Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Ketemuan


__ADS_3

Seorang gadis mengetuk atap angkot memberi kode kepada sang sopir untuk memberhentikan kendaraannya. Ia turun dan berdiri di samping pintu depan yang kemudian memberikan selembar kertas sebagai ongkos.


"Terima kasih pak" ucap gadis itu yang mendapat anggukan dari sang sopir setelah menerima ongkos. Ia adalah Rania.


Rania berjalan menuju tempat minuman segar yang pernah ia kunjungi waktu itu. Di sana masih sepi karena waktu masih pagi, belum terlihat ada pengunjung. Hanya ada satu laki-laki yang duduk di sana membenamkan kepala di atas lipatan tangan di meja. Rania duduk di hadapan laki-laki itu.


Kebiasaan sekali laki-laki ini, masih pagi sudah memanjakan matanya untuk terus beristirahat. Apa dia setiap hari begitu ya, tidur di pagi hari sudah menjadi ritual rutin yang harus di kerjakan baginya.


Laki-laki di hadapannya belum juga mengangkat kepalanya. Kemudian Rania memberikan diri untuk moncolek bagian sikut pemilik laki-laki itu.


Akhirnya laki-laki itu mengangkat kepalanya dan tersenyum ketika melihat Rania yang ada di hadapannya.


Sial! Kenapa wajah laki-laki ini selalu tampan, apalagi di usinya yang masih 20 tahunan. Aku pikir dia tidur, ternyata tebakanku masih sama seperti waktu itu. Melesat!


"Hay Rania" sapa laki-laki itu yang ternyata adalah Reyhan.


"Hay." balas Rania juga memberi senyuman.


Reyhan terlihat memperhatikan Rania, seperti ada yang berbeda. Rania tentu saja sudah tahu, Reyhan pasti memperhatikan giginya yang di behel.


Sudah ku duga, aku pasti tidak akan percaya diri dengan penampilanku saat ini. Kenapa juga itu dokter memberi behel berwarna hijau. Ah, salahku juga tidak request terlebih dahulu.


"Maaf ya sudah membiarkan kamu menunggu lama" ucap Rania meminta maaf sambil menaruh tas slempangnya di atas meja hadapannya. Mengalihkan perhatian Reyhan.


"Iya, santai aja" jawab Reyhan.


"Ada hal penting apa sampai meminta ketemuan di sini?" tanya Reyhan mulai membuka pembicaraan.


"Aku ingat! Kamu pernah bilang kalau di sini masih ada beberapa ruko yang di sewakan. Kayaknya aku minat untuk menyewa ruko di sini. Jadi aku telpon kamu dan minta ketemuan di sini." jelas Rania pada Reyhan.


Reyhan beberapa kali menganggukan kepala menanggapi alasan Rania meminta ketemuan dengannya.


"Cuma itu?"


"Ya."


"Yakin gak ada hal lain selain itu?" tanya Reyhan lagi untuk memastikan.


Iya hanya itu. Kamu pikir ada hal apa lagi.


"Rasanya tidak ada lagi."


"Aku pikir kamu kangen sama aku." ucap Reyhan dengan penuh percaya dirinya.

__ADS_1


DEGGG..


Seketika jantung Rania serasa mau copot. Terkejut mendengar kalimat itu, ia langsung gelagapan. Baru kali ini telinganya mendapat asupan ucapan yang begitu asing dari seorang mulut laki-laki. Bahkan laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya pun tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu. Dan berharap tidak akan mengtakannya.


Apa maksud dia? Tenang Rania, tenang. Kau tidak boleh terlihat salah tingkah hanya karena 1 kata itu. Ah, bagaimana tidak salah tingkah. Toh kalimat itu keluar dari laki-laki tampan seperti dia. Ingat Rania ingat! Ingat suami!


Sementara Reyhan malah tertawa melihat Rania yang gelagapan dan salah tingkahnya.


Kenapa dia malah tertawa seperti itu? Apa aku ini lucu? Aku tidak lucu, hanya imut saja. Hehe. Semua laki-laki memang aneh. Termasuk ayah dan abangku sendiri.


"Santai aja Rania! Tadi aku cuman bercanda."


"Eh i-iya" jawab Rania gugup, dan sedikit menundukkan kepalanya.


Reyhan tersenyum, dia memang cantik. Gumamnya.


Rania sesekali melirik Reyhan yang masih menatapnya dengan bibir yang tidak lepas dari senyuman.


Aduh, kenapa dia jadi begitu ya. Aku harus bisa mengalihkan perhatian dan pembicaraan.


"M-maaf Rey, jadi gimana? Kamu bisa menemaniku untuk melihat-lihat ruko di sini?" Rania mulai mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja, Rania" jawab Reyhan dengan sigap.


"Eh iya, aku sampai lupa untuk memesan minum untukmu"


"Ah, tidak apa-apa"


Rania mengambil tas slempang dan di gantungkan ke pundak, kemudian berdiri dari duduknya. Begitu dengan Reyhan yang langsung berdiri dari duduknya.


******


Rania berjalan sejajar dengan Reyhan, melihat banyak deretan Ruko yang masih kosong. Terdapat selembar kertas yang bertuliskan "DI SEWAKAN" dan Hub: 08××××× yang di tempel di setiap Rolling door ruko.


Rania tertuju pada sebuah ruko dengan rolling door berwarna maroon, yang berukuran tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil juga.


Sepertinya itu pas untuk ku jadiakan tempat barang toko online-ku.


Rania menunjuk ruko itu, memberi tahu Reyhan. Kemudian mereka berjalan dan berhenti di depan rolling door.


"Ada nomet telponnya, kamu langsung telpon aja pemiliknya!" saran Reyhan.


"Iya"

__ADS_1


Rania mengambil ponsel dari tas slempangnya. Kemudian mengetikkan nomer yang ada di hadapannya dan mendekatkan ponsel ke telinganya.


"Hallo."


"Saya Rania. Apakah anda benar pemilik ruko yang akan di sewakan?"


"Oh, iya. Saya rencana mau menyewa ruko anda. Apa saya bisa bertemu dengan anda?"


"Baiklah! Saya akan segera ke sana."


"Terima kasih."


Rania mengakhiri panggilan dengan seseorang pemilik ruko itu. Reyhan yang berdiri sejak tadi mendengarkan obrolan Rania dengan pemilik ruko itu langsung saja bertanya, "Jadi gimana Rania?"


"Barusan aku di suruh menemuinya di kafe yang tidak jauh dari sini"


"Kamu masih butuh aku untuk menemanimu?!" tanya sekaligus tawar Reyhan.


Kau memang baik Rey tampan. Tapi aku takut ada udang di balik batu dengan kebaikanmu itu. Aku belum begitu mengenalmu juga.


"Tidak perlu!" tolak Rania, "aku akan pergi sendiri kesana. Sebelumnya terima kasih karena sudah mau menemaniku untuk melihat-lihat ruko di sini"


"Ah santai aja Rania, justru aku senang."


Iya kamu memang terlihat senang sejak tadi. Entahlah, aku tidak bisa mengartikan lebih dari kata 'senang' mu itu.


"Lain kali kamu jangan sungkan untuk memintaku dalam hal apapun yang menurut kamu, kamu butuh bantuan." pinta Reyhan.


"Iya. Kalau begitu aku pergi dulu Rey" pamit Rania melambaikan tangan dan langsung mendapat balasan lambaian tangan dari Reyhan.


Rania langsung pergi dari sana meninggalkan Reyhan yang masih berdiri di sana menatap punggung Rania yang mulai hilang dari pandangannya.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR


Hay readers setia TUAN TAJIR. Masih setia untuk membaca kelanjutannya? Semoga masih ya, dan tambah suka juga. Terima kasih selalu support saya agar semangat mengetik naskah untuk episode berikutnya. Kalian yang sabar juga dalam menunggu ya.


Like, vote, komen ya. Tambahkan ke favorit juga untuk yang belum, agar mendapat notifikasi ketika up episode berikutnya.


Terima kasih


Hatur nuhun😊

__ADS_1


__ADS_2