tawar sekretaris Frans.
Dengan cepat Nadira menggelengkan kepalanya, "tidak! Saya tidak berdansa" tolak Nadira.
"Kau bisa, saya akan mengajarkanmu. Lihatlah, mereka begitu menikmatinya!" kata sekretaris Frans, kemudian ia meraih tangan Nadira dan membawanya ke tengah-tengah bergabung dengan yang lain.
Sekretaris Frans meletakkan salah satu tangan Nadira di dadanya, dan tangannya ia letakan di pinggang Nadira.
"Ikuti kakiku bergerak!" perintah sekretaris Frans, Nadira sama sekali tidak mempunyai alasan untuk dapat menolak, ia menurut saja apa yang di perintahkan oleh sekretaris Frans.
Radit mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah tuan tajir atasannya, ia juga baru pertama kali menginjakkan kaki di sana. Radit merasa berhak atas rumah itu karena Rania tinggal di sana. Setelah masuk terlalu dalam ke rumah itu, Radit bingung untuk kembali, ia tidak juga menemukan jalan keluar. Rasanya ia berjalan muter-muter di situ saja.
Radit kemudian mencoba masuk ke pintu yang ada di hadapannya saat ini, ia harus segera keluar dari sana dan kembali ke pesta sebelum ada orang yang menemuinya dan berpikir macam-macam.
Kali ini Radit memang keluar dari dalam rumah, tapi sepertinya ia berada di lantai atas. Radit melihat sosok wanita berdiri sendirian di balkon, dengan langkah yang cepat ia menghampiri dan berdiri di sampingnya.
"Bukannya anda yang punya acara?" tanya Radit pada wanita yang sedang melihat pesta dari atas itu menoleh.
"Anda siapa?" wanita itu balik bertanya.
"Saya..."
Aku kasih tahu siapa aku sebenarnya gak yah? Mending gak usah deh.
__ADS_1
"Saya tamu undangan tuan Brahma. Anda belum menjawab pertanyaan saya, kenapa anda di sini?"
"Saya tidak suka dengan gadis yang di nikahi Bagas keponakan saya, dia membawa keluarganya juga datang kemari. Lihatlah!" Hera menunjuk kepada sepasang orang yang sedang berdansa, "dia adalah orang tuanya!" tambahnya lagi.
Ucapan Hera barusan membuat Radit seketika meneguk ludahnya, orang yang di maksud oleh Hera barusan adalah keluarganya. Tapi Radit bertingkah seakan-akan ia tidak mengenali orang yang Hera tunjuk. Jahat sekali.
"Memangnya kenapa dengan dia?" tanya Radit lagi.
"Dia siapa?"
"Orang yang anda tunjuk barusan"
"Saya tidak suka orang-orang miskin dan kampungan berada di sekitar saya!" ujar Hera dengan sombongnya.
Kemudian Hera pergi meninggalkan Radit di sana. Radit melihat kepergian Hera, menatap punggungnya sampai hilang dari pandangan. Sedetik setelah itu ia tersenyum, senyuman licik seperti ada sesuatu di balik senyumannya itu.
.
.
.
.
.
.
Kalau kalian menyukai cerita TUAN TAJIR ini, jangan lupa tinggalkan like, vote menggunakan poin atau koin. Komen juga ya di kolom komentar, komen yang baik-baik aja ya, hehe. Tambahkan juga ke favorit ya bagi yang belum, agar mendapatkan notifikasi ketika up. Kabar baik buat yang suka nanyain visual akan segera di luncurkan setelah pop TUAN TAJIR tembus 1 M.
Semoga selalu suka dan menghibur ya😊 Sampai jumpa di next chapter. Terima kasih😘
__ADS_1