
Mansion utama Ahem dan Hayat
Kamar tidur utama.
Sejenak bola mata Ahem menatap kearah Hayat yang terlihat terlelap didalam tidurnya, sang istri terlihat melelap kan lebih dulu dirinya karena lelah nya.
Laki-laki tersebut sejenak merapatkan tubuhnya, memilih untuk memeluk istrinya dari belakang, tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya, Ahem membiarkan dirinya tenggelam pada aroma lembut istrinya, mendekap perempuan tersebut dengan kehangatan nya.
Sejenak dia menenggelamkan dirinya pada Hayat, berniat untuk ikut terlelap beberapa waktu setelah rasa lelah menghantam dirinya namun suara getaran dari handphone nya seketika mengganggu dirinya.
Laki-laki tersebut sejenak melirik kearah nakas kecil yang ada di di sisi kiri kasur mereka, mengintip sebentar dan berharap jika suara getaran tersebut akan menghilang seiring berjalannya waktu.
Namun rupanya getaran tersebut terus menghantarkan suara di sepanjang kamar mereka saat ini.
Pada akhirnya Ahem secara perlahan beringsut, Memilih untuk bergerak turun dari kasurnya, menyambar handphone nya dengan cepat.
Sejenak dia mengerutkan keningnya, menatap baik-baik nama yang melakukan panggilan pada dirinya.
Laki-laki tersebut bergerak menjauh, memilih menepi di teras kamar dengan cepat.
"Ma?"
Dia menjawab dengan cepat.
__ADS_1
"Ada apa?"
Bertanya cukup penasaran saat tahu siapa yang menghubungi nya, mama Hayat, Bii.
Dia mendengarkan baik-baik jawaban di seberang sana.
"Mama sudah bicara dengan Papa kalian"
Ada nada khawatir yang dilesatkan oleh mama mertua nya, dia tahu ada nada khawatir yang terdengar di seberang sana.
"Itu bagus ma, kapan Kalian akan datang?"
Laki-laki tersebut kembali bertanya, cukup senang mendapatkan satu berita, dia pada akhirnya mendapatkan satu berita baik, akan segera bertemu dengan mertua laki-lakinya.
Laki-laki sejati adalah laki-laki yang mampu menghadapi segala resiko dan tantangan hidup nya, bergerak cepat menghadapi segala nya dan tidak lari dari kenyataan.
Terlalu banyak laki-laki yang tiap kali memiliki masalah mereka lari tanpa berani mempertanggungjawabkan perbuatannya, realitanya laki-laki baik selalu tahu dimana menempatkan masalah mereka di atas kepentingan semua.
"Papa kalian bilang akhir minggu ini berencana pergi ke Jakarta"
Jawaban disana terdengar melegakan, semakin cepat maka semakin baik untuk dirinya.
"Itu bagus, aku akan menunggu disini"
__ADS_1
Laki-laki tersebut menjawab mantap.
"Ahem"
Wanita diseberang sana buru-buru bicara, menyiratkan satu kekhawatiran mendalam dari nada bicara nya.
"Apa kamu yakin harus bicara secepat ini? Mama pikir..."
Dia bicara ragu-ragu, terlalu khawatir atas keputusan menantu nya sejak kemarin, menghadapi suaminya soal hal sensitif jelas tidak mudah, apa lagi ini siap putri kesayangannya, jelas tidak semudah membalik telapak tangan, dia tahu ini jelas terasa berat, mengangkat senjata bukan hal asing untuk Zuu ketika dia ingin menyingkir sesuatu yang di anggap menyakiti orang-orang yang dia cintai.
Laki-laki tersebut hanya terlalu lama cuti dari dunia gelap dan mafia-mafia'an, tapi tidak menjamin jika Zuu tidak akan kembali mengangkat pistol nya jika dia merasa keadaan terjepit dan mengancam dirinya apalagi yang ada hubungannya dengan nama Hillatop didalam keluarga Azzurra.
"Mama tidak yakin semua akan berjalan seperti yang kamu inginkan"
Lagi wanita tersebut bicara dalam ambang kekhawatir.
"Biarkan kami bertemu ma, jangan khawatirkan soal apapun, saat bertemu dan setelah nya itu akan menjadi tanggung jawab ku"
Ahem menjawab cepat, tidak ada sedikitpun pintu kekhawatiran Lewat didalam dirinya, dia menatap semilir angin sepoi-sepoi yang menyapu pepohonan di sekitar mansion milik nya tersebut, menatap kearah depan dengan tatapan lurus tanpa mengedipkan bola matanya.
"Semua akan baik-baik saja"
Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
__ADS_1