Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak

Tuan Dingin Jatuh Cinta With Miss Somplak
Kemarahan yang luar biasa


__ADS_3

Dan demi apapun situasi benar-benar menjadi panas, alih-alih mendengarkan istrinya atau mampu menetralisir emosi nya,tuan Zuu berdiri dari posisi nya, bergerak mendekati Ahem dan menarik kasar kerah baju Ahem.


"No... sayang...ini bukan dirumah"


Nyonya Bii panik, menahan lengan suaminya yang bergerak menarik kerah baju Ahem, perpaduan tubuh yang sama-sama tinggi membuat kedua orang tersebut berdiri dengan cara yang cukup sejajar, tatapan bola mata tuan Zuu memancarkan kemarahan luar biasa, jika ada senjata api bisa dipastikan dia akan menarik pelatuk nya sekarang juga tanpa mau menundanya, memecahkan kepala Ahem atas perkataan nya barusan.


Ayah mana yang tidak akan marah mendengar nya, dibalik benar atau tidak atau ini sekedar ancaman untuk nya, tapi tuan Zuu yang jelas tidak bisa menetralisir kemarahan nya, emosinya meledak-ledak tanpa ada obat nya, meskipun di siram dengan air es dari kutub Utara sekalipun, pada akhirnya tidak mampir meredam bara api yang menyala di hati laki-laki tersebut.


"Kau...bilang apa barusan?"


Suara awalnya masih terdengar mengeram,masih tertahan dan masih cukup mampu diredam dimana kedua tangan tuan Zuu semakin kencang menggenggam erat kerah pakaian Ahem.


seolah-olah laki-laki tersebut siap mencekik leher putra tertua Hillatop saat ini juga.

__ADS_1


"Kau bilang apa barusan?"


Untuk kedua kalinya dia bertanya, tapi kali ini nada suara laki-laki tua tersebut meninggi, saking kencangnya mungkin melewati batas langit cakrawala, pecah memekakkan telinga, membuat siapapun yang mendengarnya terdiam.


Untungnya restoran tersebut telah di booking sengaja seluruh nya oleh Ahem pada teman nya, sang pemilik adalah salah satu relasi bisnisnya, sengaja melakukan hal tersebut untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi.


Ahem selalu mengantisipasi, dia bergerak tenang dan tidak gegabah, punya banyak perhitungan dan tahu apa yang harus dilakukan.


"Menikah dan hamil? apa kau bercanda? apa kau bicara masih dibawah akal sehat mu?"


"Kami menikah di Paris 3 bulan yang lalu saat Hayat mengaku mengambil liburan disana"


Ahem bicara dengan nada tenang, membiarkan laki-laki dihadapan nya terus menggenggam erat kerah leher pakaian nya, membiarkan laki-laki tua di hadapan nya tersebut melampiaskan kemarahannya, bahkan dia sudah menyiapkan diri di hantam dengan bogem mentah sekalipun karena dia tahu ayah mana yang tidak akan marah saat tahu soal kenyataan putri nya.

__ADS_1


Tuan Zuu merasa darah nya benar-benar mendidih saat ini,dia begitu marah dan tanpa berpikir dua tiga kali...


Bugggggggg


"Akhhhh"


Satu bogem mentah benar-benar melesat di pipi Ahem, nyonya Bii langsung berteriak histeris, meraih tubuh suaminya agar tidak menghantam Ahem untuk kedua kalinya.


Ahem merasa wajahnya kebas, begitu berat dan sakit, cukup nyeri dan sesuatu yang asin terasa, darah masuk ke mulut nya dari pinggir bibir nya.


"Zuu...kau melukai Ahem, Zuu lihat mata ku please, sayang"


Nyonya Bii memeluk suaminya dari belakang dimana tuan Zuu kembali berusaha melesatkan bogem mentah nya sekali lagi, Ahem sama sekali tidak menghindar atau mencoba untuk melindungi diri, dia diam, membiarkan ayah mertuanya menghantam dirinya sekali lagi, dia membiarkan laki-laki yang membesarkan istrinya tersebut melampiaskan kemarahannya kepada dirinya.

__ADS_1


Tuan Zuu bersiap melesatkan tinju nya sekali lagi dimana Ahem terlihat memejamkan bola matanya sambil menghela pelan nafasnya.


__ADS_2