
Suasana di ruko, para pegawai sedang beristirahat setelah mengemas beberapa barang yang di order coustamer. Sedangkan Reyhan sedang merebahkan diri di sofa lantai atas.
Tanpa terdengar langkah kakinya, Diva muncul berdiri di dekat sofa tempat di mana Reyhan membaringkan tubuhnya. Memperhatikan wajah pria yang membuatnya jatuh cinta dalam waktu hitungan detik karena ketampanannya. Namun selalu gagal ketika ia mencoba mencuri sedikit saja perhatian darinya.
Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta melihat begitu tampannya Reyhan. Bahkan sosok Rania saja sampai mengagumi ketampanan pria itu, sebelum kemudian ia menyadari kalau suaminya jauh lebih tampan dari pada Reyhan.
Seperti yang di lakukannya tadi, Diva mencoba melangkahkan kakinya perlahan agar tidak terdengar, lebih mendekat ke sosok pria yang sedang membaringkan tubuh dengan terlentang. Memperhatikan setiap bagian tubuh pria yang hampir mendekati kata sempurna.
Aaa, manis sekali sih dia. Aku jadi ingin memilikinya.
Tidak mau berhenti sampai di sana, Diva ikut duduk di ujung pangkal sofa yang di gunakan Reyhan sebagai bantalan kepalanya. Ingin rasanya Diva memberanikan diri untuk menyentuh setidaknya mengusap rambut pria itu, namun ketakutan yang besar masih mengalahkan perasaannya.
Seketika Reyhan membuka matanya, ketika ia merasa wangi parfum yang menyengat ikut masuk bersamaan dengan oksigen yang ia hirup. Menoleh ke samping ada sosok wanita duduk di sana. Tentu saja Reyhan terkejut dan terperanjak dari sana.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Reyhan kalau Diva akan ataupun sudah melakukan sesuatu terhadapnya.
Diva langsung bangkit berdiri ketika Reyhan bangun apalagi terkejut mengetahui keberadaannya di sana. Gugup, takut, dan Diva tidak tahu harus menjawab apa?
"A-aku tadi akan bertanya pada pak Reyhan, apakah ada coustamer lagi yang akan order barang di sini? Jadi saya ke sini dan melihat kalau pak Reyhan sedang tertidur, aku tidak berani membangunkan" jawab Diva asal bicara tapi mudah-mudahan tidak membuat Reyhan curiga kalau dirinya berbohong.
"Oh" singkat saja, memperhatikan Diva baik-baik dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan berhenti di wajah yang mengeluarkan ekspresi takut, gugup, ada di sana.
"B-boleh aku ikut duduk?" menunjuk ke sofa kosong di samping Reyhan.
"Silahkan!" mengedikkan dagunya ke samping memberi ruang pada Diva untuk duduk di sebelahnya.
"Terima kasih" ucapnya sambil mendudukkan diri.
Suara ponsel bergetar dan dengan nyaringnya berbunyi dari balik saku celana Reyhan. Dengan cepat Reyhan merogoh dan di tatapnya layar ponsel. Di sana ada pesan masuk yang segera Reyhan baca, kelihatannya kurang lebih seperti itu.
__ADS_1
Setelah membaca pesan masuk yang entah dari siapa, wajah Reyhan berubah bahagia. Terlihat dari wajah yang mengeluarkan aura senang dan sudut bibir kanan mengangkat juga mengembang. Bahagia, itulah perkiraan Diva. Tanpa mengetik atau membalas pesan yang baru saja ia dapat, Reyhan kembali memasukan ponselnya tanpa menghilangkan senyum itu dari bibirnya.
"Dari siapa?" Diva penasaran, sedikit takut juga kalau ternyata pesan itu dari orang spesial Reyhan yang akan menyaingi dirinya untuk mendapatkan Reyhan.
Reyhan menoleh, sama sekali tidak menggubris pertanyaan Diva. Wajahnya yang semula memancarkan aura kebahagiaan, seketika pudar oleh pertanyaan Diva yang sedikit mengganggunya.
"Maaf jika aku lancang mempertanyakan hal pribadi yang seharusnya tidak perlu ku ketahui!" menunduk, menggigit bibirnya kuat-kuat, sepertinya ia ceroboh terlalu ingin mengetahui urusan pribadi Reyhan.
"Kamu mau tetap di sini? Saya duluan turun!" Reyhan nyaris bangkit dari duduknya tapi segera Diva tahan untuk tidak pergi terlebih dahulu.
"Tunggu!" membuat Reyhan tidak jadi bangun karena tangan Diva yang menghalanginya.
"Maaf" Diva segera memundurkan tangannya yang berusaha mencegah Reyhan untuk pergi.
"Aku mau tanya sesuatu boleh?" bicara dengan hati-hati agar tidak salah untuk kesekian kali.
"Tanyakan!"
Reyhan menggeleng, "belum, sepertinya dia masih ingin berlama-lama di sana"
"Benarkah?" Diva begitu senang, mungkin dia merasa masih punya kesempatan untuk mendekati Reyhan dengan leluasa.
"Iya, kamu kenapa kelihatan begitu senang?" Reyhan melihat ada yang aneh, seharusnya Diva mengeluarkan ekspresi lain, setidaknya sedih, lah, karena merindukan teman dekatnya.
"Ti-tidak, aku senang kalau temanku merasa senang menghabiskan waktu bersama suaminya. Itu artinya dia menikmati statusnya sebagai istri, dan tidak sia-sia meninggalkan sekolah demi pria yang menjadi suaminya itu" wajahnya masih mengeluarkan ekspresi senang, pandangan lurus ke depan ketika memberi alasan kesenangannya.
"Kamu mengenal baik suami temanmu?" Reyhan penasaran, seberapa banyak Diva tahu tentang kehidupan temannya.
"Tidak sih, tapi bisa ku lihat kalau Rania memang bahagia dengan suaminya" katanya lagi kali ini dengan menatap wajah Reyhan yang juga menatap wajahnya.
__ADS_1
Ternyata Rania tidak pernah mengatakan pada siapapun tentang luka mendalam dalam pernikahannya. Ia selalu ingin memastikan kalau dirinya baik-baik saja. Dia benar-benar perempuan kuat, tangguh, sebab itu aku kagum terhadap dirinya. Batin Reyhan dalam hati.
Jika bukan karena Rania yang pernah nangis di angkot, mungkin Reyhan juga tidak mengenal Rania. Apalagi sampai tahu hubungannya dengan suaminya yang penuh dengan penderitaan. Diva memang teman dekat Rania, tapi Rania tidak sama sekali tidak menceritakan semua hal itu padanya. Karena bisa saja teman dekat itu, sedekat apapun, yang terlihat baik bahkan sudah seperti saudara sendiri masih bisa menusuk kita dari belakang. Bisa saja terjadi, bahkan sering, karena hati manusia tidak bisa di selami.
"Saya mau turun, kalau kamu masih ingin tetap di sini, silahkan!" Reyhan bangun dari duduknya pergi meninggalkan Diva sendiri di sana.
"Kenapa sih kamu itu susah banget buat di deketin Reyhan? Kamu itu satu-satunya pria yang mampu membuat aku jatuh cinta seperti ini!" gerutu Diva ketika Reyhan sudah tidak ada di sana tentunya.
"Pak Reyhan, tunggu!" Diva segera bangkit dari duduknya untuk menyusul Reyhan yang sudah turun terlebih dahulu.
Diva menuruni anak tangga yang tingginya hanya 5 meter saja dengan setengah berlari untuk mengejar langkah Reyhan.
"Tunggu!" Diva menarik lengan Reyhan dengan beraninya setelah turun dari tangga, membuat Reyhan menoleh dan menatapnya bingung.
Semua pegawai menyaksikan Diva yang sedang memegang tangan Reyhan dengan tatapan tidak suka, ada juga yang bisik-bisik membicarakannya. Diva menatap pegawai secara bergantian, semua pasang mata tertuju padanya. Kemudian Diva melepaskan tangan Reyhan dengan minta maaf yang sebesar-besarnya.
"Maafkan saya, pak Reyhan!" menelungkupkan kedua tangannya dengan wajah menunduk.
Reyhan diam, bibirnya sama sekali tak bergeming. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruko, rasanya ia tidak nyaman berlama-lama berada di dalam apalagi Diva yang terus saja mengikutinya. Reyhan mulai risih dengan kehadiran Diva di sana, di tambah Rania tidak ada di sana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote, komen, ya! Tambahkan ke favorit. Buat yang belum melihat visual Bagas dan Rania, segera tonton di youtube sekarang juga!