
Disisi lain
Ahem langsung mengerutkan keningnya saat salah satu karyawannya berkata jika Daddy All Zigra tadi berada di perusahaannya menunggu dirinya.
"Daddy kemari?"
tanya Ahem pada perempuan dihadapan nya tersebut.
"Ya tuan"
"Lama?"
"Lumanyan, berkeliling mengunjungi beberapa karyawan, menanyakan soal beberapa hal, naik hingga ke atas kemudian memutuskan untuk turun dan pulang"
jawab perempuan itu cepat.
Ahem terlihat diam untuk beberapa waktu, dia tidak lagi bertanya pada perempuan di hadapannya.
"kembalilah ke ruanganmu"
Ucap ahem kemudian.
dia pikir tumben daddy nya datang tapi tidak menghubunginya sama sekali, laki-laki itu kemudian mencoba untuk meraih handphonenya dan berusaha menghubungi daddy nya.
cukup lama dan beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi laki-laki tersebut, tapi anehnya daddy nya sama sekali tidak mengangkat panggilannya.
__ADS_1
dia mencobanya lagi beberapa kali namun hasilnya tetap nihil, hingga pada akhirnya akhir memutuskan untuk menghentikan panggilannya.
laki-laki tersebut sejenak mengetuk-ngetuk meja kerjanya untuk beberapa waktu, sembari dia berpikir apa ada satu yang salah hingga dirinya langsung pulang tanpa menghubungi dirinya.
I am terlihat menghafal nafasnya untuk beberapa waktu lantas dia menoleh ke arah sisi kaca besar yang ada di hadapannya, laki-laki tersebut mencoba untuk meraih rokoknya dan juga pak mati yang ada di dalam laci meja kerjanya.
dia mencoba untuk meraih satu rokok dan ingin menyulut api di sana, namun tiba-tiba laki-laki tersebut mengurungkan niatnya saat dia ingat apa yang diucapkan oleh seseorang kemarin.
"Jangan membakar uang dengan sia-sia"
pada akhirnya laki-laki itu menurunkan rokoknya Dan meletakkan kembali rokok serta pematik yang ada di tangannya tersebut.
dia mengurungkan niatnya untuk menyesap rokok yang ada di tangannya, memilih untuk berdiri dari posisi duduknya kemudian dia pikir mungkin sebaiknya dia kembali ke Mansion keluarga besar Hillatop.
*******
dua pelayan terlihat menundukkan kepala mereka ke arah Ahem, laki-laki itu terus berjalan masuk ke dalam sembari bertanya tanpa memperhatikan reaksi wajah kedua pelayan tersebut.
"Dimana Mommy?"
dia bertanya sambil terus bergerak ke arah depan, laki-laki itu melepaskan sepatunya dengan cepat lantas menggantinya dengan sandal rumahan.
dua pelayan yang ditanya terlihat saling menoleh antara satu dengan yang lainnya, seolah-olah berpikir dan saling bertanya apa yang harus mereka jawab pada sang tuannya.
mereka takut salah bicara atau bahkan melakukan kesalahan untuk berkata jika tuan besar mereka jatuh dan dikirim ke rumah sakit sore ini.
__ADS_1
mereka memilih membisu tanpa berani menjawab ucapan tuan mudanya.
mendapati pertanyaannya sama sekali tidak dijawab seketika membuat laki-laki tersebut mengerutkan keningnya, dia langsung berbalik dan menghentikan langkahnya menatap kedua pelayan yang tampak menunduk dan takut menatap dirinya.
"Ada apa?"
laki-laki tersebut bertanya sembari menatap satu persatu kedua perempuan yang ada di hadapannya itu.
"apa ada satu hal buruk yang terjadi yang tidak aku ketahui?"
seketika kecurigaan menghantam laki-laki tersebut saat ini, mengingat daddy nya sama sekali tidak mengangkat panggilannya sejak tadi selama berkali-kali.
"Itu...."
salah satu pelayan tanpa bicara dengan ragu-ragu.
"katakan saja jangan menyembunyikannya dariku"
"Tuan...."
salah satu perempuan tersebut mulai berbicara dan mengatakan tentang kondisi Daddy nya.
Ahem seketika membulatkan bola matanya karena terkejut dan di titik berikutnya tanpa berpikir dua tiga kali laki-laki tersebut langsung bergegas berlarian menuju ke arah mobilnya dan bergerak menuju ke arah rumah sakit sembari tangan kanannya meraih handphonenya dan mencoba untuk menghubungi asisten daddy nya Enrico.
Shi..t.
__ADS_1
Umpat Ahem dengan nada yang begitu panik dan takut, kecemasan besar terlihat jelas di balik wajah tampannya, bola mata laki-laki tersebut seketika memerah.
Dad.