
Di tempat kediaman pak Burhan dan bu Sari.
Di lihat dari motor yang Bagas berikan untuk Radit yang terlihat kinclong, sepertinya Radit baru saja mencuci motor tersebut. Ia keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi, tapi bukan pakaian yang biasa ia pakai untuk bekerja.
"Mau kemana, Dit?" tanya Burhan yang sedang duduk di kursi ruang tengah.
"Biasa, yah. Urusan anak, muda!" balas Radit, ia mengambil pisang goreng yang tersedia di meja.
"Ya udah, sana pergi! Nanti ayah pinjam lagi ya motornya, buat jalan-jalan, hehe," ujar pak Burhan.
"Kalau begitu ayah minta beliin sendiri sama Rania, yah. Jangankan motor, deller-nya aja bisa kebeli sama suami Rania. Cuma pelit, dia!" Radit mengejek nama Bagas.
"Hahaha. Ide bagus, tuh. Nanti deh, ayah bujuk Rania, harus di beliin pokoknya," ujar Burhan, terlihat semangat empat lima.
"Aku pergi dulu, ya, yah!" pamit Radit.
"Mau kemana, nak?" bu Sari muncul dari dapur, membawa sepiring pisang goreng lagi, menghentikan langkah Radit yang mau pergi.
"Mau tahu aja. Terserah aku lah, bu! Mau pergi kemanapun, bukan urusan ibu," jawab Radit dengan sedikit kasar, lagi-lagi bu Sari harus mengelus dada untuk menghadapi sikap putra sulungnya yang semakin hari kian menjadi.
"Sudahlah, bu! Radit ini kan laki-laki, lagi libur juga, dia. Biasa main, bu. Kayak gak pernah muda aja," pak Burhan ikut menimpali. Sementara Radit sudah pergi dari sana mengendarai motornya.
***
Setelah dari tempat olahraga, kini Bagas mengajak Rania untuk pergi ke sebuah mall. Kalaupun tidak ada yang mau di beli, setidaknya mereka bisa jalan-jalan dan tidak menghabiskan waktunya hanya berdiam diri di rumah saja. Karena hari sudah siang, akhirnya mereka memutuskan untuk makan di restoran yang ada di dalam mall itu.
"Mau pesan apa?" Bagas memberikan selembar kertas berisi menu makanan di sana.
"Terserah, apa saja pasti akan aku makan!" balas Rania sambil memainkan ponselnya.
"Okay!" Bagas menujukan menu makanan yang di pilih kepada pelayan yang sedang berdiri di sampingnya untuk segera di catat.
Tidak lama kemudian pesanan datang, tanpa basi-basi Bagas dan Rania segera menyantap makanan yang telah di pesanannya itu.
"Enak?"
"Enak," balas Rania, menyendok lagi makanan dan terlihat kepedasan.
"Mau nambah lagi?" tawar Bagas, biasanya Rania akan kembali minta makanan jika ia mengatakan enak.
"Tidak, ini cukup!" tolak Rania.
Kemudian mereka kembali menyantap makanan di piring masing-masing, tiba-tiba saja di tengah-tengah mereka sedang makan, Bagas kebelet. Ia harus segera pergi ke toilet.
"Sayang, aku ke toilet sebentar, ya!" pamitnya segera berlalu.
Di toilet, Bagas merasa lega setelah buang air kecil. Ia mencuci tangannya di wastafel di sana, setelah selesai ia segera kembali karena tidak mau membuat istrinya harus menunggu lama. Tiba-tiba saja ketika ia berjalan di lorong toilet, seseorang menutup matanya menggunakan kain berwarna hitam.
__ADS_1
"Hei, kau siapa?" Bagas gelagapan, karena ia tidak dapat melihat setelah matanya berhasil di tutup oleh seseorang tadi.
Sebuah tangan dengan berkulit putih memeluk pinggangnya dari belakang. Bagas kira itu adalah Rania, mungkin ia telah membuat Rania telah menunggu lama dan harus menyusulnya ke toilet.
"Sayang, kau tidak perlu menyusulku! Kau tunggu saja di meja makan, lagi pula aku tidak meninggalkanmu sendirian, kok!" ujar Bagas, ia mengeratkan pelukan tangan seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Sayang, kau ini kenapa? Kenapa kau diam saja? Kalau mau nambah makanannya kau bisa langsung pesan! Kau ini membuatku gemas saja karena semakin hari semakin manja!"
Seseorang yang telah mengikatkan kain untuk menutupi mata Bagas dan seseorang yang sedang memeluknya itu tetap diam saja. Ia tetap diam tak bergeming.
"Sayang, ulang tahunku masih lama. Kau mau memberi aku surprise, ya?"
"Hem," jawab seseorang itu, Bagas terlihat sangat senang, ternyata Rania bisa seromantis ini juga.
Surprise apa, ya? Ulang tahunku masih lama, kehamilannya juga belum genap tiga bulan. Terus, surprise apa yang akan dia berikan? Oh iya, aku ingat. Ini kan tanggal pernikahan pernikahan kita yang ke sekian bulan. Mungkin dia akan memberikan surprise hari pernikahan kita. Aku jadi tidak sabar. Ujar Bagas dalam hatinya.
"Sayang, kau akan membawaku ke mana? Apa kau sudah membayar tagihan makannya?" Tangan Bagas di tarik oleh seseorang itu untuk mengajaknya pergi dari sana.
"Hem." jawab seseorang itu lagi.
"Baguslah kalau kau sudah bayar!"
Bagas di bawa oleh seseorang yang Bagas sudah pastikan itu adalah Rania. Karena siapa lagi kalau bukan istrinya? Kemudian Bagas masuk ke dalam mobil duduk di belakang kemudi. Pasti Rania sudah menghubungi sekretaris Frans untuk ikut membantu rencananya, dan saat ini pasti sekretaris Frans yang mengemudikan mobilnya. Bagas semakin tidak sabar, kira-kira kejutan apa yang akan di berikan oleh istrinya?
Mobil di lajukan oleh sang pengemudi.
Mana mungkin Frans akan menjawab pertanyaanku, mereka kan sedang memberikan aku kejutan. Haha, aku sudah tidak sabar.
Sekitar setengah jam, akhirnya mobil yang di tumpangi Bagas berhenti. Seseorang yang Bagas anggap Rania itu membantu untuk turun dari mobil. Setelah itu ia juga membantu Bagas untuk berjalan. Seseorang itu membantu Bagas untuk masuk ke dalam lift, Bagas baru sadar kalau ia berada di dalam lift ketika lift tersebut mulai naik ke lantas atas.
"Sayang, ini dimana, sih? Kenapa kita harus naik lift segala?" Bagas mencurigai seseorang yang sedang bersamanya saat ini, itu benar istrinya atau orang lain?
Namun Bagas tetap harus percaya kalau seseorang yang sedang bersamanya itu adalah Rania, istrinya akan memberinya sebuah kejutan.
Seseorang yang membawa Bagas kini telah sampai di kamar, ia langsung menjatuhkan tubuh Bagas ke atas tempat tidur.
"Sayang, sebenarnya kejutan apa yang akan kau berikan? Si Frans bodoh juga membuatku semakin penasarn saja!" Bagas semakin tidak sabar, ia ingin cepat-cepat melihat kejutan yang akan di berikan Rania.
Seseorang itu menaiki tubuh Bagas, membuat Frans seketika merasakan sesuatu yang aneh. Tapi ia tidak boleh berpikir buruk terlebih dahulu. Seseorang itu dengan cepat ******* bibir Bagas, Bagas pun perlahan menerima serangan itu. Serangan-serangan kecil mulai di terima dengan baik oleh Bagas, sehingga mereka kini tenggelam dalam dunia permantapan.
***
Di restoran, sudah hampir empat puluh lima menit Rania menunggu Bagas yang katanya akan buang air ke toilet, namun sampai detik ini Bagas tidak kembali juga. Tunggu, sebentar! Kalau Rania masih ada di restoran, lalu siapa seseorang yang membawa Bagas ke sebuah kamar?
Karena ponsel Bagas tergeletak di atas meja, Rania sulit sekali untuk menghubunginya. Ia terlihat sangat gelisah.
"Kemana, sih? Kenapa pergi ke toilet se-lama ini?" Rania menggerutu, karena Bagas tega membiarkannya menunggu lama di sana.
__ADS_1
"Apa dia buang air besar kali, ya? Karena Bagas kan tidak suka makanan yang terlalu pedas," pikir Rania.
"Ah, tapi masa se-lama ini? Apa aku cek ke toilet? Aku cek, deh!"
Rania memutuskan untuk mengecek Bagas langsung saja ke toilet, tapi baru satu langkah ia melangkahkan kaki dari meja makan, suara notifikasi masuk ke ponsel Bagas.
"Pesan dari siapa, ya? Mungkin dari Frans!" Rania tidak perduli dengan isi pesan tersebut, karena ia pikir itu dari sekretaris Frans. Tapi ketika ia kembali melangkahkan kaki, suara notifikasi dari ponsel Bagas kembali bunyi. Akhirnya ia penasaran, dan mengambil ponsel tersebut.
Rania membuka pesan WhatsApp dari seseorang, di sana ia mengirimkan sebuah foto yang membuat Rania tiba-tiba membungkam mulutnya tak percaya. Tidak hanya itu, Rania juga menjatuhkan ponsel Bagas tidak sengaja karena terkejut sekaligus shock. Itu adalah foto Bagas sedang cium*n dengan seseorang yang tadi. Tapi seseorang itu tidak menampakkan wajahnya, hanya wajag Bagas yang terlihat dengan mata yang masih di tutupi kain.
Tubuh Rania seketika melemas, ia tidak dapat menahan lagi isak tangisnya. Bahkan tubuhnya tidak dapat lagi menopang beban tubuhnya sendiri, sehingga ia jatuh ambruk ke lantai. Foto itu terlihat begitu jelas di layar ponsel Bagas yang tergeletak di lantai.
”Tidak! Suamiku tidak mungkin melakukan itu, tidak! Tidaaaak...!"
***
Kembali lagi di kamar yang saat ini Bagas bersama dengan seseorang yang belum di ketahui identitasnya.
Bagas melepaskan ciumannya, perlahan ia curiga dengan wanita yang sedang bersamanya ini.
"Sayang, kenapa kau jadi agresif seperti ini? Kau memakai parfum baru yang lain? Aku tahu bau parfum-mu bukan seperti ini!"
Seseorang itu tetap saja diam, ia tidak pernah mau membuka suara, itu membuat Bagas semakin curiga.
"Sayang, apa ini kau? Tidak baik jika kau menginginkan aku untuk melakukan hal begituan! Kau kan sedang ham..." seketika Bagas menghentikan kalimatnya, ketika ia memegang perut seseorang yang masih ada di atas tubuhnya itu sangat datar.
Bagas membuka kain penutup mata, dan saat ini ia bisa melihat dengan jelas, siapa sosok wanita yang telah membawanya ke sebuah kamar itu.
"Kau?" Bagas terkejut ketika melihat wajah wanita itu, Bagas segera mendorong tubuh wanita itu dengan kasar.
"Beraninya kau!" bentak Bagas pada wanita itu, namu wanita itu sama sekali tidak ketakutan ketika Bagas mengetahui siapa dirinya. Dia tetap terlihat tenang, dengan bibir yang menyeringai.
Siapakah wanita itu? Baca kelanjutan ceritanya sesaat lagi!
.
.
.
Coretan Author:
Yah, thor. Kenapa di kasih konflik lagi? Karena kalau kalian terus di beri cerita menikmati yang uwu-uwu, kalian tidak akan pernah bisa masuk ke dalam cerita ini. Karena sebua cinta dalam novel-pun harus ada perjuangannya, dan kalian harus bisa merasakan perjuangan tokoh dalam sebuah cerita.
Follow ig: windrahma
Like, komen, dan vote juga.
__ADS_1