
Begitu matahari merekah Ahem bergerak cepat membawa Hayat menuju ke arah mansion lain Hillatop, posisi nya tidak di pusat kota, lebih berada pada pinggiran kota yang cukup terisolasi dan tidak banyak orang yang berlalu lalang disekitar nya.
Wajah laki-laki tersebut menegang disepanjang perjalanan, tapi terus berusaha tersenyum menatap wajah Hayat.
Gadis itu diam, berusaha menggenggam erat telapak tangan Ahem untuk beberapa waktu.
Dia tidak memiliki banyak keluarga, jadi bagi Hayat tidak ada banyak konflik yang pernah dia lihat dalam hubungan persaudaraan, dia dan kakak nya bergerak datar dengan cerita yang nyaris sama, besar, sekolah, kuliah, mengurusi perusahaan dan hanya seperti itu.
Tapi benar kata orang, perubahan terbesar kehidupan seseorang ketika mereka mengenal cinta, seperti kakak nya yang punya kisah sendiri bersama istri nya sebelum mereka menikah dulu dan Hayat mulai terombang-ambing dalam kisah nya ketika mengenal Ahem.
Cinta bisa membawa mu entah berkelana kemana dan melewati kesulitan macam apa.
Dan pagi ini.....
"Kakak?!"
begitu tiba di sebuah Mansion yang belum pernah mereka kunjungi, Hayat mendengar teriakan histeris dari lantai atas, Ahem mendongakkan kepalanya, menatap kelantai atas dengan wajah menegang.
Hayat kenal suara tersebut.
Itu adalah suara Freya, kembaran Nadine,adik perempuan Ahem.
Ahem berlarian kencang menuju kearah tangga, bergerak cepat melesat naik menuju kearah lantai atas dimana teriakan terdengar memecah keheningan pagi, Hayat ikut bergerak berlarian dengan panik, dia pikir apakah hal buruk terjadi?!.
"Gao?"
Suara lain terdengar di lantai atas, sedikit samar-samar tidak sekencang suara Freya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Lagi terdengar suara laki-laki lain yang di penuhi dengan api kemarahan.
Ahem bergerak semakin cepat menuju kearah kamar atas.
"Sayang no..."
Hayat membeku, itu suara Ayana, sahabat baik nya. Jika ada Ayana maka ada Gao, dan jika ada Freya maka suara siapa selanjutnya?!.
"Kakak...."
Lagi suara memekik penuh kehisterisan terdengar.
brakkkkkkk.
pintu di buka Ahem dengan kasar, laki-laki tersebut menyeruak masuk diikuti Hayat dibelakang nya.
"What the hell?"
Ahem berteriak cepat, mencoba bertanya apa yang terjadi.
"Hahhh Ya Tuhan?"
Hayat seketika menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan nya, demi apapun kini dia paham kenapa semua orang berkumpul di dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Freya?!.
Hayat membeku,seolah-olah tahu apa yang terjadi saat bola mata nya tanpa sengaja menatap sosok Freya yang terlihat begitu berantakan, ada Zoe disana, laki-laki yang di angkat sejak usia kecil oleh keluarga Hillatop untuk menjadi anak mereka.
Hayat mendengar cerita itu dari Nadine, jika Zoe menjadi putra kesayangan nyonya Nadya menggantikan putra mereka yang meninggal karena satu peristiwa di Thailand dimasa lalu.
Lalu dua orang yang jelas telah di anggap sebagai saudara, berada didalam kamar yang sama dalam keadaan kacau balau di atas kasur mendominasi berwarna putih yang jelas tidak baik-baik saja.
Hayat secepat kilat mendekati Freya dan menarik gadis itu kekamar mandi agar menggunakan pakaian nya.
Ahem seketika mencoba melerai Gao yang menggila memukul Zoe.
"Gao...Gao..."
"Breng..sek...kau lihat apa yang dia lakukan pada Frey?"
Pekik Gao penuh kemarahan.
"Aku sudah mulai curiga dengan tingkah laku nya sejak beberapa Minggu yang lalu"
Pekik laki-laki itu penuh kekesalan.
"Gao berfikir lah dengan tenang, come menghajar Zoe bukan jalan pengeluaran yang bijak"
Ahem berusaha menengahi, menahan tubuh Gao, bibir Zoe terlihat mengeluarkan darah segar nya.
Seharusnya dia datang 20 menit lebih awal dari seharusnya setelah menerima informasi nya tadi.
Ayana istri Gao terlihat panik, mencoba memegang tubuh suami nya.
Alih-alih mendengar kan kedua orang itu Gao mencoba untuk kembali memukul kembali Zoe, laki-laki itu mencoba memutar tubuhnya, menghindari Ahem dan ingin kembali memukul Zoe.
"Gao.... no.... "
Ayana seketika menangis histeris, menahan dan memeluk Gao dari depan, dia menahan tubuh laki-laki itu sekuat tenaga nya.
"Please....please..."
Dia terlihat gemetaran.
Ini kali pertama dia melihat Gao memukul Seseorang tepat dihadapan nya.
"Kamu membuat ku takut"
Ayana kembali Bicara sambil terisak.
Mendengar istri nya menangis Secepat kilat emosi laki-laki itu mereda, satu-satunya kelemahan Gao adalah Ayana, seolah-olah perempuan itu adalah Titik kelemahan nya.
"Sayang..."
Gao langsung menyentuh wajah perempuan itu.
"Kamu menakuti aku, bukan kah kita pernah membuat kesepakatan untuk berlaku bijaksana saat menghadapi sebuah permasalahan? kekerasan bukan pemecahan sebuah permasalahan kan?."
__ADS_1
Ucap istri nya sambil menatap dalam bola mata nya.
Gao sejenak menelan salivanya.
"Tapi kamu lihat apa yang terjadi barusan? mereka...oh god"
Gao Tampak mencoba menahan perasaan nya
Dia marah, sangat marah saat kedua orang itu berada di atas kasur yang sama, kedua saudara nya hanya menggunakan dalaman mereka saja, bahkan Freya ada di atas tubuh Zoe, gadis kecil nya ada di atas Zoe, Laki-laki yang benar-benar telah di anggap saudara kandung nya sendiri.
"Zoe mengkhianati kami"
Ucap Gao lagi.
Ahem terlihat memerintahkan Zoe untuk menggunakan pakaian nya, bola mata laki-laki itu secepat kilat mencari sosok Freya.
Bisa dia lihat adik kecil nya telah berganti pakaian, keluar dari kamar mandi sambil mencoba berlindung di Balik tubuh Hayat.
"Kemarilah"
Ucap Ahem pada Freya, dia mencoba meredam banyak emosi dan rasa di hati nya,dia anak tertua selalu diperintah kan menjadi penengah dan pendingin di antara para saudaranya, mengalah bahkan mencoba untuk tidak menggunakan pemikiran rumit nya, meskipun sulit itu sudah menjadi tanggung jawab untuk anak tertua, terkadang terdengar tidak adil, tapi itu menjadi tanggung jawab mutlak untuk anak tertua di keluarga manapun, menekan sifat egois dan berusaha mencari solusi terbaik dari banyak persolan yang melanda.
"Kak..."
Freya menggenggam erat bahu Hayat, mencoba terus Berlindung dibalik tubuh sahabat baiknya itu.
"Ini bukan salah Freya, ini semua salah ku"
Zoe bicara cepat setelah menggunakan pakaian nya, bergerak cepat meraih tubuh Freya.
"Kalian bisa membunuh ku karena ini semua kesalahan ku, tapi aku benar-benar mencintai Freya, maafkan aku"
Ucap laki-laki itu lagi sambil menatap semua orang satu persatu.
"Aku benar-benar minta maaf"
Lanjut nya lagi sambil berusaha menggenggam erat telapak tangan Freya.
"Apa?"
Tanya Gao sambil menaikkan ujung alisnya, dia menghela kasar nafas nya, berusaha mengendurkan kerah pakaiannya dan ingin sekali kembali menghajar Zoe karena ucapan nya barusan.
"Aku sudah tahu itu"
Ahem bicara cepat sambil balik menatap Zoe.
Mendengar ucapan Ahem, seketika Gao menoleh ke arah laki-laki itu.
"Kau bilang apa?"
Dia jelas terkejut mendengar ucapan saudara tertua nya itu.
"Apa kau bercanda?"
__ADS_1