
Restoran xxxxxxxx
Pusat kota
dihari yang berbeda.
Hayat Bergerak masuk dengan cepat kearah restoran yang ada dihadapan nya, memilih naik ke lantai atas dengan gerakan cepat tanpa berpikir dua tiga kali karena dia tahu suaminya tengah menunggu di lantai atas di dalam ruangan tertutup.
restoran Jepang yang jelas menjadi pilihan mereka saat ini setiap kali mereka bertemu mengingat kedua ayah mereka tengah berada di Paris dan belum juga kembali ke Indonesia.
begitu mendapati ruangan di mana ahem berada perempuan tersebut langsung masuk ke dalam ruangan itu dengan gerakan cepat.
Ahem terlihat mengembangkan senyumannya ketika dia melihat sang istrinya telah berada tepat dihadapannya dan kini duduk di depannya.
"kita akan kembali ke Indonesia setelah daddy kembali, sepertinya kesepakatan pernikahan antara Nadine dan azlan akan disepakati"
Ahem bicara sembari tangan nya menuangkan minum ke gelas Hayat, laki-laki tersebut bercerita soal saudara perempuannya, di mana peliknya hubungan percintaan Nadine dan tunangannya hingga pertukaran pernikahan yang terjadi.
"Kamu terlibat banyak untuk membantu mereka"
Hayat bicara sambil mengembang kan senyuman nya.
__ADS_1
"Aku sulit mengabaikan adik-adik ku hmmm, mungkin ini disebut sebagai naluri seorang kakak, aku benar-benar kesulitan untuk mengabaikan mereka dan tidak membantu mereka sama sekali"
Ahem menjawab dengan cepat sembari dia mulai menyesap minumannya.
"biarkan keluarga menyepakati pernikahan Nadine Dan Azlan lebih dulu, aku ingin urusan Zee dan Freya juga sedikit diberikan waktu lenggang, Ayana dan Gao mungkin akan melewati 7 bulanan mereka di Indonesia mengingat saat ini usia kandungan adik ipar mulai membesar"
kali ini laki-laki tersebut mulai untuk merancang strategi soal kapan sebenarnya waktu yang paling tepat untuk jujur soal hubungan mereka dan tidak lagi melakukan sembunyi-sembunyi.
"Kondisi kesehatan daddy tidak terbilang baik-baik saja, setelah peristiwa yang menimpa Gao di mana laki-laki itu masuk pada masa kritis sebelum menikah, daddy harus menghadapi peristiwa soal calon menantunya dari kekasih Nadine yang rupanya orang yang berbahaya hingga menukar pernikahan karena ancaman dari Azlan Del Piero jelas membuat daddy tidak baik-baik saja kondisi kestabilan jantung dan pikirannya, kita tidak bisa menghantam Dedi dengan peristiwa secara runtun yang mungkin akan membahayakan kesehatannya"
lanjut laki-laki itu lagi sembari meyakinkan Hayat.
dia tidak ingin berlarut-larut dalam hubungan penuh kebohongan di belakang semua orang, baginya pernikahan tanpa diketahui oleh orang-orang membuat dia sulit berjalan di depan, dia benci hubungan seperti itu ketika dia tidak bisa memamerkan siapa istrinya dan pasangannya, dan Ahem pikir dia tidak mungkin menunda satu hal penting lainnya yang sejak dulu mungkin diinginkan oleh dirinya dan juga oleh pasangan siapapun dan di manapun berada.
mendengar ucapan Ahem seketika membuat Hayat mengulum senyumannya.
"aku pasti sabar menunggu, tidak ingin tergesa-gesa dalam membuat keputusan karena meyakinkan daddy Zuu juga pasti tidak semudah membalikan telapak tangan"
perempuan itu mulai bicara dari pihak keluarganya.
"saat ini kita memang butuh waktu untuk merangkai semuanya"
__ADS_1
Hayat melanjutkan kata-katanya.
Ahem terlihat mengganggukan kepalanya kemudian laki-laki tersebut berkata.
"mungkin aku akan bertahan untuk tidak bicara setelah pernikahan Nadine Dan azlan, setelah itu aku akan bicara tentang hubungan kita pada daddy tapi aku ingin kamu melakukan sesuatu hal untuk ku"
tiba-tiba saja Ahem bicara dengan begitu serius kepada dirinya.
Hayat terlihat mengerutkan keningnya.
"Soal?"
tanya perempuan itu dengan cepat.
"Mari tidak menunda kehamilan"
tambah laki-laki itu kemudian dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
"Ya? bukankah..."
Hayat jelas saja sedikit keberatan, tidak menunda kehamilan akan mempersulit keadaan kedepannya itu yang ada didalam pikiran nya.
__ADS_1
"tidak menunda kehamilan ini akan semakin mempermudah hubungan kita"
dan sepertinya Ahem memiliki rencana lain dalam hubungan mereka untuk mendapatkan restu dari semua orang.