
Sore hari, Rania turun dari mobil di jemput oleh sopir. Wajahnya terlihat murung entah kenapa, biasanya ia selalu memasang wajah ceria kepada semua orang. Ia masuk ke dalam rumah setelah pelayan penjaga pintu utama membukakannya.
Langkahnya nyaris menginjak anak tangga pertama, namun itu segera ia urungkan ketika seseorang memanggilnya.
"Hey gadis gembel!" panggil seseorang yang suaranya berasal dari belakang, Rania tahu kalau panggilan itu pasti di tujukan untuk dirinya.
Dengan malasnya Rania menoleh, di sana sudah berdiri 2 orang wanita, keduanya melipat tangannya di dada, dua wanita yang membencinya. Arsilla dan Hera. Keduanya memberikan senyuman remeh pada Rania, dan tatapan kebencian yang di layangkan.
"Harusnya kau tahu diri berada di rumah ini! Kau tidak lebih dari seorang gadis gembel bahkan jauh lebih rendah dari itu. Harusnya tempat tinggalmu di jalanan, bukan istana!" maki Hera dengan di akhiri telunjuk yang mendorong tubuh Rania.
Bibir Rania sama sekali tak bergeming, ia berusaha untuk tetap tenang di hadapan mereka. Kuat, jangan lemah Rania, ingat itu! Anggap saja makian sudah menjadi makan sehari-hari dan tidak usah lagi di ambil hati. Anggap saja angin lalu yang akan berlalu.
"Kenapa kamu diam saja? Takut?" tanya Arsilla merasa punya teman satu tujuan yaitu membenci adik iparnya sendiri.
Rania masih diam, ia hanya ingin tahu sampai di mana nyali kakak ipar dan tante Hera.
"Hey gadis gembel, ayo bicara! Kau takut padaku?" Hera mencekeram pipi Rania kuat-kuat agar dia terpancing emosi.
"Kenapa kau diam saja gadis gembel? Ayo bicara! Aku ingin tahu seberapa besar nyalimu untuk melawanku?" tantang Hera masih mencekeram pipi Rania.
Arsilla yang menyaksikannya semakin tidak sabar, apakah adik iparnya itu akan melakukan yang sama kepada tantenya, seperti yang dia lakukan kepadanya waktu itu. Jika benar demikian, rencana untuk menendangnya dari rumah ini sepecatnya akan segera berhasil.
"Tante, rupanya kita harus lebih keras lagi membangunkan singa yang sedang tidur ini! Aku jadi penasaran seberapa kuat dia akan menerkam" ucapan Arsilla membuat Rania bingung, sebenarnya apa yang sedang mereka rencanakan.
Apa dia sedang menjebakku? Baiklah, kalau kalian ingin main-main denganku, aku akan menyelesaikan permainan kalian. Kalian pikir aku sebodoh itu wahai tante Hera, kakak ipar.
Kali ini Hera tidak hanya mencekeram pipi Rania, ia juga menarik rambut Rania dan menggenggamnya dengan kuat, sehingga Rania bisa merasakan betapa sakitnya.
Kekerasan memang tidak harus di balas dengan kekerasan, jika demikian kita tidak ada bedanya dengan mereka. Kemudian Rania berpikir, cara halus apa yang akan ia pakai untuk membalas kejahatan mereka. Ia berpikir sampai perutnya terasa mulas.
Seketika Rania mendapat ide cemerlang, ide yang paling berlian.
Rasakan saja, pasti kalian akan kalah karena telah melawan orang yang bukan lawan kalian.
Perlahan Rania menyembunyikan sebelah tangannya ke belakang, ia letakan tepat di belahan p*ntat bahenolnya. Ketika Hera dan Arsilla semakin geram dan sedikit memajukan wajah mereka mendekat ke wajahnya, dengan cepat Rania membungkam hidung mereka secara bergantian dengan sisa asap kentutnya. Menjijikan sekali baunya.
__ADS_1
Saking baunya, Hera dan Arsilla seperti orang yang mau muntah karena mabok mencium kentut Rania yang baunya minta di gaplok. Dengan cepat Rania segera pergi menaiki anak tangga setengah berlari.
Dari bawah, Rania mendengar Hera dan Arsilla sedang memakinya dengan suara yang masih menahan bau.
"Sialan kau gadis gembel!.."
"Tunggu pembalasanku, aku akan membuatmu jera dan pergi selama-lamanya dari rumah ini, dari bumi sekalipun!"
"Aku tidak akan mengampunimu..!"
"GADIS GILAAAA...."
Rania yang mendengar makian mereka malah tertawa terbahak setelah merasa puas membungkam mereka dengan kentutnya.
"Ha ha ha. Itulah akibatnya kalau kalian berani melawan Rania"
*****
Rania terlihat tengkurap di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Ia kecewa karena ending film drakor favoritnya tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Kemudian ia letakan saja ponselnya di atas meja kecil, dan membalikan tubuhnya dengan terlentang saat dirinya sudah merasa bosan dengan ponselnya.
"Aku tahu kau belum tidur." genggaman tangan Bagas membuat mata Rania seketika terbuka.
"Kau sudah pulang?"
"Aku tahu pasti tante Hera dan kakak kembali memakimu saat aku tidak ada di rumah" ucapan Bagas membuat Rania bangun dan duduk menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
"Tidak, aku bahkan belum bertemu lagi dengan mereka"
"Sejak kapan kau mulai berani membohongiku? Aku tahu semuanya dari pelayan yang aku perintahkan untuk mengawasimu, tante Hera dan kakak!"
Rania bukannya terkejut karena ternyata ada pelayan yang memata-matainya, justru ia malah terlihat malu karena telah membohongi suaminya.
"Kau tenang saja, aku masih bisa menjaga diriku! Tidak usah khawatir!"
"Tapi kau belum tahu siapa tante Hera, sayang! Dia orang yang bisa nekad melakukan apa saja yang dia mau, aku tahu betul tante Hera. Aku takut kau kenapa-kenapa, aku takut tante Hera melakukan sesuatu padamu!" Bagas sangat cemas dengan kehadiran tantenya yang ternyata juga membenci istrinya.
__ADS_1
"Sudah"
"Sudah apa?" tanya Bagas bingung
"Tante Hera sudah melakukan sesuatu denganku"
Bagas menatap wajah istrinya, memperhatikan sesuatu. Bagas menyelipkan rambut Rania yang terurai menutupi wajahnya ke telinga. Kini, wajahnya terlihat jelas. Sangat jelas rahang pipi Rania merah, akibat cengkraman kuat Hera yang membekas.
"Apa yang dia lakukan kepadamu?" Bagas di buat panik ketika melihat pipi istrinya yang merah.
"Seperti yang kau lihat di pipiku" ucap Rania datar.
"Aku tidak akan membiarkan ini terulang lagi, aku tidak mau kau sampai kenapa-kenapa"
"Sudah, tidak apa-apa selama aku masih baik-baik saja!" ucap Rania sedikit mengembangkan senyumnya, agar Bagas tidak mengkhawatirkannya seperti itu.
Bagas memeluk tubuh istrinya, memberi kekuatan baru agar ia lebih kuat lagi untuk menjalani kehidupan yang ternyata banyak sekali rintangan yang harus di hadapi. Rania memang harus kuat, lemah sedikit saja tidak tahu apa yang akan terjadi.
Aku tidak tahu sampai kapan penderitaan ini akan berakhir, aku kira kebahagiaan sedang bersamaku. Tapi aku salah, kebahagiaan yang sesungguhnya belum benar-benar berpihak padaku. Semoga saja aku lebih di kuatkan lagi untuk menghadapi orang jahat baru. Kenapa harus orang jahat lagi yang di hadirkan? Hidup memang begitu. Cobaan datang bertubi-tubi dan endingnya kita akan merasa puas ketika lulus dari ujian ini.
.
.
.
.
.
.
.
Jika kalian suka dengan cerita ini jangan lupa tinggalkan like, vote menggunakan poin atau koin, ya! Tambahkan ke favorit bagi yang belum!
__ADS_1