Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Tuan Putri kecil


__ADS_3

"Awassss..." Nadira berteriak ketika melihat ada mobil lewat di pertigaan barusan.


Sekretaris Frans sontak menginjak pedal rem secara mendadak, mobilnya sampai keluar jalur menabrak sebuah tiang rambu lalu lintas di jalan. Itu membuat tubuh siapapun yang ada di dalam mobil terlempar ke depan dengan cukup keras. Itu mengakibatkan kepala sekretaris Frans terbentur keras ke setir mobil. Kepala sekretaris Frans terbenam di sana, bahkan tidak ada yang tahu bagaimana keadaan sekretaris Frans sekarang. Apakah dia baik-baik saja dan hanya benturan biasa, atau mengalami kecelakan yang berakibat fatal untuk sekretaris Frans dan juga keluarga Rania?


Beberapa detik kemudian, sekretaris Frans mengangkat kepalanya. Ia merasa sedikit pusing akibat benturan yang cukup keras ke setir mobil, untungnya dia baik-baik saja.


Sekretaris Frans menoleh ke samping, ia mendapati Nadira sedang meringis kesakitan di bagian dahinya. Ia juga segera menoleh ke belakang untuk memastikan apakah terjadi sesuatu dengan calon mertunya.


Alhamdulillaah, semuanya tidak ada yang mengalami luka serius. Hanya merasakan sedikit pusing di bagian kepala masing-masing saja.


"Maafkan saya! Saya kurang hati-hati jadi saya tidak melihat ada mobil lain yang nelintas," sekretaris Frans merasa sangat ceroboh.


"Tidak, nak Frans. Semua salah saya, saya yang meminta kamu untuk cepat-cepat mengemudikan mobilnya," ucap pak Burhan sambil menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


Tok tok tok..


Kaca mobil samping kemudi di ketuk oleh pak Brahma. Sekretaris Frans segera membukanya.


"Frans, kamu baik-baik saja? Semuanya baik-baik saja?" tanya pak Brahma cemas.


Sekretaris Frans mengangguk. "Alhamdulillaag, semuanya baik-baik saja."


"Lain kali hati-hati. Jangan menyetir sambil melamun, atau kamu menjalankan laju mobil dengan kecepatan tinggi. Kamu bukan hanya membahayakan diri kamu, tapi keluarga menantu saya juga!" tutur Brahma, ia begitu panik tadi ketika melihat sekretaris Frans menabrak rambu lalu lintas jalan.


"Baik, tuan. Saya minta maaf!"


"Ya sudah, kemudikan lagi mobilnya dengan hati-hati!" pak Brahma kembali ke dalam mobilnya.


Sekretaris Frans merasa sangat bersalah. Dia akan lebih di hantui rasa bersalah jika ada salah satu keluarga Rania yang luka akibat kecelakaan hari ini.


***


Setelah pamit untuk pergi memenuhi panggilan Dokter, Bagas kembali ke ruang tempat bersalin Rania dengan membawa putri kecilnya yang sudah di bersihkan tadi.


"Sayang, lihatlah! Putri kita sangat cantik. Sama seperti dirimu," Bagas berjalan mendekat ke ranjang pasien.



Ini pertama kalinya Rania menyentuh putri kecilnya, ia tidak dapat menahan tangis ketika melihat bayi yang selama ini mereka nantikan telah lahir ke dunia. Setitik kristal pun jatuh kedua matanya.


"Dia mirip seperti diriku. Tapi hidungnya mirip kau, sayang!" Rania mencium putri kecilnya dengan penuh cinta dan kasih sayang seorang ibu, ia merasa sangat bahagia sekali.


"Iya, bibirnya mirip kau, mata sebelah kanannya mirip aku, dan mata sebelah kirinya mirip kau juga," ujar Bagas sambil menunjukan satu persatu bagian yang dia sebutkan.


"Hahaha.. Kau ini ada-ada saja," Rania tertawa karena ia tahu kalau Bagas hanya bercanda.


Bagas menatap wajah lelah sang istri, di sana ia melihat semburat kebahagiaan di wajah Rania. Tentu saja Rania sangat bahagia, jika mengingat perjuangannya tadi, antara hidup dan matinya di pertaruhkan, Bagas begitu menghargai perjuangan Rania, sebagai seorang ibu.

__ADS_1


Bagas mengalihkan beberapa anak sulur rambut yang menutupi wajah Rania, dengan sesekali membelainya.


"Sayang, kau istirahat, ya?! Aku tahu kau pasti sangat lelah."


Rania menggeleng cepat. "Tidak, kau salah. Lelahku justru sudah terbayarkan oleh nikmat kebahagiaan kehadiran putri kecil kita," Rania menyelipkan seulas senyum di bibir pucatnya.


Ketika keheningan menyelinap di antara mereka, seseorang tiba-tiba masuk dengan langkah yang tergesa-gesa. Dia adalah bu Sari, langkahnya di susul oleh pak Brahma, Nadira, dan sekretaris Frans.


"Rania, sayang, putriku. Alhamdulillaah, proses persalinan kamu lancar, nak?" bu Sari datang langsung mengahambur memeluk Rania, dan menghujani Rania dengan banyak ciuman di keningnya.


Kekhawatiran bu Sari tidak dapat ia sembunyikan, karena ia tahu betul bagaimana rasanya melahirkan. Apalagi melahirkan anak pertama.


"Alhamdulillaah, bu. Cucu ibu sangat cantik," balas Rania.


"Mana cucu ibu? Ibu mau menggendongnya," bu Sari tidak sadar kalau Bagas sedang menggendong putri kecilnya.


Begitu ia menengok ke belakang, ia langsung mengambil bayi itu dari pangkuan Bagas. "Cucu ibu cantik. Perempuan, ya?"


"Iya, perempuan. Makanya di bilang cantik," jawab Bagas seraya menyerahkan bayi dari pangkuannya secara hati-hati.


"Duh.. Cantiknya..." puji bu Sari, dengan sesekali mencium kening bayi tersebut.


Bu Sari menimang cucunya seperti dulu ia menimang Rania pada saat masih bayi.


"Cucu papa mana? Papa ingin menggendongnya," suara seseorang yang baru saja masuk dengan langkah tergesa-gesa membuat semua orang menoleh. Ternyata dia pak Brahma yang datang terlambat karena tadi dia ada masalah sedikit dengan orang di parkiran.


Pak Brahma melihat bayi sedang di gendong oleh bu Sari, besannya. Ia segera menghampirinya.


"Iya, ayah. Aku baik-baik saja," balas Rania tersenyum.


"Syukurlah, ini bayinya laki-laki atau perempuan?" pak Brahma bertanya pada siapapun yang mau menjawabnya.


"Bayinya cantik, pak," jawab bu Sari.


"Perempuan? Benarkah?" pak Brahma kelihatannya gembira sekali.


"Boleh saya gendong?" pinta pak Brahma pada bu Sari.


"Tentu saja, ini kan cucu kita," bu Sari menyerahkan bayi yang belum di beri nama itu pada besannya.


Pak Brahma menerima bayi itu dengan sangat hati-hati. Karena pak Brahma belum pernah menggendong bayi yang baru lahir seperti ini. Dulu ia baru berani menggendong putra-putrinya ketika sudah berusia dua atau tiga bulanan, karena takut. Dan ini adalah perdana untuknya.


"Manisnya cucu opa," pak Brahma membelai lembut pipi halus nan lembut pipi cucunya.


"Sebenarnya papa tidak mempermasalahkan jenis kelamin. Mau laki-laki atapun perempuan, yang terpenting sehat. Bayi beserta ibunya selamat, itu sudah lebih dari cukup," tutur Brahma, di setujui oleh bu Sari.


"Betul itu, pak. Yang terpenting Rania dan bayinya lahir dengan selamat dan sehat."

__ADS_1


"Selamat ya putra papa, Rania. Kalian saat ini sudah menjadi orang tua," ucap pak Brahma pada putra dan menantunya.


"Terima kasih, pa."


"Terima kasih, ayah," balas mereka.


"Maaf ini, pak. Boleh gantian gendong cucunya? Soalnya sedari tadi saya nunggu giliran," ucapan pak Burhan membuat semua orang tertawa, karena pak Brahma yang anteng memiliki cucunya sendirian.


"Tentu saja, boleh. Saya pikir kalian semua sudah menggendongnya. Maaf, saya terlalu bahagia mempunyai cucu pertama, sampai saya lupa kalau ini juga cucu pertama kalian," pak Brahma menyerahkan bayinya pada pak Burhan.


Pak Burhan segera menerima dan menggendong bayi tersebut. Dia mengamati wajah bayi yang sedang di gendongnya. "Bu, ini kok ada mirip ayah ya?"


Bu Sari tersenyum. "Mungkin wajah ayah terlihat menyebalkan waktu Rania hamil, dan Rania lupa mengatakn amit-amit jabang bayi. Jadi mirip ayah, deh," ujar bu Sari membuat semua orang yang ada di sana tertawa.


"Nadira boleh gendong juga kan, yah? Rania, kakak boleh gendong, ya?"


Rania mengangguk, tentu saja mereka semua yang ada di sana boleh menggendongnya.


"Pelan-pelan, Nad. Kamu kan belum pengalaman punya anak," pak Brahma menyerahkan bayi itu pada Nadira.


"Frans, kau dengar itu? Itu kode keras dari ayah," sindir Bagas, kembali membuat seisi ruangan tertawa.


"Siap, tuan. Saya akan segera menghalalkannya," ucap sekretaris Frans sambil menahan malunya.


"Apa kamu bilang? Halalin? Memangnya putri saya ini haram, jangan kurang ajar kamu kalau bicara!" seru pak Brahma yang sebenarnya hanya bercanda.


"Ma-maaf, maksud saya bukan itu. Saya pasti akan segera menikahi putri anda. Begitu maksudnya," sekretaris Frans terlihat gugup jika bicara dengan calon ayah mertuanya yang satu ini, terlihat menyeramkan baginya.


"Memangnya kamu punya apa, nak Frans?" pak Brahma mencoba mengetesnya.


"Saya punya dua rakaat sebelum subuh, pak. Yang katanya itu melebihi bumi dan seisinya," jawab sekretaris Frans penuh percaya diri, dan mendapatkan tepuk tangan dari semuanya.


Candaan demi candaan, tawa demi tawa yang keluar dari mulut orang-orang yang berkumpul di sana membuat suasana semakin ramai, semakin hangat. Rania merasa sangat beruntung sekali saat ini, di kelilingi oleh orang-orang yang begitu perduli padanya. Orang-orang yang begitu mencintai dan menyayanginya. Ia tidak ingin melewatkan sedetik pun momen seperti itu. Momen yang harus ia simpan baik-baik dalam memori ingatannya. Agar menjadi sejarah yang teramat indah di sepanjang hidupnya.


.


.


.


Coretan Author:


Selamat Bagas dan Rania, sekarang sudah menjadi orang tua dari putri kecil kalian yang sangat cantik. Semoga cepat di beri nama. Dan Rania cepat pulih kembali seperti biasanya.


Pemberitahuan!


Visual sekretaris Frans sudah bisa di lihat di akun youtube saya. Channelnya Windy Rahmawati. Atau kalian bisa cari menggunakan kata Visual sekretaris Frans (TUAN TAJIR). Tonton sekarang juga, jangan lupa untuk subsrcibe!

__ADS_1



Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2