
Apartemen Hayat.
"Papa dan mama kapan tiba?"
Wajah Hayat terlihat pucat tanpa dandanan, membuat Zuu menaikkan ujung alisnya ketika dia melihat putrinya saat ini.
"kamu tampak terlihat sedikit kacau, semalam tidur dimana? kenapa tidak tidur di apartemen?"
laki-laki tua itu bertanya dengan cepat sembari mendekati putrinya.
"maafkan aku pa aku tidur di rumah teman, ada acara pernikahan yang kuhadiri kemarin bersama teman-teman, karena sudah terlalu malam aku pikir lebih baik menginap di salah satu rumah teman, jika aku tahu papa dan mama datang aku tentu saja memilih pulang"
perempuan itu membuat sebuah pembelaan untuk dirinya sendiri, menatap laki-laki tua di hadapannya dengan tatapan sedikit khawatir.
"kenapa papa dan mama tidak menghubungiku lebih dulu?"
dia bertanya sambil memeluk dan mencium papa nya.
Tuan Zuu hanya tersenyum, dia menyentuh hangat kepala putri nya dengan cepat.
"Sengaja ingin membuat kejutan"
jawab laki-laki tersebut cepat kemudian membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Papa juga akan memeriksa kesehatan papa selagi disini, akan pergi ke rumah sakit siang ini sebentar setelah itu baru mengunjungi kakak mu"
Tuan Zuu bergerak menuju ke arah dapur secara perlahan diikuti oleh Hayat dengan cepat, mama Bii tampak memberikan kode dan bertanya apa semalam baik-baik saja.
Hayat menganggukkan kepalanya.
"biar aku yang buatkan papa kopi, duduklah "
perempuan itu menawarkan diri dengan cepat, dia tahu papa nya tidak suka merepotkan orang lain, bahkan tidak pernah mau membuat mama nya terlalu sibuk karena dirinya.
laki-laki tersebut selalu melakukan hal-hal sendiri, bahkan terkadang Papa nya lebih suka bergerak membuat kan mama nya dan dia sarapan setiap kali weekend tiba, papa Zuu type laki-laki unik sejuta 1 menurutnya.
"biarkan papa yang membuatnya sayang"
"biarkan aku membuatnya kali ini dan papa cukup duduk manis bersama mama"
pada akhirnya taun Zuu menurut, dia memilih duduk tepat di samping istrinya dan menunggu putrinya membuatkannya teh hangat.
"hati-hati dengan gerakanmu sayang, airnya panas dan hati-hati dengan jemari-jemarimu"
laki-laki itu selalu mengingatkan putrinya, seolah-olah takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada bagian-bagian tubuh Putri kesayangannya tersebut.
Tuan Zuu selalu melindungi Hayat dengan caranya, apalagi setelah peristiwa masa lalu di mana dia hampir kehilangan putrinya, terkadang dia terlihat sedikit over protektif dan membatasi pergerakan perempuan tersebut tanpa dia sadari.
__ADS_1
Naluri seorang ayah yang tidak bisa dia buang dimana dia selalu berpikir untuk melindungi putrinya itu.
"yes pa, jangan khawatir soal apapun"
perempuan tersebut menjawab cepat sembari jemari jemarinya dengan cekatan membuatkan teh untuk laki-laki tersebut dan juga untuk mamanya.
Tuan Zuu menunggu dengan sabar, memperhatikan pergerakan putrinya tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali.
cukup lama hingga akhirnya bisa dia lihat Hayat telah selesai dengan pekerjaannya, perempuan itu menyuguhkan masing-masing segelas teh hangat untuk papa dan mamanya, kemudian dia meraih teh hangat miliknya juga lantas duduk tepat di hadapan papanya.
mereka menikmati secangkir teh dan beberapa toples cookie 🍪 yang ada di atas meja.
"katakan pada papa"
tiba-tiba saja tuan Zuu bicara sembari menatap dalam wajah putrinya.
Hayat tengah menghirup tehnya.
"apa yang terjadi padamu dan Lucas hingga laki-laki itu membatalkan pernikahan kalian?"
begitu pertanyaan tersebut keluar dari bibir papanya seketika membuat Hayat terkejut dan terbatuk-batuk.
"Uhuk....uhuk....Ya?"
__ADS_1
perempuan itu jelas saja menegang diikuti oleh nyonya Bii yang masih menoleh ke arah suaminya.