Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak

Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak
Tegang menerjang


__ADS_3

Ahem mulai bercerita sembari meneliti bola mata ayah mertuanya dengan seksama, meskipun tidak dipungkiri jantung nya berpacu dengan waktu tapi laki-laki tersebut berusaha untuk setenang mungkin.


Senyuman masih terlihat mengembang dibalik wajah tuan Zuu ketika Ahem mulai bercerita tentang pertemuan mereka, dia dan hayat dalam pertemuan-pertemuan manis dan juga konyol yang terjadi namun tidak pada pertemuan inti di mana Hayat menyentuh miliknya, dia pikir yang itu jelas merupakan aplikasi dan tidak harus dia ceritakan.


laki-laki tua di hadapannya itu beberapa kali terkece yang mendengar cerita yang dijabarkan oleh Ahem, realitanya putrinya memang somplak dan sedikit konyol dalam hidupnya, ayam bukan tipe perempuan yang mau terbebani pada satu pemikiran, gadis itu selalu enjoy pada hidupnya dan dia tidak pernah ingin memikirkan sesuatu yang bisa membuatnya tertekan batin sejak dulu hingga sekarang.


putrinya itu begitu menikmati hidup dan tidak pernah mau ikut campur dengan urusan siapapun, Hayat selalu bergerak seperti angin di sana kembali sesuai kemauannya, lepas, terbang bebas tanpa beban.


"cukup lucu saat dia membiarkan Lucas memberikan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya pada ku kala itu"


dia mengenang bagaimana Hayat menjerumuskan Lucas pada pertanggungjawaban yang seharusnya tidak dilakukan oleh laki-laki tersebut, namun Ahem bersyukur dari sana dia yang tahu dengan Lucas pada akhirnya bubar kesepakatan untuk membuat Hayat masuk ke dalam genggamannya dan membiarkan Lucas melepaskan Hayat pada dirinya kala itu.


"sepertinya aku ingat itu malam kapan, dia keluar rumah mengendap-ngendap bersama Lucas dan membuatku berteriak keluar dari kediaman kami saat aku mendengar suara motor miliknya memecah keheningan malam"


Tuan Zuu ingat kapan masa itu, Hayat dan Lucas masih dalam posisi bertunangan.


"ya dan kesan pertemuan kala itu cukup mengejutkan aku, setelah itu beberapa pertemuan membuatku juga terkejut, ada hal-hal manis dan juga hal-hal yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandanganku daripada Hayat, tanpa aku sadari aku benar-benar jatuh cinta padanya"


laki-laki tersebut terus berucap ke arah tuan Zuu, meyakinkan diri pada laki-laki di hadapannya tersebut dengan sesama.

__ADS_1


"aku menggali informasi dengan sangat dalam hingga pada akhirnya aku mengetahui soal kenyataan pada masa lalu"


Dan ketika laki-laki tersebut bicara seperti itu seketika membuat tuan Zuu mengerutkan keningnya.


"Rupanya Hayat adalah gadis yang aku cari selama belasan tahun yang lalu, dia merupakan cinta pertamaku yang tidak bisa aku lupakan sama sekali"


Ahem berkata dengan begitu mantap, membiarkan netra nya bertemu dengan Laki-laki tua dihadapan nya tersebut, bersiap dengan jutaan kemungkinan yang akan terjadi berikutnya.


"Cinta pertama?"


Ayah mertuanya bertanya sambil menautkan alisnya, dia masih mengerutkan keningnya dalam jutaan tanda tanya.


Nyonya Bii terlihat mulai gelisah, dia memejamkan sejenak bola matanya, mencoba untuk menetralisir detak jantung nya.


"ini cukup membuatku sedikit bingung, kamu di mana mengenal putriku sebelumnya?"


pada akhirnya laki-laki tersebut bertanya dengan ada yang cukup penasaran.


"aku mengenalnya di Indonesia, kemudian kami bertemu di Paris, lantas tanpa sengaja bertemu lagi di Manhattan hingga pada akhirnya tanpa sengaja kami berada di tempat yang sama di Swiss, melewati banyak hal untuk saling menggenggam erat tangan antara satu dengan yang lainnya"

__ADS_1


Dan saat Ahem berkata seperti itu seketika tuan Zuu membulatkan bola matanya, tidak tahu kenapa tapi seolah-olah ada aliran listrik yang langsung menghentak atas kepalanya menyambung koneksi terbesarnya sehingga dia menebak dengan cepat siapa sosok yang ada di hadapannya.


"Zigaz Hillatop?"


dua kalimat tersebut meluncur dari balik bibirnya, wajah laki-laki tersebut seketika berubah.


Nyonya Bii berusaha mendekati suaminya, mencoba untuk menjadi temeng terbaik jika suaminya melampaui batasan nya.


"Ya, itu adalah aku, paman"


Bagaikan tersambar petir di siang hari, tuan Zuu seketika mengeratkan rahangnya, dia langsung menggenggam erat gelas kopi yang ada ditangan nya.


Krakkkkk.


Saking kencangnya pegangan tersebut, bisa didengar suara retak gelas tersebut ditangan kokoh dan besar laki-laki tersebut.


No.


Nyonya Bii menggelengkan pelan kepala nya.

__ADS_1


__ADS_2