Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Sakit Jiwa


__ADS_3

Nadira segera menjauhkan tubuh sekretaris Frans dari tubuhnya. Perasaan mereka kini sudah campur aduk tidak karuan. Rasa canggung mengusai diri mereka masing-masing, terutama Nadira. Kini tidak tahu lagi apa yang akan dia lakukan dan apa yang akan sekretaris Frans katakan.


"Sepertinya anda butuh banyak istitahat! Beristirahatlah! Saya permisi!" Nadira beranjak pergi dari sana dengan raut wajah gelisah, salah tingkah.


"Tunggu!" sekretaris Frans mengejar langkah Nadira, namun sialnya kepalanya terasa pusing lagi ketika berdiri.


"Arrgghh.. Kenapa harus ada kejadian seperti ini, sih?" sesal sekretaris Frans, walaupun itu bisa di katakan sebuah anugerah untuknya. Bisa saja itu musibah bagi Nadira.


"Padahal aku sudah membayangkan dia membuatkan aku bubur, menyuapiku, dan di sana akan terjadi sebuah adegan romantis. Sial! Sakitku tidak seindah sakit yang ada di drama thailand yang sering aku tonton setiap malam." sekretaris Frans menggerutu, kenapa juga coba, harus membandingkan kehidupan nyata dengan drama. Ya pasti jauh berbeda, lah.


Akhirnya sekretaris Frans lebih memilih untuk kembali beristirahat di kamarnya seperti yang Nadira katakan tadi. Ia membungkus dirinya dengan selimut tebal karena tubuhnya merasa sangat kedinginan. Beberapa detik kemudian, sekretaris Frans membuka lagi selimut yang menutupi wajahnya itu. Munculah wajahnya dengan aura senang yang terpancar.


"Enak juga ya, rasanya ciuman itu," ujarnya sambil membayangkan kejadian tadi.


"Tidak apa-apa kalau tadi Nadira marah. Kan tidak sengaja. Dia sendiri juga pasti merasakan kenikmatan itu, aku yakin sekali," ujarnya lagi, gila.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera menikah. Usiaku juga sudah cukup, aku tidak mau ketuaan seperti tuan Bagas. Eh, maaf! Tuan merasakan panas tidak ya di telinganya karena aku ngomongin dia?" katanya sambil membungkam mulutnya sendiri karena keceplosan mengejek tuannya.


"Nadira, dari sekian gadis yang aku temui. Hanya kamu yang mampu membuka hatiku kembali, hati yang selama ini aku tutup rapat-rapat dari luka yang mengangga," ujar sekretaris Frans. Ia merasa senang sekaligus sedih. Sedih jika mengingat kejadian di masalalu dengan pengkhianatan kekasihnya, dan senang ketika ada seorang gadis yang mampu mengubah hidupnya untuk melupakan hal itu.


Ketika akan memejamkan matanya, tiba-tiba pintu luar di ketuk kembali oleh seseorang. Ia langsung bangun dengan semangat empat lima, siapa tahu Nadira kembali lagi untuknya. Atau ada sesuatu yang ketinggalan. Hati, misalnya.


Sekretaris Frans bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Begitu ia buka pintu itu, ia di kejutkan oleh seorang pria yang membuatnya ingin marah.


"Dorrr.." Bagas mengejutkan sekretaris Frans ketika pintu di bukakan. Sontak sekretaris Frans hampir terjatuh sambil memegangi dada bidangnya.


"Sayang, tidak boleh begitu! Frans kan sedang sakit, kalau Frans ternyata sakit jantung, bagaimana? Dia bisa mati saat kau mengejutkannya barusan," tegur Rania.


Apa? Mati? Emang pasangan paling pas deh tuan dan nona ini. Sembarangan kalau bicara. Gerutu sekretaris Frans dalam hati.


"Kau yang tidak boleh bicara begitu, sayang! Sekretarisku ini hanya sakit biasa. Kau tidak boleh mendo'akan dia mati segala!"


"Justru kau yang lebih dulu mengejutkannya."


"Kau!"


"Kaaaau.."


"BERHENTIIIIII...!" sekretaris Frans menutup kedua mulut sepasamg suami istri yang sedang beradu mulut di hadapannya.


"Em..em..emm..." Bagas dan Rania kesusahan untuk bicara, dia minta agar sekretaris Frans melepaskan bungkamannya.


"Maaf tuan, nona! Aku sama sekali tidak bermaksud--"


"Gaji bulan ini aku potong lima puluh persen, Frans! Karena sikap kau sudah seenak jidat kepada tuan dan nonamu ini," ancam Bagas karena sekretaris Frans sudah lancang.


"Tapi, tuan--"


"Sudah, ayo masuk!" Bagas menarik lengan Rania untuk masuk ke dalam rumah sekretarisnya itu. Sedangkan sekretaris Frans mematung di ambang pintu.

__ADS_1


Lah, jadi ini tuan rumahnya siapa? Ya aku tahu, sultan mah bebas. Apalah dayaku yang cuma bubuk rengginang ini.


Sekretaris Frans menyusul masuk ke dalam dengan wajah cemberut. Namun selang beberapa detik wajahnya berubah menjadi senang, beberapa detik lagi cemberut lagi. Terus saja begitu. Itu membuat Bagas dan Rania saling menatap karena bingung melihat sikap sekretaris Frans.


Frans ini sakit jiwa kali, ya? Pikir Bagas dan Rania kompak.


"Jangan lupa katakan amit-amit jabang bayi, sayang!" bisik Bagas mengingatkan Rania, ia tidak mau kalau anaknya lahir tidak waras seperti sekretaris Frans.


Rania mengangguk dan segera mengusap perutnya sambil mengatakan amit-amit jabang bayi dengan mulut komat-kamit.


"Frans, saya bawakan buah untukmu. Di makan, ya! Biar cepat sembuh!" ucap Rania meletakkan parsel buah yang di bawanya ke atas meja di hadapan sekretaris Frans.


"Terima kasih banyak, nona!" ucap sekretaris Frans dengan ekpresi wajah yang sama seperti tadi. Itu membuat Rania bergidik sendiri.


"Frans, saya mau numpang ke toilet sebentar. Boleh?" Rania merasa kebelet buang air kecil.


"Tentu saja, nona. Kau lurus saja, nanti belok kanan, sebelah pojok belok kiri!" ujar sekretaris Frans memberi tahu.


"Sayang, aku ke toilet sebentar, ya!" pamit Rania di angguki Bagas. Ia segera pergi dari sana.


Bagas mengamati ekpresi wajah sekretarisnya itu. Wah, sepertinya ia harus segera mencari sekretaris baru. Rupanya sekretarisnya ini sudah mulai tidak waras.


"Bagaimana kondisimu, Frans! Kau sakit apa?" Bagas berusaha membuka percakapan, karena malas jika hanya memandangi wajah sekretaris Frans yang buat ia terus bergidik.


"Kepala saya pusing, badan saya lemas, tuan!" jawab sekretaris Frans sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya. Cemberut, nyengir, crmberut, nyengir.


"Bukan sakit jiwa, kan?"


"Lalu kenapa dengan ekspresi wajahmu? Aku kira kau sudah tidak waras, Frans!" ketus Bagas.


Sekretaris menatap wajah tuannya ini dengan penuh keberanian. "Saya sedang marah pada anda, tuan! Maaf, bukannya saya lancang! Tapi saya berkata jujur dan mengatakan yang sebenarnya."


Bagas mengerutkan kening. Sekretarisnya ini memang benar-benar sudah tidak waras. "Marah? Kenapa kau marah padaku? Oh, apa kau masih kesal dengan ulahku tadi yang mengejutkan dirimu, lalu kau akan mati jika memiliki riwayat penyakit jantung seperti yang di katakan istriku?" Bagas rasa ucapan istrinya itu sungguhan.


"Bukan!" pekik sekretaris Frans.


"Lalu, kenapa kau marah padaku?"


"Kenapa tuan tidak memberitahu saya terlebih dahulu kalau calon istri saya akan datang ke rumah saya? Kenapa tuan bilang kalau tuan yang akan kesini? Kenapa, tuan? Kenapa?" seru sekretaria Frans dengan pertanyaan berbondong-bondong.


"Apa? Calon istri? Hahaha..." Bagas terbahak, sepertinya ia harus segera mencari sekretaris baru untuk pengganti.


Bagas menempelkan punggung tangannya ke kening sekretaris Frans. "Kau demam, Frans! Sepertinya halu-mu terlalu tinggi. Halu tingkat akut. Hahaha.." lagi-lagi Bagas terbahak, senang sekali mengerjai sekretarisnya yang satu ini.


"Tuan, saya serius! Apa kau tahu? Gara-gara kau tidak memberitahu saya kalau calon istri saya akan datang ke rumah saya, saya jadi merasa sangat malu sekali ketika dia datang dan saya hanya menggunakan stelan kolor saja. Mau aku taruh dimana wajah saya ini, tuan?" sekreatris Frans rupanya sudah sangat kesal dengan tuannya ini. Lagi-lagi Bagas menanggapinya dengan tertawa terbahak.


"Hahaha...aku minta maaf, Frans! Salah kau juga, lain kali kalau ada tamu datang pakailah pakaian yang sopan!" Bagas tak henti mentertawakan sekretarisnya.


"Tidak perlu minta maaf, tuan!" ujar sekretaris Frans.

__ADS_1


"Kenapa, Frans? Kau masih marah padaku? Kalau begitu aku tidak jadi memotong gajimu!" goda Bagas untuk menghibur sekretaris Frans.


"Tidak, tuan! Kekesalan saya terhadap anda sudah pudar ketika saya ingin mengucapkan banyak terima kasih pada anda, tuan!" kini raut wajah kesal sekretaris Frans berubah seketika menjadi aura kebahagiaan.


"Sama-sama, Frans! Tenang saja, aku tidak akan memotong gajimu!" Bagas menepuk bahu sekreatris Frans pelan, dua kali.


"Bukan karena itu, tuan!"


Bagas mengerutkan keningnya. "Lalu?"


Sekretaris Frans menengok ke kiri dan ke kanan, menengok ke arah toilet di rumahnya. Aman, tidak ada siapa-siapa selain dirinya dengan Bagas. Sekretaris Frans segera pindah duduk lebih mendekat dengan Bagas.


"Apa, sih?" tanya Bagas merasa risih.


"Jadi begini, tuan. Terima kasih sudah mengutus calon istri saya datang ke rumah saya! Karena berkat dirimu, aku mendapat kenikmatan yang begitu luar biasa?" bisik sekretaris Frans di telinga Bagas, membuat Bagas geli saja.


"Maksudmu?" Bagas masih tidak paham, kenikmatan apa maksudnya.


"Ya begitu, tuan!" sekretaris Frans menaik nurunkan alisnya berulang kali, seperti sedang memberi kode.


"Maksudmu--" Bagas memasukan ibu jarinya ke sela-sela jari di antara telunjuk dan jari tengahnya. "Atau--" Bagas mengungkan jari tengahnya. Menanyakan kenikmatan apa yang di maksud sekretarisnya ini melalui bahasa tubuh.


"Bukan, tuan. Berkat anda, saya tidak sengaja berciuman dengan kakak ipar anda," sekretaris Frans memperjelas.


"Apa?" Bagas ternganga, rasanya tidak mungkin sekretarisnya melakukan ciuman dengan kakak iparnya. Kakak iparnya itu memiliki sifat yang baik, tidak mungkin ia melakukan ciuman dengan sekretarisnya. Tapi balik lagi dengan ucapan sekretaris Frans barusan, 'tidak sengaja'. Tapi kok bisa, sih? Bagas bertanya-tanya.


"Ternyata rasanya mantap sekali, tuan. Kalau tahu begitu, mungkin dari dulu aku akan melakukan hal itu. Sehingga kekasihku dulu tidak harus melakukannya dengan pria lain. Sialan! Kenapa harus membahas pengkhianat itu!" ujarnya.


Bagas masih menatap baik-baik wajah sekretaris Frans. Mengamatinya dengan teliti dan detail. Bentukan seorang sekretaris yang memiliki sifat dingin, tidak pernah mengeluarkan ekpresi kecuali datar ini dapat mengatakan hal itu. Benar, dia sudah tidak waras mulai hari ini.


"Rasanya itu, ah..mantap! Kau ingin tahu bagaimana, tuan? Saya jelaskan biar anda percaya," ujar sekretaris lagi, kali ini ia mempraktekan dengan cara memonyongkan bibirnya ke arah Bagas. Bagas sontak terkejut dan memundurkan tubuhnya. "Begini, tuan!"


"Hentikan, Frans! Hentikan!" Bagas berusaha menjauhkan wajahnya dari bibir monyong sekretaris Frans.


"Begini, tuan!"


"Frans, aku bilang hentikan!" Bagas menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba saja Rania kembali dan berdiri di hadapan mereka.


"Apa yang kalian lakukan?"


Bagas dan sekretaris Frans menoleh, saat ini bibir monyong sekretaris Frans hampir mengenai pipinya. Sedangkan Bagas berusaha menjauhkan tubuh sekretaris Frans darinya. Mereka terkejut ketika Rania datang menyaksikan mereka yang sedang berakting konyol seperti itu.


.


.


.


Coretan Author:

__ADS_1


Follow ig: wind.rahma


Jangan lupa like, dan Vote yang banyak, ya! Nabung poin sebanyak-banyaknya!


__ADS_2