
Disepanjang perjalanan bisa Ahem lihat Hayat memejamkan bola matanya, meskipun dia tahu sesungguhnya istri nya tidak benar-benar terlelap, Hayat hanya berusaha menetralisir perasaan nya, memejamkan bola matanya agar air mata nya tidak tumpah, agar dada nya tidak bergemuruh dan tangisan nya tidak kembali pecah.
Dia tahu mungkin dia datang diwaktu yang tidak tepat, Ahem memiliki rencana berbeda, membiarkan tubuhnya lebam dan babak belur kemudian bicara pada papa nya, tapi realitanya dia tahu dia tidak mungkin sanggup mendengar dari ruangan sebelah ketika laki-laki tua yang dihormati tersebut menghadiahkan pukulan kerasnya pada suaminya.
Satu sisi Ahem adalah suaminya, satu sisi nya lagi Zuu jelas adalah daddy nya, dia bagaimana bisa menahan semuanya, apalagi kemarahan daddy nya yang meledak-ledak tanpa bisa dikendalikan terdengar dengan jelas dari ruangan sebelah, Hayat pikir saat dia berkata begitu mungkin dia bisa mendinginkan sedikit situasi tapi nyatanya dia malah mengacaukan segalanya, dia benar-benar mengacaukan segalanya.
"Maafkan aku..."
Hayat bicara dengan suara bergetar, masih memejamkan bola matanya, air mata Perempuan tersebut kembali mengalir begitu saja tanpa bisa dia tahan.
__ADS_1
Ahem diam, menggenggam erat telapak tangan istrinya dimana satu tangan nya terlihat terus mengendalikan stir mobilnya, mereka sebentar lagi tiba di kediaman Ahem, hanya satu belokan langsung masuk ke halaman mansion mereka.
"Ini bukan salah kamu sayang"
hanya kata-kata itu yang bisa Ahem lontarkan untuk Hayat, tak ada kalimat yang tepat dan pas yang bisa dia ucapkan saat ini, karena dia tahu Hayat tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"menangislah karena tak ada larangan dalam menangis, kamu bisa meluapkan semua kesedihan kepadaku karena sedikit banyak aku juga bersalah kepadamu"
Bisa dia lihat bagaimana ekspresi wajah perempuan tersebut, Hayat menatap kearah Ahem, dan di detik berikutnya seketika kembali tangis Hayat pecah, dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya, yang jelas mengingat ucapan papa nya membuat hati Hayat hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Laki-laki tersebut mencoret nya dari daftar nama keluarga bahkan tidak lagi ingin mengakui dirinya sebagai putri nya lagi.
melihat istrinya menangis seketika Ahem langsung memeluk Hayat dengan cepat, membiarkan perempuan tersebut menenggelamkan dirinya pada dada Ahem didalam mobil tersebut, meskipun dia tahu posisi mereka sulit, tapi dia berusaha untuk membuat istrinya masuk pada posisi nyaman nya.
bisa dia dengarkan tangisan pilu dari Hayat, berulang kali dia mendengarkan isakan tangis perempuan tersebut di mana bisa dia pahami ada jutaan kekecewaan dan juga rasa terluka di balik tangisan itu, Ahem hanya mampu memeluk hayat dan mengelus lembut puncak kepala istrinya, sesekali dia mengelus lambut punggung istrinya, membiarkan haid merupakan seluruh kekecewaan dan kesedihannya.
tidak tahu berapa lama waktu berlalu yang jelas Hayat terus menumpahkan kesedihan nya di dalam pelukan Ahem.
hingga pada akhirnya perempuan tersebut menghentikan tangisannya secara perlahan, hanya terdengar isakan kecil yang sesekali terjadi, bisa dirasakan istrinya mulai lelah dan secara perlahan tenggelam ke alam mimpinya persis seperti anak kecil yang sudah melampiaskan seluruh kesedihan dan kekecewaannya lantas tertidur dengan menyisakan isakan tangis yang jelas enggan terhenti.
__ADS_1
Ahem pada akhirnya secara perlahan membenahi tubuh istrinya, dia kemudian dengan gerakan yang begitu lembut bergeser dan keluar dari dalam mobilnya, laki-laki itu mulai bergerak menuju ke arah pintu di mana istrinya terlelap, membuka pintu tersebut kemudian dengan gerakan yang begitu perlahan memasukkan Hayat kedalaman gendongan nya, dia membawa Perempuan itu masuk kekediaman mereka tanpa banyak bicara.