Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak

Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak
tidak berharap itu gadis pilihan nya


__ADS_3

"Aku juga terkejut saat bibi masih mengingat nama masa kecilku"


Ahem bicara seperti itu dengan begitu tenang sembari menatap wajah nyonya Alexander, di belakang Ahem seketika hayat membeku dan wajahnya menegang saat dia mendengar Ahem berkata jika Zigaz adalah nama masa kecilnya.


seolah-olah sekelaban ingatan dan bayangan di masa lalu menghantam dirinya ketika nama tersebut disebutkan oleh laki-laki itu kepada nyonya Alexander.


suara saling bersahutan dan juga ribuan kepingan ingatan dimana terdapat luapan air bah yang nyaris menenggelamkan dirinya diiringi teriakan demi teriakan yang terdengar, arus air yang semakin lama menderas juga tangan yang saling berpegangan terus bergerak melintas di antara ingatan Hayat saat ini.


gadis tersebut seketika menutup kedua belah telinganya, jutaan ketakutan menghantam diri.


sedangkan di depan saya nyonya Alexander dan Ahem masih terus berbicara.


"kau membuat ku sedikit khawatir dengan kedatangan mu ke Indonesia"


wanita itu bicara sambil tertawa getir meskipun tidak dipungkiri dia menatap Ahem dengan penuh kekhawatiran.


"aku pikir kejadian di masa lalu seharusnya tidak lagi menjadikan kamu begitu marah dengan keluarga Alexander, karena realitanya itu semua bukan kesalahan keluarga Alexander."


Ucap wanita itu dengan cepat berharap laki-laki yang tidak ada di hadapannya itu tidak mengingat lagi tentang peristiwa masa lalu yang menciptakan banyak kerugian di antara kedua belah pihak.


"Karena itu kedatanganmu ke Indonesia bukan untuk mengacaukan beberapa hal di antara kita bukan?"

__ADS_1


Tanya wanita tersebut pelan.


"aku pikir aku bukan anak kecil yang harus memendam dendam atas peristiwa yang telah berlalu, kita bisa saling menyapa dan saling melupakan tentang kejadian yang lalu.


Ahem menjawab dengan cepat ucapan dari wanita yang ada di hadapannya tersebut.


"itu bagus aku senang mendengarnya."


Seketika nyonya Alexander bicara sambil menghela nafasnya tenang.


"tapi kamu belum menjawab pertanyaanku apakah itu adalah Hayat, calon menantuku?"


Mendengar pertanyaan wanita dihadapan nya, Ahem tampak menaikkan ujung bibirnya sembari menatap wajah wanita yang ada di hadapannya itu.


"Bibi bisa melihatnya sendiri.


Ahem menggeser tubuhnya secara perlahan kemudian membiarkan nyonya Alexander untuk melihat ke arah belakang.


Nyonya Alexander berharap jika yang ada di belakang Ahem bukanlah Hayat, tapi bayangkan bagaimana ekspresi wanita paruh bayar lebih tersebut ketika dia melihat siapa yang ada di belakang laki-laki tersebut saat ini, bola wanita tersebut membulat dan wajahnya seketika mengeluarkan ekspresi ketakutan, percayalah satu kekhawatiran menghantam diri nya dan tiba-tiba berbagai macam kemungkinan semakin bergelayut di dalam hatinya.


"Sayang kenapa kamu berada di sini?"

__ADS_1


saat nyonya Alexander mempertanyakan keberadaannya, Hayat berusaha untuk menekan kesadarannya, rasa pusing dan juga perasaan yang tidak dia pahami menghantamnya menjadi satu saat ini seolah-olah dia ingin bertanya kenapa nyonya Alexander memanggil Ahem dengan nama Zigaz.


namun alih-alih bisa mempertanyakan hal tersebut, bibir Hayat seolah-olah terkunci dan kesadarannya kini bergerak menipis dan dja mulai kehilangan kesadaran nya.


Bakkkkkk.


gadis itu pingsan tiba-tiba hingga membuat nyonya Alexander dan juga Ahem terkejut setengah mati.


"Hayattttt"


laki-laki itu berteriak panik.


nyonya Alexander ingin menyambar tubuh Hayat namun realitanya dia jauh kalah cepat dari Ahem yang berteriak histeris dan langsung menyambar tubuh gadis itu dengan gerakan yang begitu spontan dan di luar pemikirannya baru kali ini dia melihat seorang Ahem Zigaz Hillatop terlihat histeris hanya karena seorang perempuan.


No...tidak mungkin.


wanita tersebut menggelengkan kepalanya.


Jangan pernah laki-laki penerus Hillatop menginginkan calon menantunya.


Itu yang ada didalam pikiran nya.

__ADS_1


__ADS_2