
Ahem melesat cepat membawa Hayat pergi menuju ke arah ruang unit gawat darurat dan mengabaikan nyonya Alexander yang menatapnya dengan penuh kebingungan, sedangkan nyonya Alexander sendiri tidak berani mengejar langkah, menatap bingung ke arah putra tertua Hillatop tersebut dengan jutaan tanda tanya yang menghantam dirinya.
begitu tiba di ruang unit gawat darurat Ahem berteriak histeris meminta para dokter untuk melihat apa yang terjadi pada hayat, laki-laki tersebut tidak pernah sepanik ini dalam seumur hidupnya dan hal ini jelas membuat dia seperti orang gila.
beberapa dokter bergerak dengan cepat saat melihat laki-laki tersebut mengeluarkan suara penuh kemarahannya seolah berkata jika gadis yang ada di dalam genggamannya yang ada di dalam pangkuannya tersebut tidak baik-baik saja.
semua tim dokter dengan cepat bergerak untuk melakukan penyelamatan pertama tanpa berpikir dua tiga kali.
"Anda bisa menunggu di luar tuan"
satu dokter berkata dengan cepat kemudian langsung menutup pintu ruang unit gawat darurat.
sejuta ketakutan menghantam Ahem, jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini yang jelas tidak baik-baik saja.
laki-laki tersebut memilih mundur dan membiarkan pintu ruangan di hadapannya tertutup hingga pada akhirnya dia memilih duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut.
dalam satu kali 24 jam ia harus menerima kenyataan dua orang yang dia sayangi tumbang begitu saja.
laki-laki tersebut memilih diam, tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, tidak memberitahukan atau bahkan berniat untuk bicara pada siapapun tentang kondisi Hayat sekarang ini.
dia mencoba berkata di dalam hati jika semua baik-baik saja.
*****
__ADS_1
Beberapa waktu setelah semuanya.
kamar rawat inap.
Bola mata Ahem terus mengatakan gadis yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, bisa dilihat Ahem masih terlelap di dalam tidurnya setelah masa jatuh pingsannya tadi.
dia cukup lega tidak ada hal serius yang terjadi, hanya kelelahan dan juga ada efek trauma yang masih tersisa di dalam jembatan ya.
Trauma?!.
laki-laki tersebut duduk tepat di samping ranjang di mana Hayat berbaring, memilih meraih tangan gadis tersebut secara perlahan dan matanya ke wajahnya.
dingin.
"Maaf"
Ucap nya lirih.
Ahem menghela nafasnya sejenak, setelah itu secara perlahan laki-laki tersebut membuka kembali bola matanya.
dia kembali menatap wajah Hayat sembari tangan kanannya secara perlahan mengelus lembut pipi gadis yang ada di hadapannya tersebut.
hingga pada akhirnya secara perlahan bisa dirasakan pergerakan yang dilakukan oleh gadis yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Ahem menunggu Hayat membuka bola matanya dengan tatapan ekspresi wajah penuh kecemasan.
Hayat sendiri pada akhirnya secara perlahan membuka bola matanya, terasa berat bagi nya, di area kepalanya terasa berdenyut-denyut menghantam kepalanya, begitu bola matanya terbuka dia cukup terkejut karena dia mendapati seorang laki-laki yang sangat dia kenal tanpa menatapnya dengan ekspresi wajah begitu cemas.
"Sunshine?"
mendengar pertanyaan dari Hayat seketika membuat Ahem menganggukkan kepalanya.
"apa Ada yang sakit?"
Laki-laki tersebut bertanya dengan cepat.
Hayat buru-buru menggelengkan kepalanya.
"tidak ada, jangan khawatir."
gadis tersebut seperti nya sadar jika dia tadi jatuh pingsan, tapi dia memilih diam dan tidak bertanya sama sekali pada laki-laki dihadapan nya tersebut.
setelah itu mereka terlihat berdiam diri dan tidak bicara antara satu dengan yang lainnya hingga akhirnya Hayat bertanya.
"Apa sejak awal kamu sudah tahu jika aku adalah gadis itu?"
bola mata gadis tersebut menelisik bola mata Ahem untuk beberapa waktu dan dia meyakini Jika sejak awal Ahem pasti mengenali nya dengan baik dan hanya dia yang tidak bisa mengenali Ahem lagi dengan baik seperti di masa lalu.
__ADS_1